Cinta Gadis Dingin

Cinta Gadis Dingin
tidak akan melepaskan


__ADS_3

Katania duduk diruang tunggu dengan matanya terus menatap pintu ruangan yang setia tertutup. Ingatannya melayang kepada tiga tahun yang lalu ketika ia selalu ada di depan ruang rawat rumah sakitnya karena seseorang.


" haruskah kubiarkan kau terbaring saja, agar kau selalu bersamaku ?! " bisiknya pelan pada dirinya sendiri.


Katania merasa ketakutan yang luar biasa ketika setiap statmentnya tentang Nayra tak lagi terrespon dengan baik oleh Renald. Tak ada tanggapan, hanya diam.


Apalagi setelah kejadian pada acara amal tuan Abisek. Renald tiba tiba membatalkan jadwal kepulangan mereka ke Kanada.


" aku tidak mau sayang..." jawab Katania setengah berteriak pada Renald waktu itu.


" maafkan aku Katania...aku idak ingin kembali terlebih dahulu, beri aku sedikit waktu. Aku ingin tahu tentang sesuatu.." pinta Renald padanya kala itu.


" tentang apa sayang....sedikit waktu sampai kapan, kau selalu mencari cari alasan untuk menunda pernikahan kita Renald " Katania mulai menangis, Renald segera memeluknya.


" Katania...kumohon sedikit lagi, entah mengapa aku merasa tak tenang, aku ingin menyelesaikan semua sebelum kita menikah " kata Renald sembari mengelus pundak wanita itu.


Katana segera masu ke dalam ruang pemeriksaan Renald ketika dokter telah mempersilahkannya.


Menatap pria yang kini telah duduk bersandar pada bantal yang di tumpuk dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


" sudah baikan ?! " tanya Katania mencoba menghilangkan kegundahan di hatinya.


" hmmmm..." jawab Renald pelan


" kapan datang ?! " tanyanya lagi, katania mendekat dan merebahkan kepalanya di dada bidang pria itu.


" tadi pagi..sengaja gak ngabarin buat surpresin kamu, eh malah aku yang kamu kasih surprise " jawab Kataniaa memeluk erat Renald.


Renald terdiam membisu, tangannya pun terasa enggan untuk sekedar membalas pelukan Katania.


Katania tahu itu, ia sadar selama ini dirinya memang cinta sendirian, namun ia tak mempermasalahkan itu.


Baginya tak penting pria itu membalas cintanya, asalkan mereka bisa bersama itu sudah cukup baginya.


Dalam diam dengan memeluk dada Renald, tangan wanita cantik itu mengepal erat.


" aku pastikan aku akan membunuhmu nayra...kaulah yang menciptakan jarak diantara kami selama ini " bisiknya dalam hati.

__ADS_1


" yang...aku keluar sebentar, aku segera kembali " pamit Katania pada Renald setelah melihat notif pesan di handphonenya.


" hmmm..." jawab Renald masih dengan posisi menutup matanya dengan lengannya.


Sampai diluar ruangan agak jauh dari ruang rawat Renald seorang pria paruh baya tengah duduk di bangku tunggu dan Katania duduk di sebelahnya.


" paman kau disini...?! " sapa Katania pada pria paruh baya itu.


" iya...lakukan dengan cepat Katania "


" tidak semudah itu paman, dia kembali meminta waktu untuk menikahiku.."


" aku sudah peringatkanmu waktu itu, menikahlah terlebih dulu sebelum kau biarkan dia kembali kesini...tapi kau malah menurutinya saja " geram pria itu,


" sekarang kau membuat kita semakin sulit...kau sadar dia sangat mencintai wanita itu begitu dalam, bahkan melebihi nyawanya sendiri. Kau pikir kenapa justru dia yang jatuh ke jurang dan bukan wanita itu padahal dialah target kita dan dia ada di posisi yang benar untuk jatuh ke jurang " omel pria itu dengan pelan namun bisa di dengar dengan jelas oleh Katania.


" aku melihat dengan mata dan kepalaku sendiri Katania, bagaimana dia lebih mementingkan nyawa istrinya di bandingkan dengan nyawanya sendiri...kau tahu, betapa sulitnya aku menyusun rencana ini, aku berharap kehancuran Ar.co akan mudah dengan kepergian wanita itu disisinya...." lanjut pria itu.


