Cinta Gadis Dingin

Cinta Gadis Dingin
teriakan Maritha


__ADS_3

Puguh di buat geram oleh seorang wanita yang nampak mungil di hadapannya, yang karena setiap gerakan dari tubuh mungil itu bagai serangan monster yang siap mencabik siapapun yang menghalangi langkahnya.


Pakaian syar'i yang melengkapi penampilannya sungguh tak sedikitpun menghambat apalagi menghalangi kelincahan gerakannya.


Tak dapat di pungkiri, Nayra sungguh wanita dingin yang memyimpan sejuta misteri yang menakjubkan semua mata. Bahkan jika pun itu mata seorang wanita, sudah pasti mereka akan berdecak kagum melihatnya.


Nayra sungguh sukses memelihara auratnya, berikut memupuk pertahanan diri dengan begitu lihainya. Dia tak perlu memperlihatkan sedikit saja anggota tubuhnya hanya untuk sekedar merebut perhatian kaum adam.


Bahkan meski tanpa senyum sekalipun, bisa di pastikan mereka akan berbaris mengantri di belakangnya. Dan itu memang sudah di buktikan oleh wanita cantik yang kini berdiri tegak dari duduknya itu.


Ya Maritha telah menjadi saksi bagaimana teman teman laki lakinya berebut hati seorang Nayra dulu di sekolahnya. Termasuk pria yang mati matian tengah ia perjuangkan kini.


Nayra baju saja mengatur nafas ketika teriakan keras Alan mengejutkan dirinya


" nona.....awas....!!! " teriak Alan sembari berlari ke bawah, Nayra segera menoleh, namun rasanya akan sangat terlambat.


Seorang pria berbadan tinggi dan sedikit kekar nampak memegang tongkat pemukul yang diarahkan tepat kearahnya. Agustin hendak berlari namun tertahan oleh mata bulat dan tajam Puguh.


Nayra merasa kaku, seketika otaknya tiba tiba blank. Ia pasrah dan memejamkan mata.


Namun beberapa detik kemudian ia tetap tak merasakan apaoun, justru ia merasa tubuhnya di tarik dalam dekapan seseorang dan bersamaan dengan itu ia mendengar erangan kesakitan berikut tubuhnya yang seakan terhimpit kebelakang.


Nayra membuka matanya lebar lebar, ia sangat terkejut bukan kepalang, dirinya berada dalam pelukan pria yang menikahinya dua minggu yang lalu itu.


Yandi mengerang kesakitan dengan dada yang sedikit membusung kedepan karena menahan sakit akibat pukulan pria di belakangnya.


" sayang....!! " ucapan pelan Yandi yang di denangar wanita itu sukses semakin membuat Nayra terkejut menatapnya.


" aku sangat merindukanmu sayang..." kembali yandi melanjutkan kata katanya meski terdengar sangat pelan. Wajah Nayra kembali mengingatkannya pada detik detik kecelakaan maut yang berhasil memisahkan keduanya selama hampir tiga tahun lebih.


" kau..." Nayra masih terkejut demi mendengar panggilan itu, nada suara itu hanya dimiliki sang suami. Yan Aditya Rachman. Nada kata kata manja yang selalu di lontarkan Yandi padanya jika keduanya tak berada dalam tempat yang sama.

__ADS_1


" Yandiiiiiiii......." teriak Maritha yang melihat ada sinar merah dari arah luar menuju punggung belakang pria yang tengah nampak lemas memeluk Nayra.


Belum sempat Nayra menguasai keterkejutannya, teriakan Katania yang memenuhi ruangan semakin membuatnya kaget, apalagi wanita itu berlari cepat hingga melompati sofa kearah Nayra dan Yandi berdiri terhuyung.


" dorrr..."


suara tembakan mengiringi pelarian Maritha di belakang Yandi yang terhenti, peluru itu menembus pundak kiri wanita cantik itu hingga membuatnya terpelanting kebelakang, terjungkal melewati sofa.


Jacob yang baru datang bersama dengan William segera berlari cepat meraih dan mendekap tubuh tak berdaya itu. Darah segar mengalir dari bekas tembakan itu. Tangannya terkepal erat sembari mendekap Maritha dalam pelukannya.


" bangsat kalian...." William berteriak hebat melihat Maritha tergeletak berlumuran darah. Ia berlari menghajar pria yang masih memegang tongkat pemukul di belakang Yandi mengira pria itu yang telah menembak saudara sepupunya itu.


Keadaan semakin kacau, ketika teman teman Nayra dan anak buah Renald serta William telah mendapat komando untuk menyerang balik kawanan Puguh dan Agustin yang berjumlah cukup banyak.


Puguh menyeret Agustin dengan cepat meninggalkan tempat itu dengan segera.


Agustin yang baru saja bisa melihat Nayra setelah sekiam lama seakan enggan meninggalkan tempat itu.


