
" aku....siapa aku....?! " Renald berkata dengan mengerutkan keningnya, merasa ada yang aneh Nayra mengambil piring di tangan Renald dan meletakkannya di meja.
" maksudmu aku...aku Renald revaldy gautam...tapi aku, aku..." renald kembali berkata seperti orang bingung, keringat mulai bercucuran di dahinya dan ia mulai mengerang kesakitan dan memegangi kepalanya
Nayra sedikit panik melihatnya, ia teringat Renald yang seperti ini di taman beberapa waktu yang lalu
" ada apa...katakan padaku, kamu kenapa ?! " Nayra bertanya dengan panik dan ia semakin panik manakala jemari Renald menggenggam jemarinya dan terasa sangat dingin.
" yaAllah....demi Allah katakan padaku, aku harus bagaimana ?! " Nayra turut memucat melihat wajah Renald yang memucat.
" jangan pergi..kumohon, jangan tinggalkan aku seperti kemaren.." Renald berkata dengan menahan sakit dan keringat yang terus bercucuran. Nayra mencoba menyeka keringat dingin Renald dengan ujung baju di lengannya. Tanpa ia sadari, air mata telah mengalir deras di matanya.
Tak tahan melihat kesakitan yang tampak di wajah Renald, Nayra dengan cepat turun dari tempat tidur menuju pintu tanpa menghiraukan Renald yang terus memanggilnya seakan ia ketakutan akan di tinggal pergi Nayra
" maria....maria..." Nayra berteriak dengan keras memanggil manggil wanita yang tadi datang kekamarnya setelah ia membuka pintu kamar terlebih dahulu.
" ada apa nona ?! " tak menunggu lama nampak Maria datang dengan berlari
" Renald kesakitan, aku tidak tahu harus bagaimana. Mungkin kau tahu obat yang biasa ia konsumsi " terang Nayra dengan wajah yang panik dan pucat pasi.
Maria melongo kedalam, kini giliran ia yang gemetaran melihat keadaan Renald yang tak berdaya memegangi kepalanya dengan kedua tangannya di pinggiran tempat tidur.
" maafkan aku nona, aku tidak tahu...nona katania, dia.. dia yang..." Maria tak melanjutkan kata katanya karena ia melihat perubahan ekspresi pada Nayra, seperti orang syok, Nayra melangkah mundur hingga ia menabrak dinding
" katania...katania, dia..." Nayra berbisik pelan ia nampak kebingungan, dirinya sudah berjanji untuk menjauh dari Renald pada wanita itu, tapi apa sekarang...
" hubungi tunangannya itu...aku, aku.." Nayra terdengar berucap lirih pada Maria membuat wanita itu membelalakkan mata padanya tak percaya. Nayra berniat pergi dari sana karena merasa inilah yang harus ia lakukan. Namun entah kenapa kakinya terasa sulit untuk ia gerakkan setelah ia berbalik memunggungi Renald hendak berlalu.
__ADS_1
Nayra menoleh kearah Renald, ia melihat pria itu mengulurkan tangan tak berdaya padanya, wajahnya sangat pucat dan sangat kentara kalau ia tengah menahan sakit. Bibir pria itu terus mengucap dengan wajah yang sepenuhnya memohon kepadanya.
" jangan pergi....jangan pergi, kumohon " terdengar suara Renald lirih.
Nayra tak mampu lagi menahan perasaannya, ia segera berbalik dan berlari menghambur memeluk Renald, persetan dengan janjinya pada Katania, pria itu sangat membutuhkannya dan ia pun tak mampu pergi darinya.
Nayra memeluk erat Renald dengan deraian air mata seakan turut merasakan kesakitan yang di rasakan pria itu,
Sedang Renald, ia memeluk erat pinggang Nayra bagai anak kecil yang takut di tinggalkan ibunya kemudian meringkuk di pangkuan Nayra dengan kedua tangannya masih setia memeluk pinggang wanita itu.
Maria mengalihkan pandangannya ketempat lain, sembari mengerjab ngerjabkan matanya agar tak menangis. Ia menelpon seseorang.
" hubungi dokter edward sekarang..darurat " suara Maria terdengar bergetar namun tegas.
" apa yang sebenarnya terjadi padanya, kenapa dia seperti ini...?! " suara Nayra terdengar bertanya kepada Maria setelah Renald terlihat tenang dan diam meski tangannya masih memeluk erat pinggangnya dan wanita berdarah asing itu segera melangkah mendekat.
