
Usai drama yang sangat di kenal para penghuni rumah besar di pagi hari. Yandi nampak sedang menemani sang istri berjalan kaki di taman belakang.
Yandi dengan telaten mengikuti langkah demi langkah pelan sang ibu hamil. Sesekali yandi nampak mengelap keringat di dahi sang istri.
Hidupnya adalah sang istri, itulah yang ditangkap semua orang yang mengenalnya. Hingga kini kehamilan Nayra telah sembilan bulan, Yandi seringkali menangis ketika melihat wajah sang istri.
Kakinya yang nampak membengkak, perutnya yang membesar namun badannya tetap kecil bahkan terlihat lebih kurus. Wajah Nayra terlihat semakin pucat.
Meski dokter mengatakan itu adalah hal biasa bagi seorang wanita hamil, Yandi tetap saja di terpa rasa khawatir. Hampir setiap malam ia berjaga dan tak bisa tidur sedang siangnya ia sama sekali tak pernah meninggalkan sang istri barang sebentar.
Ia pun bekerja dari rumah dan hanya akan datang kekantor jika ada meeting meeting penting saja.
Akhir akhir ini Nayra terlihat sangat pucat, dan hal itu membuat ia ingat bagaimana sang kakak yang hampir saja kehilangan nyawa ketika mengalami pendarahan saat melahirkan putranya Al Malik Tjahya Sasmitra.
Karena hal itu Liam memutuskan tidak ingin mempunyai anak lagi, karena apa yang dialami Laura hampir membuatnya mati berdiri.
Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata, sosok seorang suami siaga itulah gambaran seorang Yan Aditya Rachman dimata semua penghuni rumah besar yang menyaksikan sendiri bagaimana sayangnya pria itu terhadap sang istri.
Dinginnya malam itu masih terasa memeluk erat seluruh penghuni bumi.
Yandi nampak kacau karena Nayra yang terus saja kesakitan.
Ia terus membujuk sang istri untuk mau di bawa kerumah sakit, dan akhirnya ia berhasil membujuk sang istri.
Dan kini disinilah kedua pasangan suami istri itu, didalam ruang perawatan.
" dady....jangan begini lah..." Nayra terus menghapus air mata yang mengalir di pipi Yandi sembari mendesis menahan sakit yang semakin terasa.
" kamu cecar aja ya yank...gak tega aku lihat kamu kayak gini, muka kamu udah pucet banget gitu " kata Yandi di tengah tengah tangisnya.
Kini pria jangkung itu tengah duduk di bawah kaki Nayra, Nayra duduk di atas kursi sembari menahan sakit.
Sang ibu dan mama mertuanya duduk di sofa, di depan pintu sana ayah Nayra juga tuan Aditya nampak duduk sembari bersedekap dada.
__ADS_1
Mereka nampak kebingungan harus bagaimana, yang mereka bingungkan adalah sikap Yandi yang seperti orang tremor melihat istrinya kesakitan.
Berkali kali pria itu menjambak rambutnya jika Nayra mendesis sembari memejamkan matanya.
" Yan..jangan begitu kumohon, doakan aku saja " pinta Nayra dengan suara sangat pelan karena menahan rasa sakit yang datang semakin intens. pembukaannya telah mencapai delapan dan dokter tengah melakukan persiapan persalinan
Yandi semakin panik
" Yan...kendalikan dirimu " tuan Aditya
" pa....aku, aku..." Yandi benar benar tak mampu mengendalikan dirinya hingga dua orang wanita nampak masuk, keduanya adalah Maritha dan Bunga.
Setelah menyapa semua yang hadir, keduanya mendekati Nayra. Memberi kekuatan dan semangat pada sahabatnya.
" Yan tenangkan dirimu...kalau kau seperti ini, bagaimana kau akan memberi kekuatan pada Nayra. Dia sedang berjuang demi anakmu " Bunga berusaha menenangkan pria jangkung itu yang kini masih nampak bersimpuh di kaki sang istri. Sedang Nayra ia seakan sudah tak sanggup lagi untuk sekedar berkata kata. Tangannya sekali kali nampak mengelus pipi Yandi.
