
Puguh dan beberapa orang nampak masih dengan setia menemani Hendra yang sedang menjalani proses perawatan. Mereka menunggu diluar, sedangkan di dalam ruangan Agustin dengan setia menemani sang ayah.
Satu minggu telah berlalu paskah insiden Hendra yang jatuh pingsan dan berakhir di bawa kerumah sakit. Tekanan darahnya belum stabil benar sehingga dokter belum memperbolehkan dirinya untuk pulang.
Puguh nampak tengah berbincang dengan beberapa orang termasuk juga Agustin disana, mereka berada di luar ruangan perawatan vvip Hendra kurniawan ketika sebuah rombongan mendekat kearah mereka.
Agustin dan Puguh terperangah dan menatap dengan tajam juga penuh tanda tanya akan kedatangan rombongan itu.
" selamat sore tuan Aditya..." tetap saja attitud yang diajarkan sang ayah Agustin terapkan, meski ia tak begitu suka dan menyimpan pikiran buruk akan kehadiran pria tua yang masih terlihat tampam itu beserta rombongannya itu.
" hmmm....aku dengar ayahmu sudah bisa di besuk " jawan Tuan Aditya begitu tenangnya.
" benar..akan tetapi " Agustin tak mampu melanjutkan kata katanya karena terburu dipotong tuan Aditya.
" ayahmu adalah pimpinan perusahaan dimana aku banyak menanamkan banyak uangku di sana, jadi kau pasti paham apa maksudku bukan ?! " tanpa menunggu jawaban dari Agustin tuan Aditya memerintahkan Rasyid membuka pintu itu.
Tuan Aditya kemudian menggenggam jemari nyonya Grace sang istri hendak masuk kedalam ruang perawatan.
Namun baru beberapa langkah ia hendak masuk, ia menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Agustin dan Puguh.
" kalian ikutlah masuk.." perintah Tuan Aditya kemudian melanjutkan langkahnya memasuki ruanh perawatan Hendra Kurniawan.
Di dalam ruangan, Hendra nampak melempar pandangannya ketempat lain ketika mengetehui siapa yang datang menemuinya.
Sebelumnya tadi ia sempat menatap penuh kebencian kepada wanita yang masuk bersama Aditya Rachman itu.
" bagaimana kabarmu..." tuan Aditya duduk dikursi di hadapan brankar Hendra. Sedangkan nyonya Grace duduk di sofa dan diikuti Rasyid yang berdiri tak begitu jauh dari tuan besarnya.
Sementara di depan pintu berdiri Puguh juga Agustin nampak memerhatikan keadaan dengan sangat serius.
" seperti yang anda lihat, maaf mengecewakan anda. Sepertinya aku masih akan mampu melawan anda " sindir Hendra.
Tuan Aditya Rachman tersenyum miring, namun juga menghela nafas
__ADS_1
" kau terlalu percaya diri....sebenarnya aku tahu, kau hanya sedang menghibur dirimu sendiri " jawab tuan Aditya.
" jika aku mau...hari itu juga aku mampu dengan mudah melibas pabrik obat abatanmu hingga tak bersisa, juga menghancurkan perusahaan keluargamu bukanlah hal yang sulit bagiku " sekali lagi Adity Rachman menunjukkan kuasanya.
" apa yang sudah kau lakukan terhadap putraku sungguh sulit untuk kumaafkan jika saja aku tak mengingat Ahyong " lanjut tuan Aditya membuat hendra Kurniawan menolej kearahnya
" maaf...aku terlambat mengenali dirimu " tiba tiba tuan Aditya berkata pelan namun dapat di dengar dengan jelas oleh Hendra.
" kita bertemu sekali...dan waktu itu kau masih muda dan pertemuan kita juga hanya sebentar "
" apa maksud anda tuan Aditya ?! " Hendra melontarkan pertanyaannya
" aku tahu kau adik Ahyong Cand sahabatku "
" mudahnya anda menyebut nama itu dengan mulut anda " seringain Hendra tak suka nama kakaknya di sebutkan.
" kematian Lian setelah kepergian Ahyong membuatku jiwaku cukup terpukul hingga aku tak mampu melakukan pesan terkhirnya kepadaku " lanjut tuan Aditya dengan tatapan mata menerawang ketempat lain seakan mengingat kenangan yang telah lalu.
Nyonya Grace berdiri dan mendekat kearah sang suami duduk.
" wanita itu adalah adik kelasku di fakultas hukum bernama Gadis. Dia tidak mencintai kakakmu hingga kakakmu merenggut kesuciannya secara paksa, kemudian ia berhasil menikahi wanita itu " nyonya Grace memulai ceritanya.
