Cinta Gadis Dingin

Cinta Gadis Dingin
memaafkan


__ADS_3

Maritha terus bersimpuh di hadapan Yandi dan Nayra, Nayra sangat tidak tega melihat wanita yang perutnya sudah terlihat membesar itu terus bersimpuh dengan bahu yang naik turun tanda ia menahan tangis.


Nayra turut melorotkan tubuhnya kebawah di hadapan Maritha membuat wanita itu menggeleng, melarang Nayra melakukan itu. sedang Yandi....mata pria itu membulat sempurna demi melihat sang istri yang juga turut berjongkok di hadapan wanita yang ia anggap wanita ular itu.


" yang ...turuti perintah ku,berdiri jangan berjongkok seperti itu...kamu bisa kram perut nanti. kau...bawa wanita ini keluar dari rumahku. Aku tahu dia hanya sedang berdrama saja " sungut Yandi sambil menuding kearah Jacob.


" Yan.....jangan bicara begitu, tuan Jacob adalah suami Maritha " Nayra memberitahu Yandi


" ok ok....kamu bangun sekarang yang, jangan ikut ikutan dia jongkok begitu, aku gak mau ya kamu dan anak ku kenapa kenapa lagi karena wanita itu " omel Yandi lagi sambil memegang bahu sang istri agar segera berdiri.


Hati yandi bagai teriris sembilu melihat Nayra turut berjongkok di bawah sana.


Beberapa menit kemudian Maritha merasa kedua lengan atasnya dipegang dan di bimbing untuk berdiri.


Ia menoleh, ia melihat Nayra di sisi kirinya dan Bunga di sisi kanannya tersenyum tipis padanya.


Kedua wanita itu membawa Maritha duduk di sofa.


" kau hamil berapa bulan ?! " tanya Bunga sambil mengelus perut yang sudah membesar itu, hatinya sedikit bergetar mengingat kedekatan mereka dulu.


Maritha menatap Bunga sejenak.


" tujuh bulan " jawab Maritha


" tujuh bulan...segede ini ?! " Nayra dan Bunga tak mampu menutupi keterkejutannya, mereka seketika membayangkan kehamilan mereka sendiri.


" dia kembar " jawab Maritha lagi membuat Nayra dan Bunga semakin terkejut dan menutup mulut mereka.


" MasyaAllah Maritha....senangnya jadi kamu " ucap Nayra spontan.


" cih....gak nyangka, wanita jahat sepertimu masih di sayang Tuhan, sekalinya hamil langsung dapat dua. Sedang istriku...dua kali hamil masih mau dapat satu aja " Cibir Yandi dari seberang sofa sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


" Yan..." Nayra menoleh dengan tatapan tak suka pada ucapan Yandi barusan.


Yandi yang medapat teguran itu hanya melengos mengalihkan pandangannya ketempat lain.

__ADS_1


Jacob turut duduk di sofa sambil terus memperhatikan kondisi Maritha. Pasalnya ia sangat khawatir pada sang istri karena sebenarnya Maritha sedang dalam masa perawatan.


" sayang...kau tidak apa apa ? " tanya Jacob melihat wajah Marith sedikit pucat, tapi wanita itu menggeleng. Ada sedikit bahagia terselip dihatinya mengingat ia kini duduk di apit Nayra dan juga Bunga.


Bagaimanapun juga, ia merasa telah berbuat banyak dosa dan banyak menyakiti kedua wanita di kedua sisinya itu.


" ada apa dengannya tuan Jacob....apa kehamilannya bermasalah ?! " tanya Bunga membuat Jacob menghela nafa


" tidak....tidak ada masalah, aku baik baik saja " Maritha menjawab dengan cepat.


" tapi wajahmu pucat Tha " kata Nayra menolehkah wajah Maritha kearahnya membuat keduanya saling pandang sejenak.


" hei hei hei....kau jangan melihat istriku seperti itu ya " Yandi seketika bersuara keras melihat dua wanita di hadapannya itu saling pandang.


" apaan sih....." kali ini Nayra benar benar gemas pada Yandi hingga ia melempar tatapan ketus padanya.


" kau tahu aku tak pernah punya banyak teman, lalu sekarang...ketika aku akan punya teman, kau mau merecokinya ?! " omel Nayra dengan wajah tak enak dipandang mata bagi Yandi, dan kalau sudah begini Yandi hanya akan mengalah dan menghembuskan nafas frustasi yang memicu senyum tersungging di bibir Kris untuknya.


" setan lo...." umpat Yandi kembali melempar bantal pada Kris,


Tadinya Jacob menolak karena ia merasa khawatir terhadap Maritha, namun Maritha memaksa minta ditinggalkan karena ingin berbincang dengan sesama wanita hamil.


