
Pagi yang cerah, mungkin sedang di rasakan sebagian besar orang. Namun berbeda dengan beberapa orang berpenampilan rapi di sebuah gedung berkantoran.
Aura ketegangan sangat kentara dan terasa mencekam di sana, di sebuah ruang pengendali aiti yang terletak di lantai tertinggi gedung itu.
Seorang pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan gagah di usianya yang tak lagi muda, tampak sekali terlihat ketegangan di wajahnya.
Sesekali ia tampak menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Sesekali juga ia nampak memasukkan kedua tangannya kedalam kedua saku celananya.
Matanya terus menatap kearah beberapa layar monitor yang sedang di operasikan tim ahli aitinya di hadapannya. Layar monitor yang menampilkan grafik pertumbuhan saham perusahaannya yang tiba tiba anjlok di line hampir 50 %.
" sejak kapan ini terjadi Leo ?! " pria itu bertanya dengan tetap menatap layar monitor itu kepada orang kepercayaannya.
" dini hari tadi tuan..sekitar pukul dua " jawab Leo.
Pria paruh baya itu memejamkan mata sejenak.
Siapa yang sudah mampu menembus basis pertahanan perlindungan jaringan perusahaannya yang di buat berlapis lapis, hampir satu dekade ia mengambil alih kepemimpinan perusahaan ini meski tak turun tangan langsung, ini adalah yang pertama kalinya jaringan keamanan perusahaannya berhasil di bobol.
Sekali lagi pria itu mengehela nafas sedikit lega, meski sedikit ia melihat grafik pertumbuhan saham miliknya mulai naik.
Bersamaan dengan itu seseorang datang menghadapnya. Ia yang tak lain adalah sekretaris pribadinya.
" permisi tuan Mahyong..." dengan sopan sekretaris pria itu menyapa pria paruh baya itu.
" hmmm..." jawab pria baya itu.
" maaf tuan ada yang ingin bertemu dengan anda "
" aku..?! " pria baya itu sedikit tak percaya dengan yang ia dengar. Ia menoleh dengan cepat kearah sekretarisnya itu sembari menuding dirinya sendiri.
Pasalnya, selama ini tak ada yang mencari dirinya langsung jika menyangkut urusan perusahaan karena memang jarang yang tahu jika ia adalah pemilik sah perusahaan ini. Karena ia yang lebih memilih hanya berada dan bekerja di belakang layar.
Mengenai kepengurusan dan administrasi perusahaan ia percayakan pada leo asisten pribadinya juga puguh.
" iya tuan...anda " sekretarisnya itu meyakinkan lagi ucapannya.
Tuan Mahyong menatap sejenak kearah Leo namun pria itu memberi kode jawaban tak tahu apa apa. Dengan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" ok tunggu sebentar, dimana dia "
" diruangan anda tuan "
" apa.... !? " Mahyong semakin terpekik mendengarnya, bagaimana bisa tamu itu menunggunya di ruangannya.
" dia bilang, anda dan dia adalah kawan lama dan sudah membuat janji sebelumnya " jawab sekretaris itu membuat tuan Mahyong juga Leo mengerutkan keningnya.
Tuan Mahyong memutuskan meninggalkan tempat itu dan menemui tamunya setelah meyakinkan dirinya tadi dengan melihat adanya pertumbunan lagi grafik saham miliknya di pasar bursa saham.
Degan diikuti Leo dan beberapa staf khusus perusahannya, tuan Mahyong melangkah menuju ruangan kantornya.
sesampainya disana ia segera membuka pintu ruangannya sendiri.
Begitu pintu terbuka ia melihat seorang pria tampan juga tinggi dengan rahang yang kuat, alis yang hitam tebal melukiskan ketampanan khas seorang pria pribumi.
Pria itu duduk dengan menaikkan satu kakinya diatas kaki lainnya dengan kedua lengan tangannya yang memanjang di kedua samping tubuhnya dia atas sandaran sofa.
Sungguh menampilkan kesan keangkuhan dan kesombongan yang mendominasi dari pria itu.
Di belakangnya berdiri enam orang pria berbadan tegap juga berwajah tampan yang tiga diantaranya sangat ia kenali. Kris, Edo dan Rexy.
" Yandi...dia selamat " desis tuan Mahyong dengan berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
" selamat pagi menjelang siang paman Hendra...ups sepertinya aku mengenalmu dengan nama lain paman " sapa Yandi tiba tiba menyambut kedatangan pemilik ruangan itu sebenarnya.
" bagaimana kabarmu paman...lama kita tak bertemu, kau tampak semakin tua dari umurmu paman,kau juga terlihat lebih tua sejak kita terakhir kali bertemu " Yandi tersenyum miring tanpa mengubah posisinya sedikitpun.
Tuan Mahyong menghela nafas berat, sepertinya bocah tengil di hadapannya itu telah mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya.
" jangan terlalu memforsir otakmu untuk membuat rencana rencana busuk agar bisa menghancurkan keluargaku paman, kau hanya akan membuang buang waktu dan tenagamu sia sia " lanjut Yandi tanpa mengharap balasan jawaban dari pria yang masih setia berdiri di hadapannya bersama antek anteknya itu.
