
" brakkk...." suara pintu di buka paksa dengan ditendang dari luar, beberapa orang pria nampak menyeruak masuk hampir bersamaan.
Renal menatap nanar seisi ruangan yang telah kosong, matanya nampak memindai seluruh isi ruangan itu dan sejurus kemudian tatapan matanya tertuju pada sebuah kursi kayu, dimana di sana masih ada tali yang tergeletak di bawah. Tak ia hiraukan rasa sakit yang mendera kepalanya.
Tubuhnya tiba tiba saja serasa membeku membayangkan Nayra terikat tertahan disana.
" Nayra..." desisnya perlahan
" tuan muda...tuan muda cepatlah, seseorang baru saja terdeteksi keluar dari tempat ini melalui pintu belakang beberapa menit yang lalu. Dan nampaknya nona berada di salah satu mobil itu " penjelasan Edo dan Zack segera membuyarkan keterkejutan Renald.
Secepat kilat ia membalikkan badan dan berlari kearah mobil. Namun belum sampai pada mobil ia melihat sesuatu tergeletak di lantai, sambil memicingkan matanya Renald menunduk mengambil sesuatu itu.
Itu adalah sebuah gantungan kunci yang sama persis dengan miliknya. Segera ia mengambilnya dan melanjutkan langkahnya dengan cepat kearah kendaraannya.
" terhubung dengan apa alat pelacak ini ? " tanya Renald dengan tetap menyetir pada Edo yang duduk di sisinya karena memang dirinya mengambil sendiri alih kemudi.
Dibelakangnya duduk Zack dan Edward, sementara di mobil kedua di belakangnya yang lain tetap mengikuti.
Kecemasan dan kekhawatiran yang sama yang mereka rasakan kepada seseorang seakan menjadikan mereka sebuah tim yang solit. Yang meski tanpa komando mereka mampu bergerak seirama.
" jam tangan nona Nayra.." jawab Edo cepat membuat Renald mengerutkan keningnya
" lalu smartphone itu punya siapa ?! " tanya Renald lagi menyelidik, Edo tak lekas menjawab, ia tiba tiba saja merasa serba salah.
" apa kau tuli ?! " tanya Renald di buat jengah karena Edo yang tak lekas menjawab pertanyaannya.
" milik tuan muda Yandi..." jawab Edo kemudian membuat Renald mencebik, tak ia sangka pria yang selalu disebut namanya oleh Nayra itu begitu mengkhawatirkan wanita yang telah ia nikahi itu.
" pria itu lagi...dasar posesif..." Renald seolah mengejek Yandi.
Edo yang duduk di sisinya mengerutkan keningnya, ia seakan ingin tertawa mendengar pria disisinya itu seoalah mengatai dirinya sendiri.
Ya..Edo sama seperti Nayra, mempunyai pemikiran yang sama tentang Renald yang mungkin saja adalah Yandi setelah membaca laporan yang dikirimkan Rexy dan Faris.
" sejak kapan pria posesif itu memasang alat pelacak pada Nayra ? Setelah menikahkah ?! " tanya Renald lagi.
__ADS_1
" tidak tuan ...sebelum mereka menikah, dan setelah tuan muda berhasil mendekati nona kembali " terang Edo
" cihhh....penguntit " jawab Renald lagi dengan frontal, seketika membuat Edo melempar pandangannya keluar jendela menahan tawa.
Bagaimana mungkin pria itu mengumpati dirinya sendiri. Pikir Edo.
Tiba tiba saja sinyal di smartphone yang ada ditangan Edo melemah dan membuat Edo panik.
" ada apa ?! " tanya Renald.
" sinyalnya melemah tuan..mungkinkah baterai jam nona melemah " jawab Edo dan membuat Renald semakin khawatir dan panik.
Ia menginjak gas dan semakin mempercepat laju kendaraannya. Tak ada yang bersuara, mereka memang terbiasa dengan kecepatan laju kendaraan.
