Cinta Gadis Dingin

Cinta Gadis Dingin
sedikit lelah


__ADS_3

Bunga duduk di sofa sembari memeriksa beberapa berkas tentang penggarapan beberapa proyek karena tender tender yang mereka menangkan.


Nayra sendiri nampak sedang mengamati layar laptop di hadapannya.


Keduanya kini telah terfokus pada Yara co dan Yara Fashion Colection.


Nayra semakin menjadi wanita dingin tak tersentuh, tak akan ada banyak kata yang keluar dari mulutnya selain masalah yang memang sedang dalam pembahasan. Selebihnya ia akan memilih diam dan membiarkan Bunga mengambil alih komunikasi. Tak ada basa basi pada dirinya kepada selain keluarga dan orang orang terdekatnya.


Kenan memilih kembali kepada bisnisnya meski ia terus memantau wanita itu.


Berbeda dengan William, pria itu semakin berani menampilkan dirinya sebagai pendamping Nayra, dan Nayra meski kerap beberapa kali ia menolak perhatian William yang membuatnya tak nyaman namun ia sadari, keberadaan William di sampingnya tak kan mampu ia hindari dan juga karena nayra mengakui keberadaan William mampu menyingkirkan mereka mereka yang berusaha mendekat kepadanya.


Pernikahan Bunga dan Kris telah di langsungkan beberapa bulan yang lalu, kini Nayra seringkali sendiri di rumah besar peninggalan sang suami bersama bi Surti yang setia menemaninya juga beberapa pelayan.


" kita harus menghadiri rapat pembahasan proyek jembatan layang nay..." kata Bunga sembari masih memeriksa berkas di tangannya.


" kapan jadwalnya....?! " tanya Nayra


" dua hari lagi, ah...syukurlah aku hampir saja lupa..." kata Bunga sembari mengusap peluh di dahinya.


" nona ada tuan William..." sekretaris Nayra, Friska belum sempat menyelesaikan kata katanya setelah sebelumnya tadi ia mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan.


William telah masuk dan duduk begitu saja di sofa di hadapan Bunga. Nayra mengangguk pada Friska.


Ya Friska sang assitennya dulu ketika masih menjabat sebagai manager accounting di Ar. Co ia bawa untuk mengikutinya ke Yara dan gadis itu sangat senang.


" kita makan siang...." ucap William pada Nayra yang telah duduk di sofa.


" disini saja..." ajak Nayra


" terserah padamu.." jawab William, dan seolah paham dengan keadaan Bunga meminta Friska segera memesan makan siang.


" kau sakit ?! " tanya William terus memperhatikan Nayra


" sok perhatian..." bisik Bunga, namun tak di gubris oleh William


" tidak..hanya sedikit lelah " jawab Nayra pelan, ia sedikit memutar lehernya ke kanan dan kekiri.

__ADS_1


" kapan pembahasan proyek jembatan itu ? " tanya William sembari menyandarkan punggungnya pada senderan sofa.


" lusa.." jawab Nayra


" aku temani..."


" tidak usah...ada bunga, juga yang lain "


" aku dengar proyek ini akan menjadi proyek gabungan antara dua perusahaan Nayra, andai aku punya kenalan perusahaan di bidang ini aku ingin kau bekerjasama dengan perusahaan kenalanku.." oceh William. Nayra sedikit mengerutkan keningnya tak paham.


" maksudnya...?! " tanya Nayra tak paham


" kemungkinan perusahaanmu sebagai pelaksana proyek ini, akan tetapi sebagai penyuplai bahan materialnya itu perusahaan yang berbeda. Hal seperti ini sudah biasa dalam pengerjaan proyek besar pemerintah seperti ini " jelas William


" biasalah...untuk meminimalisir penggelapan dana.." lanjutnya. Nayra manggut manggut mengerti, ia sangat tidak meragukan informasi yang di berikan oleh seorang WilliM Edgar karena memang pria itu yang mempunyai koneksi dan pengarub yang cukup besar di pemerintahan.


" lusa aku temani..."


" tidak usah..aku tahu kau punya banyak kesibukan" tolak Nayra lembut.


" ayolah nay...kau tahu aku hanya ingin menjagamu, aku sudah berjanji akan menunggumu dan tidak akan memaksamu selama tidak ada selain dia di dekatmu.." William tetap ngotot


" ok ok...tapi biarkan gabby bersamamu...ok " tawar William lagi dan Nayra hanya mengangguk.


Gabby adalah pengawal perempuan milik Willian yang seringkali dimintanya turut serta menemani Nayra dalam urusan bisnisnya.


