
" apa menurutmu ini adalah yang terbaik..melepaskan ?! " dengan wajah muram rein berkata kepada kris,
keduanya duduk saling berhadapan di meja sebuah cafe, tadi setelah pertikaian antara yandi dan rein di kantin perusahaan milik keluarga yandi, kris susah payah membawa rein keluar, dan sekarang keduanya nampak tengah duduk berhadapan.
" tidak kah kau melihat tatapan yang berbeda dari mata nayra untuk yandi rein...?! " jawab kris sambil mengaduk minumannya,
rein tak lekas menjawab, ia pun sama dengan kris mengaduk minumannya.
" aku tidak akan menjadi pecundang seperti dirimu kris...aku akan merebut kembali apa yang seharusnya ku miliki..." jawabnya kemudian
" nayra milikku...yandi hanya jeda yang sedang terjadi diantara hubungan kami, aku yakin nayra hanya..dan hanya milikku..dia hanya sedang marah padaku kini..." lanjutnya membuat kris memandang wajah tampan sahabatnya itu.
" demi pertemanan kita di masa lalu, mengertilah rein..."
" kata katamu ini tak seharusnya kau sampaikan padaku, yandilah yang lebih pantas kau berikan kata kata ini.." jawab rein
" yandi sama sekali tak pernah mengingat hubungan kita di masa lalu, lalu... kenapa aku harus repot repote megingatnya, nayra milikku..sejak awal dia milikku kris..." kekeh rein kemudian berlalu begitu saja meninggalkan kris yang duduk terpekur sendirian.
Kris menjadi bingung dengan apa yang terjadi, rein yang tak pernah banyak bicara dan hampir tak pernah bersitegang dengan siapapun bagaimana bisa menjadi sekeras itu,
irfan yang play boy pun berubah menjadi pria lembut dan sedang dirinya yang telah di tolak diam diam masih memendam sejuta asa jauh di lubuk hatinya terdalam meski telah bertahun tahun lalu ia coba pendam perasaannya terhadap nayra,
dan yandi...ah sahabat sekaligus saudaranya itu bahkan telah mati matian melakukan apapun untuk mendapatkan nayra.
Kris pun memilih pergi meninggalkan cafe setelah sebelumnya membayar pesanannya lebih dulu.
Nayra mengutak atik komputernya ketika tiba tiba pintu ruangannya terbuka dan yandi masuk begitu saja dengan wajah di lipat, nayra mengerutkan keningnya
" kita langsung menikah saja ya..aku haruske australi seminggu lagi, ada sedikit kekacauan disana...." kata yandi dengan memelas
" aku tidak mau ninggalin kamu disini sendirian tanpa aku...dan aku juga tak mungkin membawa mu tanpa ikatan begini..." lanjutnya membuat nayra menatapnya tak berkedip
" papa dan mama sudah setuju juga ayah dan ibumu, karena setelahnya kita menikah aku akan bawa kamu kemanapun aku pergi..."
baru saja yandi menyelesaikan ucapannya kembali pintu ruangan terbuka dan assistan nayra friska masuk ruangan, segera gadis itu menunduk hormat menyapa yandi
" ada yang menunggu mbk nayra di bawah...dari shaden company ingin konsultasi tentang budgeting planning orderan mereka mbk..." kara friska kemudian
__ADS_1
" ah iya..silahkan langsung masuk saja fris " nayra mempersilahkan
" apa kau terganggu jika aku tetap ada disini ?! " tanya yandi
" terserah kau saja, kamu sini saja juga tidak apa apa, toh ini juga cutomer kamu...." nayra meminta yandi duduk di kursi mejanya sedangkan dirinya pindah ke sofa,
tak berapa lama kemudian tiga orang perempuan cantik dan satu orang pria masuk setelah sebelumnya mengetuk pintu sejenak.
Satu diantaranya tak berkedip menatap yandi yang sedang duduk di meja kerja nayra dengan mengutak atik komputer
" mari silahkan...presdir.." nayra mempersilahkan tamunya dan seakan paham dengan tatapan mata tamunya,
yandi pun segera berdiri dan mendekat, ia sempat bertatapan dengan wanita cantik berambut panjang yang membiarkan rambutnya tergerai dan memakai stelan blazer warna nud sungguh semakin menampilkan kesan yang sangat sempurna di mata siapa saja yang melihatnya.
" yan....." bisik wanita cantik itu yang tak lain adalah bunga, tak mampu menahan getar di dalam hatinya,
yandi tersenyum simpul kemudian mempersilahkan dan duduk di samping nayra tak begitu jauh dan sesekali seakan sengaja menampilkan interaksi yang siapa saja melihatnya akan berpikir ada hubungankah diantara mereka,
namun berbeda dengan bunga yang telah pernah melihat keduannya sebelumnya.