Hingga didetik berikutnya sebuah mobil dari arah depan membuat Renald terkejut dan mobil menjadi oleng karena kecepatan yang diatas rata rata.
Sungguh kejadian itu seakan melempar Yandi kepada ingatan yang tak ia mengerti. Ia menjerit seketika karena sakit tak tertahan dikepalanya.
Tangannya mendekap seoalah dirinya tengah mendekap sesuatu di pelukannya.
Sungguh suasana di dalam mobil itu sangat mencekam, wajah Renald memucat seketika, keringat dingin mengalir deras di keningnya.
Edo bisa merasakan tubuh Renald yang bergetar hebat.
Zack akhirnya mampu menepi dan menghentikan laju mobil itu. Kini giliran Edward bekerja dengan cepat.
Ia meminta Edo dan Zack membawa Renald ke bangku belakang. Ketika kesadaran Renald diambang batas Edward berhasil meminumkan beberapa obat dengan cepat pada Renald.
Bersamaan dengan itu handphone Edo bergetar dan sebuah pesan masuk dari aplikasi berwarna hijau itu.
" hotel Green house 317 " isi pesan itu tanpa menyebut siapa pengirimnya membuat Edo mengerutkan keningnya semakin panik.
" ada apa ?! " tiba tiba Kris dan Bunga sudah ada di belakang Edo. Pria itu menunjukkan pesan yang ia terima.
Kris mengerutkan keningnya.
__ADS_1
" ini hotel om Aditya yang dekat dengan bandara, sedangkan sinyal keberadaan Nayra di sana bukan ?! " monolog Kris dan di angguki oleh Edo.
" kita kesana do..." putus Kris, dua orang itu hendak berlalu juga Bunga, namun langkah mereka terhenti ketika Zack memanggil mereka
" kami akan melanjutkan mencari Nayra..kau bawalah tuanmu kembali " perintah Kris pada Zack namun di tolak oleh pria itu.
" tidak..aku ikut bersama kalian " kata Zack
" aku juga...kami merasa bertanggung jawab akan keselamatan nona pada tuan Renald " Lee ikut menimpali
" aku juga...aku sangat khawatir pada nona Nayra, ini adalah tanggung jawabku karena aku telah lalai mengawasinya " kini Maria terdengar bersuara dan mendekat.
Kris mengehela nafas. Tak ia sangka orang orang di hadapannya itu mempunyai kesetiaan yang tinggi pada tuannya.
" harus ada yang menjaga dan membawa Yandi pulang..maksudku Renald " Kris meralat kata katanya sendiri melihat Maria mengerutkan kening padanya. Begitupun Zack dan Lee.
" biarkan aku yang yang membawanya, kalian lanjutkan mencari Nayra.." Edward menengahi.
" kau sanggup...?! " tanya Kris.
" tenanglah..aku terbiasa menanganinga sendiri, kirimkan kabar selalu agar aku bisa menenangkannya bila nanti dia sadar dan menanyakan Nayra " pinta Edward dan di angguki oleh Kris.
Mereka akhirnya berpisah dan melakukan kesepakatan yang telah mereka sepakati.
Sementara itu di sebuah kamar hotel nampak seorang wanita cantik tergeletak di atas pembaringan.
Seorang pria tampan baru saja keluar dari kamar mandi dan melangkah menuju pintu dan membukanya.
Ia nampak melihat keluar, ia menghela nafas ketika ia tak melihat seorang pun disana.
Pria tampan itu berbalik masuk kedalam kamar tanpa mengunci pintu terlebih dulu. Baru saja ia hendak melangkah kearah sofa ketika tiba tiba ia merasa pusing dan pandangannya menggelap. Ia tak mampu lagi berbuat apa apa saat seseorang nampak merengkuh tubuh yang terbaring di pembaringan dan membawanya pergi dari sana.
Sedetik kemudian pria tampan itupun jatuh kelantai kehilangan kesadarannya.
" Nayra...." desisnya pelan sebelum ia benar benar kehilangan kesadarannya dan matanya terpejam sempurna.
__ADS_1