
Satu bulan telah berlalu sejak kedatangan Yandi dan kawan kawannya melakukan lawatan ke perusahaan Hendra Kurniawan.
Pria paruh baya yang masih terlihat muda di usianya yang tak lagi muda itu ampak kacau.
Ia tak mampu lagi mempertahankan kesan ketenangan di wajahnya. Wajahnya yang biasanya standar standar saja bagi sebagian orang yang tak begitu mengenalnya kina tampak begitu gusar juga terbersit ketakutan.
Perusahaan obat obatan yang telah ia dirikan dan telah menjangkau hampir di berbagai lini masyarakat mulai terendus media keberadaannya.
Bukan apa apa yang membuat ia resah, akan tetapi salah satu bahan ilegal yang pakailah yang membuat ia resah.
Ia harus menggelontorkan banyak dana untuk mengamankan perusahaannya itu.
Belum permasalahan besar di perusahaan indukya
Double H. Company.
Perusahaan yang dirintis keluarganya sejak dulu dan yang ia perjuangkan mati matian kini seakan sedang berada di ujung tanduk.
Pengiriman hasil produksi berkali kali gagal terkirim atau tertangguhkan pengirimannya. Dan ini sungguh berimbas besar pada kepercayaan konsumen kepada perusahannya.
Sebahai imbasnya, beberapa denda pinalty yang jumlahnya tidak sedikit harus perusahannya tanggung karena keterlambatan atau bahkan kegagalan pengiriman.
Belum lagi indeks saham perusahaan yang terus merosot turun hingga ke level 30 % benar benar membuatnya tak mampu untuk sekedar memejamkan mata untuk sekedar beristirahat. Dan hal ini telah berlangsung hampir satu bulan belakangan ini.
" ini bukan hal yang biasa Puguh...ada yang bermain main di belakang semua ini " pelan terdengar kata demi kata keluar dari mulut pria itu.
Kini, Hendra nampak berdiri dengan setengah menunduk dan kedua tangannya bertumpu pada meja kerjanya.
" tak ada pergerakan sama sekali dari mereka tuan" jawab Puguh membuat Hendra memejamkan matanya.
" kita membutuhkan banyak suntikan dana untuk kelangsungan hidup perusahaan anda tuan " Puguh mengingatkan.
" apa belum ada tanggapan dari Altco guh...?! "
" maaf tuan..tapi nona Katania tak lagi memiliki wewenang di Altco. Tuan Yelensky telah mengambil alih seluruh kewenangan di Altco kembali padanya. Ia bahkan memutuskan kerajasama dengan kita yang dulu kita sepakati bersama dengan nona Katania "
" apakah itu artinya mereka menyalahi aturan dan harus memberi ganti rugi ?? " Sedikit senyum tersungging di bibir Hendra, ia merasa memiliki jalan keluar dari masalah keuangannya kini.
" maaf tuan, sayangnya kita yang malah harus mengganti rugi karena kesalahan ada pada kita " jelas Puguh.
" apa maksudmu ?! "
__ADS_1
" kita melakukan keterlambatan pengiriman tuan "
" sial....brengsek, ini pasti ulah bocah sialan itu.
Yandi...aku akan menghabisimu " gigi Hendra bergemerutuk menahan marah, rahangnya mengeras sempurna.
" apa lagi yang bisa kita lakukan Puguh. Otak ku tiba tiba ngeblank saat ini. Aku seakan tak mampu lagi untuk berpikir jernih. Kenapa masalah ini seakan tak mampu kutangani. Tapi aku tidak mungkin membiarkan perusahaan keluargaku hancur begitu saja di tanganku Puguh " kata Hendra pelan.
Ada sedikit kesan putus asa terdengar pada ucapannya.
" kami mendapatkan investor tuan, ia mampu menyuntikkan dana sebesar yang kita mau. Akan tetapi ada resikonya tuan, itulah sebabnya saya tak langsung menyampaikan kabar ini segera kepada anda karena ini saya jadikan opsi terakhir bagi tuan" Puguh berkata sehalus mungkin.
" apa syaratnya ?! " tanya Hendra menahan kesal.
" saham sebesar enam puluh persen dan pasar pemasaran barang kita melewati pos pantaunya " lagi lagi Puguh berkata kata dengan sangat hati hati sekali.
" lancang...beraninya mereka meminta imbalan padaku " geram Hendra, namun kemudian ia sadar, dirinya tidak dalam posisi memilih saat ini.