" kau suka kejutan dariku ini paman ?! Ayolah paman kita lama tak bertemu, aku juga sudah repot repot meluangkan waktuku untuk jauh jauh datang kesini sekedar ingin memberi salam padamu " Yandi terus mengoceh sendirian.
" oh ya paman, papa mengirim salam padamu sekalian bertanya apa kau suka hadiah dari papaku pagi ini ?! " sekali lagi Yandi berkata sambil memiringkan bibirnya.
" kau...apa maksudmu ?! " kali ini kata kata Yandi suskes menyulut kemarahan Tuan Mahyong.
__ADS_1
" kata papa, kau sudah mencuri terlalu banyak dari kami, hari ini kami hanya ingin sedikit mengambilnya kembali " Yandi berkata sambil berdiri, dan melangkah mendekat kearah lawan bicaranya yang nampak telah merah padam dan seakan tak mampu menjawab setiap ucapannya.
" apa kau sudah menemukan donatur untuk pabrik obat obatanmu, atau kau sudah mendapatkan bahan baku campuran obat obatan ilegal mu itu " Yandi berbisik di telinga pria paruh baya itu dan semakin membuat wajah pria baya itu semakin merah padam menahan amarah.
Tuan Mahyong sungguh bagai tertampar, bagaimana bahan baku untuk memproduksi obat obatan miliknya di ketahui pria di hadapannya itu.
Memang dirinya tidak memakai obat obatan terlarang untuk memproduksi obat obatannya. Tapi bahan baku obat yang ia produksi ialah bahan yang tidak boleh sembarangan pemakaiannya atau dalam kata lain belum di sahkan oleh pemerintah.
Yandi berlagak membersihkan sesuatu pada pundak tuan Mahyong.
" jaga putra mu itu, jangan berkhayal terlalu tinggi tentang istriku. Aku tidak segan segan meluluh lantakkan seluruh tulangnya bahkan membuatnya menjadi manusia lumpuh jika ia masih berani mendekati istriku. Camkan itu....jika aku bisa mengobrak abrik sahammu maka bukan hal yang sulit bagiku menghancurkan perusahaanmu. Aku bukan Yandi yang kau kenal dulu tuan....Mahyong " kata Yandi sambil menyeringai. Ia membenarkan kancing jaznya dan melangkah keluar di ikuti enam orang di belakangnya.
Namun tiba tiba Yandi menghentikan langkah kakinya ketika ekor matanya menangkap bayangan seseorang yang ia kenal berdiri di sana, di antara orang orang yang datang bersama tuan Mahyong.
Puguh...ya pria yang dilirik oleh Yandi ialah Puguh.
" aku kira papaku memelihara seekor anjing penjaga, tak tahunya papaku malah memelihara seekor anjing penggigit " ucapnya dengan lantang
" oh ya...hampir saja aku lupa menyampaikan pesan papaku, luangkan sedikit waktu anda tuan Mahyong untuk bertemu dengan papaku, jangan bersembunyi lagi. Tapi meski jika kau bersembunyi itu pastilah akan sia sia. Jika kami bisa mengetahui bisnis ilegalmu yang kau sembunyikan apa kau pikir kami tak akan bisa hanya menemukanmu ?! " ancam Yandi lagi
" jika selama ini kau berhasil membodohi kami, itu hanya karena kecerobohan kami. Camkan itu baik baik " Yandi kembali menyeringai sembari melanjutkan langkahnya meninggalkan orang orang yang tengah dalam keadaan penuh amarah namun tak tahu harus bagaimana melampiaskannya.
Apalagi Hendra Kurniawan, pria paruh baya itu hanya mampu mengepalkan erat tangannya tanpa mampu berkata apa apa.
Begitupun yang tengah di rasakan Puguh yang berdiri tak berapa jauh di belakangnya.
Sungguh ia melihat sosok yang berbeda dari sosok Yandi sekarang dengan empat tiga tahun lalu.
Yandi benar benar sudah berubah, dia semakin tampak arrogant dan lebih mirip dengan seorang mafia dari pada seorang presdir yang santun seperti empat tahun lalu, pikir Puguh sedikit ngeri mengingat seringai musterius pria jangkung itu.
Masih segar di ingatannya bagaimana sopannya perlakuan pria muda itu sekembalinya ia dan asisten pribadinya kepada semua orang apalagi kepada yang lebih tua dari Australia.
Apa tinggal di Kanada tiga tahun benar benar telah merubah pria tampan itu menjadi seorang mafia.
Ataukah desas desus yang ia dengar tentang ekspedisi yang selalu tak pernah gagal dalam menjalankan pengirimannya baik itu pengiriman barang barang legal ataupun ilegal benar milik Yandi.
Mengingat tiga orang pria asing yang pernah ia lihat di dermaga beberapa waktu yang lalu saat ia berusaha menggagalkan sebuah pengiriman perusahaan ekspedisi itu yang ada hubungannya dengan Interval. Company di gagalkan tiga orang yang kini terlihat bersama Yandi.
__ADS_1
Interval. Company adalah perusahaan yang di pimpin Wirhahadi Aditya Rachman yang berpusat di Australia, itulah sebabnya kenapa Puguh ingin menggagalkan proses pengiriman hasil produksi perusahaan itu untuk di distribusikan ke Papua dengan menggunakan jasa Ekspedisi yang didirikan Yandi diam diam saat masih dengan nama Renald Revaldy Gautam dahulu.