" wanita itu hamil saat itu Katania, dan mereka tidak menyadarinya. Aku yakin kepergian wanita itu akan merapuhkannya dan memudahkan aku menghancurkan Ar.co dan kau bisa masuk dalam hidupnya lagi seperti dulu...tapi, hah...semua bahkan menjadi lebih sulit. Wanita itu mampu menggantikan posisi suaminya bahkan mertuanya "


" dia adalah kekuatan Yandi Katania, kau sudah melakukan kesalahan besar dengan membawanya kembali kesini tanpa statusmu yang pasti baginya. Skak mattt..." bentak pria itu


" apa yang akan bisa kau lakukan lakukan dengan segera katania, jangan sampai rencanamu yang dengan datang kesini karena hendak menghancurkannya justru kau sendiri yang di hancurkan olehnya, berhati hatilah....dia bukan wanita seperti yang kita duga " pria itu memperingatkan dengan tajam pada Katania.


" satu lagi....Alan hilang, aku belum menemukan jejaknya. Wanita itu benar benar mengerikan..." tambahnya sebelumnya akhirnya dia pergi meninggalkan Katania yang duduk terdiam tak bersuara.


Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah memperhatikan interaksi keduanya meski ia tak bisa mendengar dengan jelas percakapan keduanya.


Namun bentakan pria itu sempat ia dengar


" paman mahyong...siapa yandi ? Kenapa aku seperti tidak asing dengan nama itu, siapa yang hamil...wanita siapa maksud mereka " racau pria itu.


Melihat pria yang bicara dengan Katania, Renald yang beridiri dari balik pintu segera kembali naik ke tempat tidur dan pura pura tertidur.


" cklek...." Katania nampak masuk dan segera mendekat padanya, sejenak ia menatap wajah Renald dengan sendu.


" aku sangat mencintaimu...tolong mengertilah aku" bisiknya pelan sembari mencium kening Renald dan berbalik kearah sofa.

__ADS_1


" apa yang kau sembunyikan dariku Katania.." tanya Renald dalam hati.


🌻🌻🌻


Nayra nampak memasuki sebuah restauran mewah sendirian. Sekali lagi ia kembali melakukan aktivitasnya sendirian meski tetap kali ini Edo dan Rexy serta Faris menjadi bayang bayangnya.


Nayra nampak mendekat pada meja dimana seseorang telah melambaikan tangannya padanya kemudian duduk saling berhadapan.


" silahkan memesan...atau aku yang pesankan ?! " tanya Katania dengan nada rendah.


Ya..Nayra memenuhi permintaan Katania untuk bertemu.


" tidak terimakasih....langsung saja, katakan apa maksudmu ingin bertemu denganku. Tapi sebelumnya aku ingin menjelaskan...tidak ada..." kata kata Nayra terputus oleh Katania.


" tidak perlu menjelaskan lagi, aku percaya pada calon suamiku...dia bilang tidak sengaja bertemu denganmu " potong Katania, ia mencoba menyerang wanita bercadar itu dengan mencabik cabik perasaannya terlebih dahulu.


Terdengar Nayra menghela nafas berat.


" lalu..?! "sebuah tanya mengalir dari mulut Nayra


" jauhi dia...kami akan segera menikah, namun ia merasa kau ada hubungannya dengannya " Katania to the point.


" seperti yang sudah pernah aku katakan padamu nona Katania, tidak pernah ada hubungan apapun di antara kami selain pure hubungan pekerjaan " jawab Nayra setenang mungkin meski kini hatinya kembali terasa teriris sembilu mendengar kata pernikahan antara wanita cantik di hadapannya itu dengan pria yang nota bene sangat mengingatkannya pada sang suami.


" aku tahu nona nayra...akan tetapi rumor yang beredar terlanjur menyalah artikan hubungan kalian berdua, dan aku tidak mau hanya karena berita tak berdasar itu akan menimbulkan spekulasi buruk keluargaku terhadap Renald " Katania memyampaikan kata katanya sehalus mungkin.


Nayra terdiam sejenak, matanya menatap kearah luar jendela kaca. Di mana ia bisa melihat lalu lalang kendaraan bermotor melintas di jalan raya dengan segala urusan masing masing.


" setelah proyek ini rampung, aku pastikan tidak akan ada lagi kerjasama di antara kami " ucap Nayra kemudian membuat Katania menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan.


" terimakasih nona Nayra..." kata Katania mengangguk pelan tanda ia menghormati Nayra.


Nayra turut mengangguk pelan, tak ada alasan baginya tidak menghormati sikap seorang Katania.


Beberapa menit kemudian Nayra nampak pergi meninggalkan tempat itu.


Sepeninggal Nayra, Katania nampak mengaduk aduk minumannya sembari tersenyum sinis.

__ADS_1


" maaf paman mahyong, sepertinya kali ini perkiraanmu salah, aku pastikan...kali ini wanita itu akan hancur sehancur hancurnya bahkan untuk sekedar membuka matanya saja ia akan enggan " katanya di balik senyum sinisnya.


__ADS_2