
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Indah segera bergegas pergi menuju ke jalan dekat rumahnya. Ia akan menghabiskan waktunya di sana sepanjang hari, dengan harapan kedua orang tuanya akan muncul secara tiba-tiba dari ujung jalan itu.
Dengan duduk termenung sendirian, dan tatapan matanya yang terlihat sayup di penuhi dengan harapan dan rasa rindu.
"Sedang apa anak itu?" ucap seseorang yang sedang melintas di sana matanya terus menatap ke arah Indah.
"Apa dia seorang pengemis, kenapa dia selalu duduk di sana!" penasaran.
Semua orang yang melintas di sana, akan mengira bahwa Indah adalah seorang pengemis cilik. Tidak heran lagi, jika Indah selalu mendapatkan ejekan-ejekan dari orang-orang di sekitarnya dan juga teman-teman sekolahnya.
Semua orang akan mengejek Indah secara langsung, tanpa memikirkan perasaan Indah sedikit pun. Indah yang mendengar ejekan-ejekan dari mereka hanya bisa terdiam.
"Ya, Tuhan, kembalikan ibu dan ayahku, pertemukan aku segera dengan ayah dan ibuku, aku sangat merindukan mereka saat ini, tolong bawah mereka pulang untukku" doanya dalam hati.
"Ibu, aku sangat merindukanmu, cepatlah pulang, aku sudah lelah dengan hidupku, aku ingin bertemu denganmu" harapnya, dengan air mata yang mengalir secara perlahan dari pipinya.
Tidak terasa hari sudah mulai menjelang sore, Indah harus segera pulang untuk melanjutkan pekerjaannya di rumah. Secara perlahan ia beranjak dari tempat duduknya ia mulai melangkahkan kakinya dengan pelan.
"Indah, dari mana saja kau ini" tanya kakaknya yang sedang berdiri di depan pintu.
"Kerjamu hanya main-main saja, dasar pemalas cepat selesaikan semua pekerjaanmu" perintah kakaknya.
"Iya, baik," jawab Indah dengan lembutnya, dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke dapur, lalu bergegas menyelesaikan pekerjaanya.
kriuk.. kriuk.. kriuk..
Perut kecilnya mulai terasa lapar dan terus berbunyi, rintihan demi rintihan yang terus keluar dari mulutnya. Beberapa saat kemudian akhirnya ia bisa menyelesaikan semua perkerjaannya, walau dengan waktu yang sedikit lama.
"Huaa, akhirnya selesai juga" serunya berjalan menuju ke dapur.
~Keesokan harinya~
Sesaat setelah sampai di sekolah, Indah langsung duduk termenung di depan kelasnya ia terus menatap ke arah teman-temanya, yang sedang di antar oleh kedua orang tua mereka masing-masing.
"Hei, pengemis," hina teman laki-lakinya secara langsung.
Lalu, semua orang pun tertawa melihat ke arah indah.
Indah hanya diam saja mendengar ejekan-ejekan dari teman-temannya, bahkan Indah tidak peduli sama sekali dengan ejekan-ejekan dari teman-temanya itu.
Mereka terus-terusan mengejek indah.
__ADS_1
"Dasar orang miskin"
"Apa dia tidak punya orang tua, lihat pakaiannya sangat jelek"
"Apa dia anak yang di buang oleh kedua orang tuanya, mungkin saja orang tuanya seorang P*****r, jadi tidak bisa mengurus dirinya" ejek Tina.
Indah yang awalnya hanya diam saja mendengar ejekan teman-temannya.
Tetapi tiba-tiba dengan murkanya, Indah langsung beranjak dari tempat duduk dengan cepat ia melangkahkan kakinya menghampiri Tina.
Agustina Pratiwi , biasa di panggil Tina, ia gadis yang sombong, manja dan centil, ia adalah anak dari kepala sekolah, Tina memang terkenal dengan ke sombongannya dan ke angkuhannya.
Dengan rasa emosi yang mendalam, karena mendengar ucapan Tina yang mengatakan bahwa ibunya seorang P*****r. Tanpa pikir panjang ia langsung menarik rambut Tina dengan sangat kuat, sehingga membuat Tina merasa sangat ke sakitan.
