Cinta Gadis Dingin

Cinta Gadis Dingin
" maafkan aku nay....."


__ADS_3

Seorang wanita dengan tinggi di atas rata rata seorang wanita normal nampak menyembul dari pintu yang terbuka.


Ia tampak mengenakan celana jeans yang pas di paha dan kaki jenjangnya, di padukan dengan the shirt warna khaki dan kemeja yang nampak kedodoran di tubuhnya, hingga menutup kesan sexy di tubunya karena memakai the shirt pres body serta di padukan dengan sepatu high hels yang tidak terlalu tinggi yang semakin menampikan kesan exclusive namun simpel pada wanita cantik itu.


" mbak laura..." desis nayra dengan mata berbinar, ya wanita cantik itu adalah kakak perempuan yandi satu satunya karena mereka yang hanya dua bersaudara.


Setelah masuk dan menyalami sang mama laura segera memeluk nayra dengan sangat eratnya, sungguh ia tak mampu menahan kesedihan di hatinya demi melihat wanita dalam pelukannya itu kini.


Bagaimana mungkin tubuh sekecil dan seringkih ini mampu menahan beban yang begitu besarnya, ia tampak begitu tegar dan tenang meski dia kehilangan dua orang yang berarti dalam hidupnya sekaligus dalam waktu bersamaan...kehilangan sang suami dan calon anak mereka.


Ya...laura sudah mengetehui segalanya dari kris


" maafkan aku..." bisiknya kemudian di telinga nayra


" tak apa mbk..." jawab nayra pelan.


Segala tindak tanduk kakak yandi itu sungguh membuat tubuh salah seorang pria di sana membeku dan seakan kerongkongannya tercekat untuk hanya menelan ludahnya sendiri.


Pria itu adalah Edo, edo laksa pradya sang pengawal pribadi adik laki laki laura satu satunya.


Edo memang memiliki perasaan yang lebih terhadap laura sejak pertama kali mereka bertemu di tempat tinggal yandi di Australia. Laura yang waktu itu sengaja mendatangi sang adik yang tengah menuntut ilmu disana bersama dengan dirinya juga kris.


Sejak hari itu ia tak mampu menahan perasaan tertariknya pada laura. Namun sayang ia tak cukup memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.

__ADS_1


Jangankan berani untuk menyatakan perasaannya, untuk menyapanya saja ia tidak berani karena ia merasa siapalah dirinya tanpa bantuan seorang yandi. Ia hanya mampu memperhatikan laura dari jauh jika mereka sedang dalam waktu dan tempat yang sama.... juga lebih memilih memendam perasaannya dalam diam dalam kurun waktu yang sudah cukup lama tanpa ada seorangpun yang tahu termasuk juga yandi dan kris. Seringkali ia merasakan tubuhnya yang bergetar dan membeku setiap kali berdekatan dengan laura, seperti sekarang ini misalnya.


Tubuhnya yang membeku dan gemetar hanya mampu ia tahan matia matian sambil sesekali mencuri curi pandang sedikit pada laura di sana.


Hingga suatu hari ia mendengar berita pernikahan laura dengan seorang putera pengusaha kaya berdarah tionghoa dari percakapan yandi dan kris yang tidak sengaja terdengar olehnya, liam thjahya sasmitra. Hingga dirinya mencoba mengubur perasaannya dalam dalam hingga ia merasa sangat terpuruk.


" maafkan aku.....sungguh aku minta maaf, jika mungkin ini ada kaitannya dengan..." laura seakan tak mampu melanjutkan kata katanya


" mbak.....!! " nayrapun seakan tak mampu berkata kata lebih jelas, karena ia merasa ada hati yang harus ia jaga.


" jangan khawatirkan aku nay....lakukan yang harus kau lakukan..." lanjut laura kemudian


" mbak laura..." sekali lagi nayra menyebut nama kakak iparnya itu lagi


" aku baik baik saja nay..." bisik laura lagi di telinga nayra.


" nayra...maafkan aku, aku harus segera kembali ke singapur, keadaan papa..."


" ada apa dengan papa...?! " nayra bertanya dengan sedikit terkejut


" sayang..maafkan mama, mama tidak bermaksud membohongimu. Tapi keadaanmu tidak memumgkinkan mama untuk jujur tentang keadaan papa.." giliran mama yandi menjelaskan pada nyra


" papa sangat terpukul akan kepergian yandi dan calon anak kalian, dia anfal....mama juga harus segera kembali kesana..." tambah wanita baya itu sembari memeluk tubuh ringkih nayra dengan erat.

__ADS_1


Sementara itu di belahan bumi lainnya.


tepatnya di sebuah ruangan yang di lapisi kaca di sekelilingnya,


Tampak sesosok tubuh yang di penuhi dengan berbagai peralatan medis untuk menunjang kehidupannya terbujur tak berdaya diatas sebuah tempat tidur yang di rancang senyaman mungkin untukya.


Di luar ruangan itu juga terlihat seorang wanita


yang hampir seluruh wajahnya terbalut kain kasa putih sedang duduk diatas kursi roda terus memperhatikan tubuh yang terbaring di dalam ruangan kaca itu.


Di belakangnya nampak beberapa orang berdiri dengan mengenakan seragam paramedis.


" nona...jangan terlalu lama di sini.." bisik salah satu orang itu pada wanita di kursi roda itu


" anda juga harus menstabilkan stamina anda paska operasi wajah anda..." lanjutnya kemudia


" hmmmm....aku mengerti, bagaimana keadaannya ?! " tanya wanita itu. Seorang dari mereka maju mendekat


" dia belum melewati masa kritisnya nona..."


" ini sudah cukup lama....kenapa bisa begitu ?! " tanyanya lagi dengan nada sedikit keras


" luka yang di alami cukup parah nona...kita harus sabar..."

__ADS_1


" lakukan yang terbaik...aku tidak ingin mendengar kegagalan..." bentaknya


" baik nona..." jawab mereka dengan serempak.


__ADS_2