Cinta Gadis Dingin

Cinta Gadis Dingin
cinta yang salah kah....


__ADS_3

Rein menghela nafas berat, masih teringat ketika ia berhasil mendekati Nayra bertahun-tahun yang lalu dan meyakinkan gadis itu bahwa dirinya adalah cintanya.


"Aku mencintaimu, Nay... Sudah lama ku pendam perasaan ini. Semakin hari semakin dalam perasaanku padamu..." ucap Rein pada Nayra suatu hari di acara perpisahan kampus Nayra.


Rein sengaja datang dari Semarang, tempat ia menjalani pendidikan militer, hanya untuk menyampaikan perasaannya yang kesekian kalinya pada gadis itu.


Nayra terdiam terpaku, raut wajahnya sulit dibaca oleh Rein yang menatapnya dengan tajam.


"Aku tak pernah menduga kau menyimpan perasaan yang lebih dari sahabat padaku, Rein..." kata Nayra kemudian.


"Aku tak pernah punya keberanian mengungkapkannya padamu. Aku tahu jauh di lubuk hatimu kau memendam rasa yang begitu dalam pada Yandi, tapi yakinlah, aku akan mampu menghapus rasa itu dari hatimu jika kau mengizinkanku," tambah rein


"Kau salah, rein... Aku tak menyimpan perasaan apapun pada siapapun," jawab nayra dengan nada dingin.


"Terserah padamu, Nay... Satu-satunya yang kuinginkan adalah izinkan aku berada di sisimu, aku akan membuktikan padamu bahwa akulah takdirmu," meyakinkan Rein dengan keras.


"Bagaimana caranya?" tanya Nayra kemudian.


"Jadilah kekasihku, Nay... atau menikahlah denganku," kata Rein mantap. Nayra terdiam memikirkan kata-kata Rein.


"Datanglah pada orang tuaku jika kau memang bersungguh-sungguh," jawab Nayra akhirnya.


Rein benar-benar mendatangi orang tua Nayra dan meminta Nayra untuk dinikahi.


Namun, semua tidak berjalan sesuai keinginannya. Ayah rein tidak mengizinkannya untuk melaksanakan niatnya dan diam-diam mengirimnya ke luar negeri untuk misi perdamaian dunia tanpa akses media sama sekali.


Tanpa sepengetahuannya, ayah rein telah memutus tali yang telah mati-matian ia rajut bersama Nayra melalui ayah Nayra.


Sekali lagi, Rein menghela nafas berat.


Apa yang harus ia lakukan saat ini? Nayra semakin sulit ia gapai, terlebih lagi Yandi sepertinya telah menyadari perasaannya pada Nayra dan perasaan Nayra yang sebenarnya pada dirinya.


Mustahil Yandi akan melepas Nayra begitu saja meski Maritha benar-benar mewujudkan ancamannya.


"Salahkah aku mencintai seorang wanita yang juga mencintai orang lain begitu dalam... Cinta yang salahkah yang aku coba ingin miliki sekarang?" bisik Rein dalam hati.

__ADS_1


Di tempat lain, di taman yang sangat luas dan indah karena bunga-bunga yang bermekaran dan lorong jalan yang panjang dan teduh karena dihiasi pepohonan di kanan-kirinya, Nayra dan Yandi berjalan berdampingan.


Yandi memasukkan tangan Nayra ke dalam saku jaket panjangnya, tubuhnya yang sangat tinggi membuat Nayra serasa seperti anak kecil yang sedang dijaga oleh ayahnya.


"Ckkk..." decak Nayra pelan.


"Ada apa? Kenapa kau berdecak?" tanya Yandi menghentikan langkahnya.


"Lihatlah dirimu... Badan segede gambreng, setinggi tiang listrik. Tidak salahkah kau memilihku?!" nyinyir Nayra sambil menyipitkan mata ke arah Yandi.


"Aku seperti liliput bersamamu... Kau menyiksaku," ucap Nayra.


"Oh ya, bagaimana bisa aku menyiksamu?" tanya Yandi.


"Tentu saja. Kau lihat, aku harus mendongak hanya untuk melihatmu saat berdiri begini," rutuk Nayra dengan cepat. Yandi segera membungkuk dan menundukkan kepala hingga kepalanya hampir menyentuh kepala Nayra, membuat gadis itu terkejut.


