
" Yan...." panggil Nayra seketika begitu ia melihat pergerakan pada kelopak mata Yandi.
Tim dokter segera bergerak cepat, mereka menangani Yandi dengan cepat dan terampil. Kepala tim dokter segera memerintahkan salah satu dari mereka untuk segera membawa sample darah Yandi yang baru saja ia ambil ke laboratorium rumah sakit untuk segera di analisa dan di ketahui obat apa yang di suntikkan kepadanya. Sedangkan Nayra masih setia berdiri dengan tetap menggenggam jemari Yandi.
Satu jam telah barlalu, peluh membasahi kening para dokter yang tergabung dalam tim penanganan Yandi dan akhirnya perjuangan mereka tak sia sia.
Yandi membuka matanya dan yang pertama kali ia lihat adalah tatapan sendu mata sang istri karena Nayra yang masih menutupi wajahnya dengan cadar.
Senyum terukir di bibir pucat Yandi. Kali ini ia sungguh bahagia meski ia telah tak sadarkan diri cukup lama tapi ia tak kehilangan ingatannya akan wajah wanita di hadapannya itu.
" sayang....kau menangis " sapa Yandi dengan lembut tanpa mampu bergerak sedikitpun.
" apa yang kau rasakan hmmm " Nayra tak kalah lembutnya bertanya pada sang suami. Sekali lagi Yandi mengulas senyum.
" jangan khawatir, kali ini aku tidak akan menyerah begitu saja....aku akan bersama mu sampai ajal menjemput salah satu di antara kita " jawab Yandi mencoba menghibur sang istri.
" aku tahu....sekarang apa yang kau rasakan, jangan mengalihkan pembicaraan " tanya Nayra lagi, Yandi tersenyum.
" tubuhku rasanya sangat lemas, tulang tulangku terasa remuk " jawab Yandi pada akhirnya dan kembali memejamkan matanya.
Nayra menghela nafas berat sembari memejamkan matanya sejenak.
Ia melirik kearah Alan dengan mengepalkan tangannya begitu erat. Andai jemari itu tak terbungkus kaos tangan maka orang orang diruangan itu akan melihat urat urat tangan Nayra yang terlihat karena begitu kuatnya ia mengepalkan tangannya karena menahan kemarahan.
" mereka..." desis Nayra tertahan hingga giginya bergemerutuk.
" sepertinya itu adalah obat yang sama yang mereka gunakan untuk menyuntikku waktu itu Alan" kata Nayra pelan kepada Alan.
" sepertinya benar begitu nona.."
" kurang ajar mereka.....keterlaluan, aku sungguh akan membalas apa yang sudah mereka lakukan pada suamiku kali ini. apa kau masih punya penawarnya Alan ?! "
" maafkan aku nona...." belum sempat Alan melanjutkan kata katanya seorang dokter wanita nampak tergesa gesa masuk keruangan itu.
" dokter kita sudah dapat mengetahui obat apa yang di suntikkan pada presdir Yan....salah satu bahan yang mereka gunakan untuk meracik obat itu termasuk dalam daftar obat yang jarang di perbolehkan di pakai dalam dunia medis meski itu bukan obat ilegal " terang dokter wanita itu.
" lalu ?! " tanya kepala dokter
__ADS_1
" kita sedang dalam pembuatan penangkalnya. Hanya saja tubuh presdir Yan membutuhkan banyak waktu untuk pemulihannya seperti orang normal lainnya karena keadaan presdir Yan yang baru saja dalam proses perawatan " jelas dokter itu lagi.
Nayra mengerutkan keningnya
" apa maksudnya...? " tanya Nayra.
" nona...kami sudah mengetahui obat apa yang mereka suntikkan dan kami sudah mulai menganalisa dan akan segera membuat penawarnya. Hanya saja dengan penawar yang kita buat presdi Yan masih akan membutuhkan lebih lama waktu lagi untuk kembali normal seperti sediakala. Hal itu karena kesehatan Presdir Yan yang belum stabil benar paskah kecelakaan waktu itu " jelas kepala tim dokter.
Nayra mengangguk mengerti
" tak apa...setidaknya saat ini suamiku sudah lolos dari maut begitu maksud anda ?! "
" benar nona " kali ini Edward yang menjawab. Nayra menoleh sejenak kepadanya.
" jangan memanggilku seperti itu dokter Edward. Aku sudah menganggap mu seperti saudaraku karena hubungan baik mu dengan suamiku " sela Nayra
" maaf nona...saya tidak bisa, anda terlalu membuat saya sungkan " jawab Edward, memang benar sejak pertama kali bertemu dengan wanita itu, Edward sudah merasa segan untuk sekedar menatap wanita itu.
Benar yang di katakan Edo dan dua orang temannya yang lain. Akan sangat sulit berhadapan dengan nyonya Yandi karena wanita itu yang seakan sedingin es namun memiliki sejuta pesona dan sejuta kharisma yang membuat pria manapun segan dengannya.
" Maria minta Zack dan Lee segera kemari dan berjaga untuk suamiku, ada yang harus kita lakukan secepatnya " Nayra berucap dan setengah melangkah lebar ia keluar ruangan itu setelah sebelumnya ia mengkode Alan untuk mengikutinya.