Jadilah sekarang di ruang utama itu hanya ada tiga orang wanita cantik yang tengah hamil. Maritha yang telah sangat terlihat perutnya paling besar, lalu Bunga yang sedikit membuncit. Dan Nayra yang perutnya paling rata.


" aku senang...akhirnya kau memilih menerima Tuan Jacob " Nayra berkata sambil tersenyum


" maaf...aku sudah banyak salah sama kalian, aku sudah banyak menyakiti kalian " sekali lagi kata kata itu keluar dari mulut Maritha dengan suara yang terdengar bergetar.


" sudahlah....bukan hanya kau yang salah, di sini mungkin aku juga bersalah, andai aku tak berada di antara kalian " jawab Nayra.


" tidak...aku saja yang tidak peka, meski kau tidak hadir di antara kami, aku yakin pasti akan ada Nayra Nayra lain selain kamu. Karena aku sadar...Yandi hanya menganggapku sebagai sahabatnya saja dan Tidak lebih, sayang aku terlambat menyadarinya " ungkap Maritha penuh penyesalan.


" kamu juga Nga...maafkan aku " sambung Maritha lagi dengan mata yang berkaca kaca, masih segar diingatannya bagaimana ia mengirim foto palsu antara dirinya dan Yandi untuk membuat wanita itu sakit hati dan akhirnya memilih pergi karena merasa di khianati.


Sungguh kejam dirinya di masa lalu, hanya karena cinta yang nyata nyata hanya bertepuk sebelah tangan dirinya mampu mengorbankan segalanya, menyakiti banyak orang dan memanfaatkan banyak orang. Egois memang.

__ADS_1


" sudahlah...lupakan masa lalu, mari kita bangun persahabatan saja, bagaimana ?! " tanya Bunga


" apa kau mau berteman denganku Tha ?! " tanya Nayra merasa insecure. Ia sadar dua orang wanita di hadapanya ialah putri para pengusaha, sedang dirinya hanya putri seorang pegawai pemerintahn saja.


" apa kau sedang menyindir ku Nay ....?! " giliran Maritha bertanya, ketiganya berpelukan. Jauh di lubuk hati Maritha paling dalam ia sungguh memuji kebesaran hati seorang Nayra Azzahwa Alzahrani.


Jika saja dirinya yang berada di posisi Nayra belum tentu dirinya akan memberi maaf atau bahkan memberi kesempatan. Dirinya mungkin akan membalas berkali kali lipat kesakitan yang ia rasakan.


Sungguh suasana telah mencair, Maritha menyadari...Nayra sungguhlah wanita yang menyenangkan. Mungkin itulah sebabnya Bunga lebih memilih bersahabat dengan Nayra dan begitu setia berdiri di samping wanita bercadar itu.


Dalam hati Maritha menyesali perbuatannya di masa lalu. Cinta benar benar telah membuat mata hatinya buta.


" apa jenis kelaminnya ?! " tanya Bunga


" laki laki semua " jawab Maritha dengan rona malu


" sama, aku juga laki laki...tapi gak pake semua, cuma satu " jawab Bunga di sambut tawa ketiga wanita itu.


" kamu Nay ?! " giliran Maritha mencoba bertanya untuk mengakrabkan diri pada wanita bercadar itu.


Nayra tersenyum geli menyadari kecanggungan dalam pertanyaan yang di lontarkan Maritha padanya.


" belum tahu...baru dua bulan " jawab Nayra, tiba tiba Maritha kembali tertunduk


" maafkan aku " kembali Maritha terdengar menyesal


" andai kecelakaan itu tak terjadi, mungkin anak kamu udah besar sekarang. Dan pasti anak kamu bukan masih akan satu " tambah Maritha lagi


" sudahlah Tha...itu sudah takdirku, belum rejekiku. Lagi pula kau tak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan itu , kau hanya membawanya ketika kecelakaan telah terjadi " jawab Nayra berusaha menenangkan Maritha yang kembali terlihat cemas dan khawatir.


Memang benar, Maritha tidak ada sangkut pautnya dalam perencanaan kecelakaan itu. Dirinya hanya datang setelah kecelakaan terjadi dan dirinya hanya mengambil kesempatan dalam kesempitan saja.


Tak terasa waktu berlalu seakan begitu cepat, hari telah menjelang malam, setelah drama pemaksaan yang dilakukan Nayra terhadapa Maritha agar mau makan malam bersama sebelum pulang.


Akhirnya Maritha pun meninggalkan rumah besar Yandi dan Nayra meski dengan hati yang sedikit ragu dan cemas karena Yandi tak mau berucap apapun padanya.

__ADS_1


Entah mau memaafkan atau tidak pria jangkung itu terhadap dirinya, Maritha tak mampu menebaknya karena ia yang memang tak di beri kesempatan sedikitpun oleh Yandi tadi untuk mengkonfirmasinya.


__ADS_2