Tidak dapat dia pungkiri getar getar cemburu masih ada di hatinya.
" untuk hal sebesar itu bukan ranah saya nona bunga...silahkan anda mengajukannya langsung kepada presdir saya." jawab nayra sambil mengarahkan pandangan pada yandi yang sedari tadi menatapnya, yandi kemudian tersenyum dan menjawab
" saya akan coba bicarakan dengan dewan direksi, tapi saya mohon maaf, saya tidak bisa menjanjikan apa apa, terus terang saya bukanlah pengambil keputusan dalam perusahaan ini.." jawabnya kemudian
" tidak apa apa presdir yan...kami akan menunggu..." jawab salah satu dari yang datang bersama bunga, kemudian mereka pun berpamitan.
Namun bunga seakan memberi kode pada yang lain akan dirinya yang masih akan tinggal.
" presdir yan..bisa kita bicara sebentar...?! " kata bunga kemudian setelah hanya tinggal mereka bertiga di sana,dirinya, yandi, dan nayra.
" silahkan...." jawab yandi
" maaf ini sedikit pribadi..bisakah..?! "
" oh tentu...silahkan..." jawab nayra hendak berlalu namun tangannya segera di genggam oleh yandi
__ADS_1
" maaf...saya tidak ingin menyembunyikan apapum dari calon istri saya..." ucap yandi
" jangan seperti ini....nona bunga akan salah paham..." nayra mencoba memberi pengertian pada yandi namun pria itu tetap tak bergeming, bunga menarik nafas panjang
" tak apa yan...." akhirnya ia berkata
" aku masih mencintaimu...perpisahan diantara kita bukan salah kita berdua, marithalah yang menciptakan masalah diantara kita..." katanya lagi
" dulu atau sekarang tak ada yang berbeda padaku, aku masih mencintaimu...aku menunggu kesempatan ini yan, aku ingin menyampaikan perasaanku yang masih begitu dalam padamu....aku masih berharap kau akan kembali padaku seperti dulu..." lanjut bungan dengan menatap yandi sendu,
Nayra seakan tak mampu melihat pemandangan ini, seorang wanita yang menyampaikan perasaannya dengan begitu tulusnya sedang di sisi lain ia pun merasakan perasaan tak terima
" maafkan aku nga...aku tahu apa yang sudah maritha lakukan, akan tetapi sungguh perpisahan diantara kita bukan karena kesalahan maritha seluruhnya tapi karena aku juga menginginkannya.." ucap yandi membuat bungan mendongak dengam mata yang berkaca kaca
" aku tak ingin menyakiti dan membohongi dirimu lebih jauh, aku telah menduakanmu tanpa kusadari, aku mencintai seseorang dengan begitu dalamnya selama bertahun tahun bahkan ketika kita masih bersama, meskipu aku tak pernah tahu apakah cintaku berbalas atau tidak..." jelas yandi lagi dengan menggenggam jemari nayra semakin erat,
tak terasa ada airmata yang mengalir di pipi nayra yang coba ia sembunyikan.
" aku memilih bersama cintaku meski itu menyakitiku dan melepaskanmu nga...aku lebih baik sendiri andai perasaanku bertepuk sebelah tangan"
" kau sadar dengan yang kau ucapkan ini yan...kau tidak sedang hanya menghindar dariku kan yan...?! "
Bunga mencoba memperjelas ucapan yandi
" tidak...aku akan menikahinya..dengan atau tanpa cintanya padaku, aku akan menikahinya dengan cintaku..." jelas yandi
" datanglah kepernikahanku jika kau ada waktu..."
" insyaAllah....baiklah semoga kau bahagia dengan pilihanmu yan...aku permisi " pamit bunga kemudian dengan menyeka airmatanya terlebih dulu
" mbak...!! " sapa nayra kemudian
" maaf...sudah membuatmu tidak enak hati, sekali lagi maaf..."
" tidak tidak apa apa...saya...."
" tidak apa apa, anda tidak salah..yandi lebih mencintai anda..semoga kalian bahagia, dan semoga kita bisa menjadi teman..." bunga berucap kemudian nayra memeluknya
__ADS_1
" terimakasih mbk..."
" satu pesanku...berhati hatilah pada maritha, aku yakin dia tidak akan menyerah begitu saja..." pesan bunga yang di angguki oleh nayra kemudian pamit dan berlalu pergi.