" maafkan saya nona..saya sungguh tidak tahu apa apa. Baru satu tahun kami bergabung dengan tuan Renald. Kami memang sering melihatnya seperti ini namun kami tidak tahu alasannya " jawab Maria sepenuh hati.
" apa kau sudah menghubungi katania ? " tanya Nayra lagi namun kali ini ia menunduk menatap Renald dengan sendu.
" belum nona...maaf kan saya, tapi tempat ini tidak di ketahui oleh nona katania, tuan renald baru tadi pagi memerintahkan kami mempersiapkan tempat ini tanpa sepengetahuan nona katania " jawab Maria membuat Nayra mengalihkan pandangnnya pada wanita itu sembari mengerutkan keningnya.
" dan mohon maaf, sunggun bagi kami hanya perintahnya yang harus kami patuhi " Maria menunduk hormat pada Nayra dan Nayra menghela nafas berat mendengar penjelasan Maria.
Bersamaan dengan itu pintu di ketuk dari luar, membuat Nayra terkejut dan seolah paham dengan apa yang di cari istri dari bosnya itu, Maria menyerahkan saputangan lebar miliknya pada Nayra dan kebetulan berwarna hitam kemudian menyahut selembar selimut yang tergeletak di lantai dan menutupkan kepada kepala Nayra.
" maaf nona.." pamitnya pada Nayra dan Nayra mengangguk mengerti.
__ADS_1
" tunggulah.." jawab Maria kemudian sedikit keras pada pengetuk pintu.
Perlahan Nayra menurunkan kepala Renald dari pangkuannya dan meletakkannya dengan pelan pada bantal, kemudian ia turun dari pembaringan dan mengenakan saputangan Maria untuk menutup wajahnya.
" silahkan dokter edward.." Maria membuka pintu dan menyilahkan seorang pria seumuran Renald untuk masuk setelah di rasa Nayra telah tertutup sempurna, di luar nampak dua orang pria tengah berdiri tegap dengan wajah penuh kecemasan.
Keduanya adalah zack dan lee. Mereka berdua juga Maria merasa sangat berhutang budi pada Renald, karena telah mengangkat mereka dari lembah hitam anak jalanan satu tahun yang lalu. Dan sejak itu mereka berjanji mendedikasikan diri mereka kepada Renald sepenuhnya.
Mereka menjadi tangan kanan Renald menjalankan bisnis ekspedisi barang barang legal maupun tidak legal tanpa sepengetahuan Katania.
Sementara itu di dalam ruangan tampak pria tampan berkebangsaan Kanada menatap kearah Nayra
" beliau istri tuan Renald tuan ...." Maria memilih lebih dulu menjelaskan, dokter muda itu mengangguk dan menunduk sejenak kearah Nayra meski otaknya di penuhi pertanyaan akan wanita yang kini berpenampilan aneh dihadapannya itu, kepala yang tertutup selimut dan wajah yang tertutup saputangan hitam, ia menggeleng gelengkan kepalanya.
" siapa dia, apakah dia wanita yang sempat di bicarakan Renald padanya di telpon beberapa waktu yang lalu ? " pikirnya,
dan bersamaan dengan itu Nayra pun menjawab sapaannya dengan menganggukan kepalanya pula.
" apa yang sebenarnya terjadi..." tanya Nayra setelah beberapa saat dokter itu memeriksa keadaan Renald yang terbaring tak berdaya.
Dokter Edward menghela nafas.
" aku tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi padanya sebelum bertemu denganku, aku bertemu dia satu setengah tahun yang lalu juga dalam keadaan seperti ini di jalan..." terang dokter Edward kemudian
" dia kehilangan hampir seratus persen ingatannya, dan parahnya lagi, ia juga mengkonsumsi obat obatan yang bila di aplikasikan dengan obat tertentu itu akan semakin memperparah ingatannya menghilang.." jelas dokter Edward lagi.
" bagaimana dia bisa kehilangan ingatannga sebesar itu, dan apa yang memicu ia kesakitan seperti ini ?! " Nayra semakin tampak khawatir juga ada yang mengganggu pikirannya kini.
__ADS_1
" sebuah benturan yang sangat keras di kepalanya adalah alasan terbesar hilangnya ingatannya, sedang pemicu rasa sakit di kepalanya..ia selalu mengatakan ia melihat seorang wanita berhijab dalam mimpinya, dan jika ia memaksa mengingatnya kepalanya akan terasa sakit " jawaban dokter Edward membuat Nayra mendelik dan tubuhnya tiba tiba bergetar hebat.
" mungkinkah....!!! "