"Aku akan menunduk begini saja agar kau tak perlu mendongak karena ingin melihatku," kata Yandi kemudian.


"Ckkk..." Nayra hendak mendorong tubuh Yandi, namun gagal karena tangan Nayra berada dalam genggaman dan saku Yandi. Yandi tertawa melihatnya.


"Mana aku berani," jawab Yandi sambil kembali membawa Nayra berjalan bersamanya.


"Sepertinya akan ada banyak rintangan dalam jalan kita. Maukah kau berjanji untuk terus disisiku apapun yang terjadi?" kali ini keduanya duduk di bangku taman bersisihan dengan tetap tangan Nayra berada di saku Yandi.


"Insya Allah," jawab Nayra.


"Setelah kita menikah, bisakah kau memenuhi permintaanku, Nay?" tanya Yandi lagi.


"Apa?"


"Pakailah cadar dan ikut bersamaku kemanapun aku membawamu."


"Ada apa? Kenapa kau bicara seperti ini?" tanya Nayra bingung.


"Tidak ada apa-apa. Sulitkah permintaanku untuk kau penuhi? Jika iya, aku tidak akan memaksa."

__ADS_1


"Tidak, Insya Allah aku akan melakukannya," jawab Nayra dengan lembut.


"Terima kasih," ucap Yandi sembari mencium punggung tangan Nayra yang berbalut kaos tangan yang berada dalam genggamannya.


"Segera setelah kita menikah, aku akan membawamu ke Australia. Aku mendirikan perusahaanku sendiri yang bergerak di bidang fashion Muslimah karena aku terinspirasi olehmu juga property yang aku rintis disana pada awalnya, dan kemarin ketika aku membawamu ke proyek pembangunan gedung. Kau ingat?" kata Yandi.


"Hmmm..." jawab Nayra.


"Aku ingin perlahan-lahan memindahkan pusat bisnis fashionku ke sini, bersamamu," kata Yandi kemudian membuat Nayra berkaca-kaca.


"Kenapa?" tanya Yandi khawatir.


"Tidak ada apa-apa, maafkan aku... Maafkan aku yang masih meragukanmu," kata Nayra terbata-bata.


"Tak apa," ucap Yandi sambil mengelap air mata yang meluncur begitu saja di pipi Nayra.


"Tentang Maritha, jangan terlalu keras padanya, bagaimanapun, dia sahabatmu!" ucap Nayra.


"Entahlah... dia sudah berubah begitu banyak, aku bahkan hampir tak mengenalinya. Aku akan segera mencari tahu bagaimana dia bisa memiliki saham hampir 40 persen di perusahaan properti ku yang bahkan Kris tak aku ajak berinvestasi di sana..." kata Yandi sambil menerawang jauh.


"Aku siapkan semua usaha mandiriku untukmu dan anak-anak kita nanti. Aku tidak mau ada campur tangan orang asing di sana jikalau suatu hari nanti aku tak mampu lagi mengelolanya... aku ingin kau yang akan mengambil alihnya," lanjut Yandi serius.


"Yan... kau berpikir terlalu jauh...!" tukas Nayra.


"Itu penting, Nay... Aku calon kepala keluarga, bukan? Aku punya tanggung jawab yang besar kepadamu dan anak-anak kita nantinya," jelas Yandi tegas.


"Amin..." Nayra mengamini ucapan Yandi dengan ikhlas dan tersenyum hangat.


Sungguh pembicaraan yang berat yang terjadi di antara mereka berdua, menurut Nayra.


Nayra tak bisa berhenti memikirkan perbincangannya tadi dengan Yandi. Hatinya terus mengukir tanya dan rasa bersalah.


Setelah itu, keduanya memutuskan pulang setelah memastikan semua persiapan pernikahan mereka telah siap seratus persen.


Yandi benar-benar tak ingin kecolongan sedikit pun hingga dia turun tangan langsung mengecek kesiapan acaranya. Dia memang telah meminta Kris mengatur segalanya, tapi ia pun masih ingin lebih memastikan.

__ADS_1


Setelah ia puas dengan segalanya, ia pun membawa Nayra pulang ke rumahnya.


__ADS_2