Sejenak mata keduanya bertemu, sebelum puguh benar benar menyeret Agustin meningalkan tempat itu. Nayra yang menatapnya penuh selidik kearah Agustin dengan mengerutkan keningnya dan Agustin yang menatapnya penuh kerinduan dan kekaguman yang besar dalam kebisuan.


Satu hari telah berlalu setelah insiden yang terjadi di rumah mewah Katania itu, pernikahan yang dipaksakan Katania atau Maritha karena kedoknya yang telah terbongkar kepada Yandi sama sekali tak terjadi, Pria tampan yang tinggi menjulang itu nampak masih duduk di bangku tunggu rumah sakit dengan jemarinya yang tak terlepas sedikitpun menggenggam jemari Nayra, membuat seorang pria yang duduk di pojok sana menatanpnya jengah dan cemburu. Pria itu tidak lain adalah Willian.


Sedang Jacob duduk tertunduk di bangku tepat di depan pintu masuk ruang penanganan Maritha.


Pria itu terus menundukkan wajahnya kebawah menatap lantai yang sedari tadi terus membisu meski ia menatapnya telah sangat lama.


Ya...mereka semua mengikuti Jacob membawa Maritha ke rumah sakit setelah pertarungan sengit terjadi malam itu di rumah Maritha.


Beruntung rumah Maritha berada di kawasan elit yang nota bene warganya tidak mau tahu urusan tetangganya dan berpagar dinding tinggi juga besi tebal pada pintunya. Sehingga sulit di ketahui dari luar jika ada keributan di dalamnya.


Ya....komunitas orang kaya di kota besar sebagian besar memang seperti itu, mereka cenderung tidak mau tahu dan tidak ingin ikut campur urusan tetangganya. Bahkan terkadang mereka tidak akan tahu siapa yang tinggal di sebelah mereka.

__ADS_1


Kris dan Bunga mendekat kearah Nayra dan Yandi.


" Yan kau kah ini ?! " tanya Kris setelah jarak keduanya begitu dekat.


Yandi mengangkat wajahnya menatap dua orang dihadapannya itu lalu berdiri, Yandi merangkul pundak Kris cukup lama sebelum ia limbung jatuh terduduk kembali.


" kau..terluka, ada darah di kepalamu, dokterrrr...." Nayra berteriak histeris melihat darah yang tampak mulai mengering di kepala bagaian belakang Yandi.


Yandi memang terluka karena pukulan tongkat pemukul tadi malam, tapi ia berusaha menahannya. ia tak ingin di rawat di rumah sakit lalu berakhir dengan tanpa sang istri di sisinya. Ya...yandi trauma dengan apa yang sudah ia alami. Kecelakaan dan terbangun di rumah sakit tanpa satu orangpun yang ia kenal.


Yandi terus meremas jemari Nayra, sengaja menahan agat wanita itu tak meninggalkannya selama ia di periksa.


" tenanglah...aku tidak akan kemana mana " Nayra mengelus punggung tangan Yangi yang masih menggenggamnya, mencoba menenangkan sang suami. Yandi menggeleng pelan.


" tetap disini..." pintanya dengan wajah sendu, karena efek bius yang di suntikkan kepadanya tadi.


" dasar bucin....gak berubah lo udah tua juga " omel Kris pada Yandi yang tak mendapat jawaban apapun dari empunya orang yang ia ejek.


Nayra menuruti kemauan san suami, tak sedetikpun ia meninggalkan ruangan itu meski kini Yandi tengah tertidur pulas karena efek obat yang di minum.


Tak henti hentinya wanita cantik berpakaian syar' i itu mengucap syukur, meski keduanya telah terpisah hampir tiga tahun lebih akan tetapi kecelakaan itu memang tak merenggut nyawa suaminya seperti keyakinannya selama ini bahwa suaminya masih hidup.


Dia juga bersyukur, karena penculikan yang terjadi padanya Yandi mendapatkan ingatannya kembali.


Sungguh ada hikmah di balik petaka.


Di tatapnya wajah tampan yang tengah terlelap di hadapannya itu. Pelan ia mengusap wajah yang sedikit tirus itu.


" keterlaluan mereka....hendak memanfaatkan seorang anak untuk menghancurkan orang tuanya sendiri " geram Nayra mengingat penjelasan demi penjelasan yang di sampaikan Alan padanya.


Sementara di ruang rawat Maritha, gadis itu telah mampu melewati masa kritisnya paskah operasi meski masih belum sadarkan diri. Jacob yang dari pertama Maritha masuk rumah sakit sudah selalu bersamanya, nampak duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.

__ADS_1


Seakan paham dengan keadaan sang asisten, William tak mempermasalahkan ketidak hadiran sang asisten di perusahaannya. William tahu akan perasaan Jacob pada sang sepupu.


" kalau tak malam ini, kemungkinan besok om dan tante akan datang " kata William sambil menepuk bahu Jacob. Jacob mengangguk tanda mengerti. Matanya terus menatap tak berkedip tubuh Maritha yang terbaring di atas brankar rumah sakit tanpa ada tanda tanda akan segera siuman meski ia telah dinyatakan melewati masa kritisnya.


__ADS_2