" ruang cctv " katanya pelan namun tegas tanpa menghentikan langkahnya.
" baik nona..." jawab Alan mengikuti Nayra di belakang Nayra dan Bunga karena Maria yang masih tinggal di ruangan Yandi menunggu Zack dan Lee datang. Alan yang telah di bantu tuan Aditya untuk lepas dari jerat puguh dan Agustin waktu itu, kini benar benar mengabdikan dirinya kepada keluarga Aditya tersebut.
Di ruang cctv Nayra mengamati pergerakan pergerakan yang mencurigakan dan akhirnya menemukan yang ia cari.
" ia kah..." tanya Nayra pada Alan tentang perawat yang menyuntik suaminya, setelah mendapat anggukan dari Alan, Nayra mengunduhnya dan mengirimkannya kepada Edo dan Rexy.
Bunga dan Alan mengikuti Nayra keluar dari ruangan itu. Ia melangkah keruangan sang suami dan masuk kedalam ruangan sendirian untuk memastikan keadaan Yandi dan nampak pria itu membuka matanya begitu merasakan kehadirannya.
" sayang " panggil Yandi
" hmm..." Nayra mendekat dan memeluk dada bidang Yandi.
" jangan keluar sendiri...bawa Zack dan Lee bersamamu, atau kalau perlu Maria juga " kata Yandi meminta kepada Nayra seakan ia paham dengan apa yang akan di lakukan sang istri.
__ADS_1
" aku memang akan membawa Maria, tapi tidak dengan Zack dan Lee. Kau butuh mereka disini. Aku yakin mereka akan datang lagi karena rumah sakit yang tidak memberikan statment apapun tentangmu " jawab Nayra masih tetap merebahkan kepalanya di dada sang suami dan memeluk dada bidang itu dengan lembut.
Wanita itu mendadak menjadi wanita manja ketika hanya berdua dengan sang suami saja.
Yandi membelai kepala Nayra yang tertutup hijab.
" tak kusangka om Hendra bisa berbuat sejauh ini. Mereka memiliki pabrik obat obatan ilegal sayang, aku sudah mengumpulkan banyak bukti tentang sepak terjang mereka jauh sebelum aku tahu bahwa paman Mahyong adalah juga om Hendra dan dalang dari semua kerusuhan yang terjadi pada keluargaku" sambung Yandi lagi.
" hmmm....sebelumnya aku berniat tak ikut campur lagi urusan ini, tapi melihat apa yang sudah di lakukannya padamu dan papa yang sedang tidak bersama dengan kita, aku tidak bisa lagi mentolelirnya Yan..."
" ya...aku tahu, sebenarnya aku tak tega membiarkanmu sendiri. Tunggu sampai aku sedikit sembuh bagaimana ?! " tawar Yandi mencoba mengulur niat sang istri yang tak lagi mampu menahan amarahnya melihat kondisi sang suami.
" jangan khawatir, semua mereka anak buahmu bersamaku..kau masih meragukan kemampuan anak didikmu ini hmmm..." goda Nayra mencairkan ketegangan sang suami.
" tidak.....apalagi setelah aku melihat sendiri kau menghajar anak buah Puguh waktu itu. Kau sangat luar biasa sayang....aku bangga padamu " puji Yandi dengan tulus. Nayra tersenyum dan mengecup dengan bebas bibir Yandi sekilas karena ia yang kini melepas cadarnya membuat pria itu melotot mendapat perlakuan seperti itu dari istrinya yang nota bene seorang wanita yang minim ekspresi dan dingin itu.
" sepertinya sekarang kau jauh lebih banyak belajar sayang..." omel Yandi yang menyesal karena tak mampu berbuat apa apa kepada istrinya kali ini. Nayra tersenyum menggoda
" dosa sayang jika kau sengaja menggoda suami dengan tujuan menggoda saja " rajuk Yandi
" mana ada aku menggoda, yang ada aku sedang menerapi syaraf syarafmu Yan....kau saja yang mesum " jawab Nayra sambil mencebikkan bibirnya.
" wajarlah tiga tahun nggak on..." jawab Yandi frontal membuat Nayra memelototkan matanya.
" ha ha ha....kau malu, salah sendiri siapa suruh menggodaku begitu " oceh Yandi
" tok tok..." terdengar pintu di ketuk dan dengan cepat Nayra memasang kembali cadarnya.
" silahkan ..." jawab Nayra kemudian dan Edward bersama tim dokter pun masuk.
" waktunya istirahat nald..." kata Edward dengan siap menyuntikkan jarum ke bahunya
Yandi dan Nayra mengangguk. Beberapa menit kemudian sebelum ia benar benar memejamkan matanya karena efek obat. Yandi berpesan pada sang istri.
" cepat kembali...aku menunggumu, maaf karena melibatkanmu dalam masalah rumit keluargaku. Aku janji suatu hari nanti aku kan membalasnya " ucapnya semakin pelan dan akhirnya tak bersuara lagi.
Nayra mencium punggung tangan sang suami sebelum melenggang pergi meninggalkan ruang rawat Yandi.
__ADS_1