" Gadis hamil, kakakmu sangat senang. Tapi kemudian ayahmu mengetahui pernikahan diam diam kakakmu itu. Ayahmu berusaha memisahkan keduanya dengan berusaha menjodohkan aku dengan kakakmu. Kami berteman dekat selama ini aku, kakakmu, suamiku dan satu lagi teman kami yang keluarganya kau manfaatkan untuk menghancurkan keluarga kami, Lian " sambung nyonya Grace.
" Gadis mengalami banyak tekanan dari keluargamu, hingga akhirnya ia mengalami keguguran dan nyawanya pun melayang. Kakakmu hancur kami tak di perkenankan ayahmu untuk menemani kakakmu, ayahmu takut kami akan membawa lari kakakmu dan menuduhku sabagai penghianat yang menyebabkan kakakmu depresi "
" omong kosong " marah Hendra
" sekarang kalian mencoba mengadu domba kami dengan melempar kesalahan pada ayahku ?! " betak Hendra
" itu bukan omong kosong...jangan bersuara keras kepada istriku, aku bisa saja membunuhmu saat ini juga tanpa perduli lagi kau adalah adik Ahyong !! " tuan Aditya naik pitam mendengar sang istri di bentak.
Kemudian pria itu bediri dan melempar dengan kasar amplop besar berwarna coklat kearah muka Hendra.
__ADS_1
Ayah dari Yan Aditya Rachman itu tak mampu menahan lagi emosiny mendengar sang istri, wanita yang sangat ia cintai di bentak di depannya.
" pelajari sendiri berkas itu ....percuma aku berusaha menjelaskan padamu. Asal kau tahu kau percaya atau tidak dengan apa yang telah istriku sampaikan padamu itu urusanmu aku sama sekali tidak perduli. Namun jika sekali lagi kau berani mengganggu keluargaku maka saat itu juga berarti kau telah siap kehilangan semua yang kau miliki apapun itu " ancam tuan Aditya
" satu lagi, bukan Ar. Co perusahaan yang aku dan kakakmu dirikan bersama tapi Interval Company " lanjut tuan Aditya kemudian ia nampak membimbing bahu sang istri untuk keluar dari ruangan itu.
" jika ada kepentinganmu dengannya, datang padaku...aku akan menunggumu " imbuh tuan Aditya sebelum benar benar meninggalkan tempat itu.
" ayo ma.." ajak tuan Aditya dan di angguki oleh sang istri.
" ingat Mahyong....aku tahu kenyataan ini memang menyakitkan. Tapi percayalah tak semua yang menyakitkan itu benar menyakitkan. terkadang yang pait justru mengobati kita contohnya obat " pesan nyonya Grace pada Hendra Kurniawan yang masih terdiam membisu di atas brankar rumah sakit.
Perlakuan lembut tuan Aditya terhadap sang istri menarik perhatian seorang Puguh dan Agustin. Mengertilah mereka kini darimana sifat kasih sayang dan lembut Yan Aditya Rachman kepada Nayra berasal.
Hendra Kurniawan perlahan membuka amplop warna cokat itu dan mengeluarkan isinya.
satu persatu berkas berkas di dalamnya ia periksa dengan sangat teliti, foto foto sang kakak yang begitu mesra dengan seorang wanita.
Di tatapnya foto foto itu
" kakak...." bisiknya pelan sembari menyentuh lembut wajah yang tergambar di sana.
Wajah bahagia sang kakak saat memeluk seorang wanita.
Terakhir ia mengeluarkan sebuah flash disk dari amplop coklat itu kemudian meminta Puguh memberikan sebuah laptop padanya.
Matanya berkaca kaca demi melihat rekaman demi rekaman yang sedang di lihatnya di layar laptopnya.
" papi...." desisnya perlahan, tak pernah dia duga sang ayah yang dahulu terlihat begitu lembut dan penyayang di masa hidupnya juga sepanjang ingatannya mampu berbuat sedemikian rupa terhadap seorang wanita yang tengah mengandung cucunya, darah daginggnya.
Apalagi putranyalah yang telah memaksakan diri pada wanita itu.
Mengertilah ia kini, kenapa sang kakak begitu terlihat putus asa dan menyesal di penghujung hidupnya.
__ADS_1
Bukan hanya kehilangan seorang wanita yang sangat ia cintai yang akhirnya mampu ia miliki, namun kenyataan bahwa sang ayah adalah dalang di balik kematian istri juga anaknya yang belum lahir membuat jiwanya terguncang.