"Aku sudah muak mendengar ocehanmu! kau boleh menghinaku semaumu, tetapi jangan pernah sekali-sekali kau coba menghina ibuku" teriak Indah dengan sangat marah.
Sontak semua orang terdiam, melihat Indah yang saat ini terlihat sangat marah.
"Aaahhh, sakit, lepaskan aku, tolong lepaskan aku," teriak Tina.
"Aku berjanji tidak akan menghina ibumu lagi, maafkan aku" ucap Tina.
Mereka tidak menyangkah bahwa indah bisa melakukan hal itu, dengan sifatnya yang pendiam dan terlihat sangat dingin.
"Apa kamu tidak apa-apa? " tanya Ismi kepada Tina.
"Kepalaku terasa sangat sakit sekali, dasar orang miskin lihat saja akan ku buat dia menyesal, karena telah menarik rambutku" ucapnya dengan sangat kesal menatap ke arah indah, dengan tatapan tajam matanya.
~Tiba keesokan harinya~
Dengan langka kecilnya, indah mulai memasuki kelas dan langsung menuju ke tempat duduknya. Yang tanpa di ketahu oleh Indah sebelumnya, Indah langsung menduduki kursinya yang sudah di beri lem, sehingga membuat roknya melengkat dan membuatnya susah untuk bergerak.
Semua temannya mulai menertawakannya.
Lalu, tiba-tiba Tina datang menghapirinya.
"Itu akibatnya, karena telah berani-beraninya menyentuh rambutku yang indah ini, dengan tangan kotormu" bisik Tina dengan senyum ejekannya. Lalu, berbalik meninggalkan indah.
Dengan susah payah Indah terus berusah melepaskan roknya yang melekat di kursi. Dengan usaha-usaha yang telah di lakukannya, akhirnya ia bisa melepaskan lemnya.
Lalu, pergi meninggalkan kelasnya, dengan berlarian menuju ke halaman belakang sekolahnya. Ia langsung menaiki pagar dan duduk di sana, sambil mengayun-ayunkan kaki kecilnya.
__ADS_1
Waktu terus berlalu begitu saja.
"Buka buku kalian halaman 53." kata guru, sambil memandang ke sana kemari.
"Di mana indah, apa dia tidak masuk hari ini?" tanya guru.
Semua murid terdiam, suasana berubah menjadi hening.
Kelas sudah di mulai, tetapi indah tidak juga lekas kembali ke kelasnya, ia tetap duduk di sana, tanpa bergerak sedikit pun sambil menikmati angin-angin yang berhembus menerpa tubuh kecilnya.
ttteetttttt....
Terdengar suara bel istirahat berbunyi.
"Hey, kemana anak itu" Tanya Tina.
"Entahlah, mungkin dia sedang sibuk membersikan roknya," jawab Ismi.
Mereka berdua langsung tertawa degan senangnya.
Karena Indah merasa sudah cukup lama duduk di sana, akhirnya ia kembali ke kelasnya. Setiba di kelasnya, semua teman-temannya langsung memandagi dirinya.
Indah dengan tidak perdulinya, ia langsung duduk di kursi, tanpa memperdulikan ejekan dari teman-temannya yang lain.
"Apa kalian mencium bau busuk," teriak Ismi secara tiba-tiba dengan mengendus-endus seperti guguk.
"Iya baunya sangat busuk" lanjut Tina melihat ke arah indah dengan wajah yang mengejek.
Indah hanya bisa terdiam, ia pun tidak memperdulikan ejekan-ejekan tentang dirinya, selama itu tidak menyakut pautkan kedua orang tuanya.
"Hmm, sepertinya ini bau-bau orang miskin" ucap Tina dengan kerasnya, sambil menatap ke arah indah.
~ Hari-hari terus berlalu ~
"Hei, teman-teman semuanya, jangan lupa ya datang ke acara ulang tahunku" teriak Tina di depan kelasnya.
"kecuali, orang miskin, karena aku tidak terima sumbangan" lanjut teriaknya, dengan nada yang sedikit mengejek. Lalu, melirik ke arah Indah.
Seperti biasa, Indah tidak perduli akan hal-hal seperti itu, ia tetap fokus memandang ke arah luar jendela. sembari merindukan ke dua orang tuanya, bahkan dia tidak mendengar apa yang di katakan oleh Tina.
...🌼🌼🌼🌼🌼...
__ADS_1