
Hampir dua jam Maria duduk di ruang tunggu lobby apartemen mewah itu. Beberapa kali ia nampak melihat jarum jam, ada setitik kakhawatiran terbersit di hatinya, namun mengingat diatas ada bosnya Maria berusaha menepis perasaannya.
Hingga beberapa detik kemudian suara dering telpon membuyarkan lamunannya.
" ya tuan.." jawab Maria menyapa sang penelpon
" kau dimana....mana istriku, kenapa dia tidak mengangkat telpon dariku ?! " pertanyaan Renald sukses membuat Maria seketika bagai terhantam batu besar
" bu bu bukannya nona bersama anda ?! " gugup Maria
" apa maksudmu Nayra bersamaku...jelas jelas aku tidak membawanya bersamaku " bentak Renald terdengar khawatir.
" tuan..kami menyusul anda ke apartemen nona Katania, dia sangat khawatir pada anda makanya memaksa untuk menyusul. Nona tidak mau kami temani karena ada anda di sana " Maria menjawab dengan sangat kalut
" cari...aku segera kesana " jawab Renald kemudian mematikan sambungan.
Maria hendak segera berlari menuju lift ketika seseorang menarik lengannya
" nona bersamamu ?! " tanya Edo dengan wajah panik, Maria menggeleng cepat
" shittt..." umpat Edo segera berlari menuju lift diikuti Maria di belakangnya.
Sesampainya di depan pintu apartemen Katania mereka tak menemukan apapun. Dengan cekatan keduanya berlari kembali kerah lift dan sekeluarnya dari lift mereka langsung berlari kearah ruang cctv.
Edo dan Maria segera menunduk ketika di sana telah berdiri sosok Renald Revaldy Gautam dengan tatapan menghunus kearah keduanya.
" tuan muda.." desis Edo tanpa sadar membuat Maria reflek menoleh kearahnya.
" teledor " marah Renald
" dia masuk dan tidak tampak keluar sama sekali...." desis Renald terdiam.
Namun sejurus kemudian ia hendak berlalu, Renald menoleh kearah Edo
" jika aku menemukan bukti kalian bersekongkol menyembunyikan istriku, aku tidak akan segan segan menghancurkan kalian semua..." ancam Renald pada Edo.
__ADS_1
Ia mengira pasti Nayra di sembunyikan darinya oleh keluarganya. Mengingat bagaimana kedua kakaknya juga teman temannya berusaha membawa Nayra pergi darinya.
Edo hanya terdiam tak menjawab, ia terus mengikuti mobil yang membawa Renald berikut antek anteknya, kecuali Maria yang memilih naik mobil bersamanya.
Melihat mobil Renald berhenti di depan pagar mansion keluarga Aditya, Edo segera turun memberi tahu
" tuan mansion ini kosong, hanya ada para maid, tuan dan nyonya besar berada di Australia berikut nona Laura dan tuan muda Liam. Jika memang Nona kembali kerumah sudah pasti dia tidak akan kesini " Edo memberi penjelasan pada Renald yang tengah menatap mansion besar itu.
Jauh di lubuk hatinya, ia merasa tak asing dengan tempat itu. Bayangan anak kecil perempuam dan laki laki berlarian di arena taman mansion menghiasi ingatannya.
" tuan muda.." panggil Edo lagi, Edward menggoyang bahu Renald.
" lalu ?! " tanya Renald kemudian
" rumah besar tuan muda Yan " jawab Edo membuat Renald mengerutkan keningnya.
" bawa aku kesana...dan jika ini jebakan kalian, aku pastikan kalian akan menyesal " sekali lagi Renald mengancam Edo.
Edo tak menjawab, segera dia masuk kedalam mobilnya dan membawa mereka meninggalkan mansion itu.
Renald kembali di buat tercengang, sekali lagi ia merasa tak asing dengan tempat itu. Di tatapnya bangunan bertingkat dua itu.
" tuan muda silahkan..." Edo mendekat dan mempersilahkan Renald masuk. Diikuti empat orang di belakangnya ia berjalan masuk.
" Nayra....Nayra..." teriaknya dengan keras, beberapa orang wanita nampak keluar dari dalam rumah
" tuan muda yan.." panggil wanita tua mendekat kearahnya dengan berkaca kaca, Renald terdiam menatapnya sambil mundur beberapa langkah.
" bik sum...beliau tuan Renald, Renald Revaldy Gautam " Edo memberi sedikit isyarat dan di mengerti oleh bi sum.
Kembali Renald masuk semakin kedalam, matanya terpaku pada pigura besar di hadapannya.
" dia adalah suami nona Nayra, tuan muda Yan " Edo kembali memberi penjelasan membuat Renald menoleh tak suka padanya.
" sekarang dia istriku " jawab Renald tegas, dan Edo mengangguk
__ADS_1
" rumah siapa ini ? Kau bilang Nayra pulang kesini, mana dia ?! " tanya Renald lagi
" apa maksudmu mencari Nayra di sini, bukankah kau melarang kami membawanya " terdengar suara dari arah pintu.
Bunga bersama Kris mendekat diikuti Rexy dan Faris.
" omong kosong, Nayra....keluar kamu " Renald terus berteriak dan mulai berlari kedalam dengan panik, semua rungan ia buka berharap menemukan sang istri di sana, ia tak menghiraukan rasa sakit dikepalanya karena gambaran gambaran yang tiba tiba memenuhi otaknya.
" akhhhh..." teriaknya memegangi kepalanya.
" Renald tenanglah " Edward segera berlari menyusulnya.
" dia tidak disini " desisnya dengan menahan rasa sakit. Saat itu Edo berlari mendekat.
" tuan muda...kita menemukan pergerakan nona dari jam tangan yang ia pakai yang terhubung dengan handphone suaminya dulu.." Edo menjelaskan
Sekali lagi Renald menatapnya tajam.
" aku akan membuat perhitungan denganmu nanti " bentak Renald sembari segera berlalu dengan cepat
" Yan...mau kemana ?! " tanya Kris begitu saja, membuat Renald menoleh tak suka padanya.
Namun kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju kendaraannya bersama yang lain.
Bunga dan Kris juga Edo dan Rexy serta faris turut mengikuti Renald yang kini berada di dalam mobil yang di kendarai Edo.
Renald nampak sangat panik, bulir bulir keringat membasahi keningnya.
Bayang bayang kebencian Katania pada Nayra tergambar jelas di ingantannya, ia semakin menggigil di buatnya.
" renald tenanglah...kendalikan dirimu, jika tidak kau akan pingsan dan benar benar tidak akan menemukam istrimu " Edward yang duduk di sampingnya menenangkannya.
Sementara kepanikan tengah mendera Renald dan kawan kawannya, di sebuah gedug tepatnya sebuah ruangan luas yang tertutup nampak seorang wanita terikat di sebuah kursi. Kaki dan tangannya terikat, mulutnya tertutup lakban.
Di hadapannya nampak duduk seorang wanita cantik berkacamata hitam, ia menyilangkan satu kakinya diatas kaki satunya sembari matanya menatap tajam wanita yang terikat tak berdaya di hadapannya.
__ADS_1
Sungguh kesan arrogant terpancar dari wanita berkacamata hiam itu. Wanita cantik itu nampak sabar menatap tawanannya sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.