Dokter Leni beserta asistennya memasuki ruangan dan meminta dengan sopan dan lembut untuk semua meninggalkan Nayra.
Namun Yandi bersikeras tidak mau keluar, ia ingin menemani sang istri.
" jika anda memaksa menemani istri anda melahirkan, maka tenangkan diri anda dulu " lanjut dokter Leni, dan berhasil...Yandi menarik nafas panjang, sekali lagi ia menarik nafas dan menghembuskannya.
Nayra telah berada diatas brangkar Dan kini Yandi berdiri di sisinya sembari menggenggam jemari Nayra. Perlahan Yandi membisikkan sebuah doa ditelinga Nayra.
Sejenak keduanya nampak tenang, meski wajah keduanya sama sama memucat.
Dan akhirnya setelah drama yang panjang, Nayra pun melahirkan seorang putri. sedangkan Yandi terhuyung jatuh di sofa dan segera mendapat penanganan karena ia yang ternyata jatuh pingsan.
Satu jam telah berlalu setelah melahirkan, Nayra kini tampak telah bersih ketika Yandi mulai tersadar dari pingsannya.
Ia ingin segera berdiri namun terhalang tangannya yang tersambung dengan selang infus.
" kau sudah sadaer Yan...?! " nyonya Grace segera mendekat begitupun Laura yang ternyata juga telah berada di ruangan itu.
__ADS_1
" hmmm...iya mi " jawab Yandi pelan, namun seketika raut wajahnya berubah ketika ia seakan mengingat sesuatu.
" Nayra mana mi....?! " Yandi terlihat panik tiba tiba, ternyata ia teringat detik detik sang istri yang akan melahirkan.
" dady...aku disini " paggil Nayra segera membuat Yandi menoleh kearahnya,
Segera pria berdiri dan melepas dengan kasar selang infus yang memempel di pergelangan tangannya.
" dy ....kenapa di lepas ?! " kini giliran Nayra yang panik melihat Yandi melepas dengan paksa selang infus di pergelangan tangannya.
" aku tidak apa apa sayang, mereka terlalu meremehkan aku " jawab Yandi sembari melaangkah mendekat kearah brangkar Nayra, ia memeluk tubuh yang terlihat lemah dan tengah berbaring itu.
Perlahan ia mencium kening wanita cantik dengan lembut dan cukup lama.
" terimakasih sayang " bisiknya di telinga sang istri, Nayra tersenyum tipis dan hangat.
Beberapa saat kemudian seorang perawat masuk sembari membawa bayi di gendongannya.
" putri anda tuan....silahkan di adzani " perawat itu meyerahkan bayi mugil di tangannya pada Yandi, pria jangkung itu menerima bayi itu dengan sangat pelan dan hatu hati.
Yandi memang telah belajar menggendong bayi sebelumnya dengan sangat intens. Jadi sekarang ia terlihat tidak begitu kesulitan menggendong putri pertamanya.
Yandi mengadzani sang putri di telinganya dengan sangat hati hatu, air mata mengali begitu saja di pipinya. Tak ia duga....setelah apa yang terjadi dalam hubungan pernikahannya bersama dengan Nayra. Kini keduanya telah di karunia i seorang putri.
Yandi menoleh kepada sang istri, dan seolah paham maksud sang suami. Nayra tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
" suster..nama putri saya NAZIMA ALMAYRA ADITYA RACHMAN, tolong di catat berikut surat kelahirannya.
" baik tuan muda, kami akan segera menyiapkan surat surat nona muda kecil.
Jawab perawat itu dan mengambil kembali bayi Nazima dari gendongan Yandi dan menyerahkannya pada sang ibu untuk di beri ASI.
Nayra tersenyum lebar menerima putrinya, sama seperti Yandi sang suami, Nayra telah nampak terbiasa menggendong bayi.
__ADS_1
Setelah menyusu kini giliran bayi mungil itu berubah menjadi piala bergilir semua yang hadir di ruangan itu tanpa terkecuali.