Tak berapa lama kemudian Friska datang dengan membawa makan siang, ia segera menata makanan itu di meja


" panggil jacob...kau juga, kita makan bersama.." perintah William pada Friska. Inilah salah satu hal yang membuat Nayra menghormati pria pemaksa di hadapannya ini. Ia tak segan segan mengajak bawahannya makan bersama di meja yang sama bersamanya.


Tapi dia juga tidak segan segan melakukan ancamannya seperti beberapa waktu lalu pada Ar.co saat ia menilai dirinya menerima perhatian seorang Kenan, dan hal itu juga yang membuat Kenan akhirnya memilih mengalah dan menjauh dari Nayra, ia tak ingin menyusahkan Nayra karena keberadaanya. Ia sadar William bukanlah orang yang mudah di hadapi.


Di tempat lain, tepatnya di belahan bumi lainnya tampak seorang pria tampan duduk sambil memijit pelipisnya.


" ini tidak bisa kita selesaikan dari sini Katania..." ucapnya pada wanita yang duduk di hadapannya


" lalu.."

__ADS_1


" kita haru datang kesana...atau kalau tidak, kita akan kehilangan tender ini.." jelas pria itu.


" maksudmu...kau akan kesana, tidak tidak...tidak renald..aku tidak mau. Biar johan yang selesaikan.." tolak Katania


" tidak bisa...aku tidak mau mempercayakan proyek ini begitu saja pada orang lain. Aku harus menyelesaikannya sendiri "


" renald..disana kamu kehilangan ingatanmu tentang aku, beruntung aku datang tepat waktu saat itu, coba kalau tidak...pasti musuhmu yang curang itu sudah pasti bisa membunuhmu..." terang Katania menolak rencana Renald.


" Katania...."


" aku mohon, aku tidak mau kehilangan mu untuk yang kedua kali. Mereka sangat licik Renald " rengek Katania lagi meyakinkan Renald.


Tapi sepertinya Renald tidak ingin berhenti begitu saja, Katania memang selalu melarangnya pergi ke Indonesia.


Namun entah mengapa, jauh dilubuk hatinya ia seakan merindukan seseorang di sana dan ia sangat penasaran. Dan kali ini dirinya pasti akan benar benar datang kesana.


" apapun itu...aku akan tetap datang sendiri kesana katania, proyek ini sangat penting bagiku. Ini adalah kesempatanku menunjukkan kemampuanku pada orang tuamu " Renald masih setia dengan rencananya membuat Katania tersenyum kecut.


" kali ini aku pastikan...mereka tidak akan bisa menyentuhku, aku bukan renald yang dulu..." jawab Renald dengan wajah dingin. Renald memang dikenal sebagai pemimpin yang arrogant dan dingin. Ia tak segan segan menghukum dengan kejam siapa saja yang menghalangi langkahnya apa lagi mengkhianatinya.


Ia pun kini mampu mengembangkan perusahaan yang ia pegang berkali kali lipat, hingga ia memiliki begitu banyak pengaruh dan kekuasaan bahkan ia diam diam memiliki basis di dunia bawah demi untuk membalaskan dendamnya. Dan yang satu ini di luar sepengetahuan Katania.


Hal itu tak lepas dari peran wanita di hadapannya saat ini. Ia yang kehilangan semua ingatannya menerima begitu saja apa yang di sampaikan wanita itu padanya.


Bahwa ia yang telah di celakai dan di khianati sahabat sahabatnya, ia yang telah di curi semua miliknya dan hal buruk lainnya yang telah menimpanya selama ini.


Kali ini Katania sadar, ia tak akan mampu menghalangi keinginan Renald lagi.


" baiklah renald...tapi kumohon berjanjilah sesuatu padaku..." pinta Katania pada Renald


" hmm...apa ? " tanya Renald


" tidak perduli kau berhasil atau tidak di sana, setelah satu bulan kita kembali kesini, kita menikah" ucapnya pada Renald


" tapi papamu bilang.." renald mengingatkan permintaan ayah Katania padanya waktu itu. Tentang ia yang harus menjadi seorang king of businesman sebelum menikahi putri semata wayangnya....Katania.


" tak apa, perusahaan ini sudah berkembang sangat pesat saat ini karenamu.." jawab Katania

__ADS_1


" soal kecelakaan itu..." tanya Renald lagi


" tetap kita lanjutkan balas dendammu setelah kita menikah...ok " bujuk Katania sembari tersenyum manja pada Renald.


__ADS_2