Menerima dan perusahannya kembali bergerak, atau mempertahankan egonya dengan menolak mentah mentah tawaran itu, dan akibatnya...perusahaannya yang tengah berada diambang kehancuran benar benar akan hancur hanya dalam kurun waktu beberapa bulan saja.
Lalu jika itu benar terjadi, bagaimana ia akan mempertanggung jawabkan semuanya kepada keluarganya yang telah mempercayakan kepemimpinan perusahann di tangannya.
Terutama pada sang kakak yang telah mendahuluinya bertahun tahun yang lalu.
" siapa mereka ?! " tanya Hendra
" kami kesulitan mencari informasi jejak mereka tuan, hanya saja yang kami tahu perusahaan mereka juga bergerak di bidang yanh sama dengan perusahaan anda "
" apa nama perusahaannya ? " lagi Hendra bertanya
" Zain Techknologi tuan...." jawab Puguh, Hendra mengerutkan keningnya.
" apakah perusahaan itu baru, kenapa aku tak pernah mendengarnya ?" ucap puguh kemudia
" perusahaan itu berpusat di luar negri tuan, Australia "
" baiklah Puguh, buat janji dengan mereka mengenai penawaran mereka " mau tak mau akhirnya Hendra Kurniawan atau yang lebih di kenal sebagai tuan Imhayong chan memikirkan opsi terakhir yang di berikan asisten pribadinya Puguh.
" baik tuan " Puguh segera undur diri dan melaksanakan tugas yang di embankan padanya.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Di dalam rumah besar di seberang benua yang berbeda, seorang wanita cantik tengah duduk menghadap hamparan taman yang dihiasi bunga tulip berwarna warni.
Tangannya bersedekap di dada, dengan sesekali menggosok gosokkan telapak tangannya menghilangkan rasa dingin yang ia rasakan.
Seorang pria datang menghampirinya dan memakaikan mantel tebal kepadanya.
" kenapa tak memakai baju hangat...udara di luar sangat dingin " ucap pria itu kemudian memeluk bahu wanita itu dan mencium ujung kepalanya seusai ia memakaikan mantel tebal tadi.
" hmmmm...." jawab wanita itu.
" hanya itu saja......?! "
" lalu ?! "
" hanya hmmm saja...."
" maaf aku tak tahu maksudmu "
Pria itu melangkah dan duduk di samping wanita itu.
" Maritha...aku tahu kau masih memikirkannya, tapi kumohon jangan menyakiti tubuhmu sendiri.
Ya wanita cantik itu adalah Maritha Katania Maurelia Yelensky. Setelah diizinkannya dirinya keluar dari rumah sakit, Jacob langsung membawanya ke Belanda ke negara asalnya.
Maritha yang sempat menolak dan berharap masih bisa bertemu dengan Yandi tak mampu berbuat apa apa lagi ketika sang ayah sudah turun tangan.
Tak ada pilihan baginya selain mengikuti pria yang kini telah menjadi suaminya itu.
Ia merasa telah menyakiti dan menyalah artikan kepercayaan sang ayah kepadanya selama ini. Dan membuat sang ayah begitu kecewa kepadanya.
" tidak akan...aku sudah berjanji padamu bukan " jawab wanita sambil tersenyum meski terkesan sedikit dipaksakan.
Dirinya memang berjanji pada dirinya sendiri untuk belajar menerima kehadiran Jacob di sisinya. Itu semata mata ia lakukan karena ia yang tak ingin lagi terpuruk dalam angannya yang semu dan berakhir dengan mengecewakan sang papa untuk kesekian kalinya.
" terimakasih sudah mau sabar menerimaku selama ini " ucap Maritha pelan tanpa menatap sang suami.
Jacob tersenyum simpul, ada getar getar yang tak mampu ia pahami yang ia rasakan mendengar wanita di sisinya itu mengucap kata terimakasih juga sudah mau tersenyum padanya.
" terimakasih karena sudah mau memberikan aku kesempatan untuk mencintaimu.....senyum yang kau berikan padaku sudah cukup membuatku tahu " Jacob menjeda kalimatnya memancing Maritha menoleh kepadanya, dan berhasil.
Maritha menolek kepadanya meski tanpa pertanyaan
__ADS_1
" senyummu membuatku tahu...aku akan tetap bertahan disisimu walau kau tak mencintaiku, menyedihkan bukan aku ?! " ucap Jacob membuat Maritha menatapnya penuh arti.
" cup "