
Nampak seorang wanita berpakaian syar'i juga bercadar berwarna hitam berdiri bersedekap memandang keluar jendela kaca yang membentang di hadapannya.
Matanya nampak tajam menatap setiap pergerakan kesibukan di bawah sana.
Perlahan ia nampak mengedipkan matanya dengan pelan seakan mencoba mengalihkan sesuatu yang membuat hatinya terhimpit kepada hal lain.
Hari ini adalah batas waktu terakhir yang di janjikan nayra terhadap para direktur dan para pemegang saham. Meski keluarga sang mertua adalah pemegang saham terbesar, tetap saja dia harus memperhatikan pemegang saham yang lain.
Bunga nampak duduk di sofa ruangan itu dengan memeriksa berkas berkas di meja dengan sesekali memperhatikan layar laptop di hadapannya.
" nona..semua sudah siap " edo muncul dari balik pintu yang terbuka dan segera mendekat pada nayra.
Nayra menoleh kearah bunga dan gadis itupun mengangguk tanda mengerti dengan maksud tatapan nayra.
Nayra beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan keluar diikuti bunga juga edo, di luar ruangan telah menunggu rexy juga faris kemudian mereka juga mengikuti langkah nayra di belakangnya.
Beberapa menit kemudian ia telah memasuki sebuah aula besar, dimana disana telah berkumpul seluruh petinggi perusahaan. Biasanya yang menghadiri meeting di ballroom meeting Ar.co adalah setingkat direktur dan para pemegang saham.
Namun kali ini tidak demikian, nayra sengaja memerintahkan semua jajaran dewan direksi juga petinggi perusahaan setingkat manager atau semua yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab atas karyawan untuk turut hadir di meeting kali ini.
Mereka nampak berbisik antara satu dengan yang lain mencoba mengira ngira ada apa sebenarnya, kenapa mereka semua di haruskan hadir di ruangan besar ini.
Di depan ruangan itu menghampar layar putih proyektor yang cukup besar.
" nona...ada apa ini, kenapa anda mengumpulkan kami semua di sini ?! " tanya hendra yang di belakangnya telah berdiri agustin juga liam yang tak jauh dari sana, namun kali ini ia berdiri agak jauh dari hendra,tidak seperti biasanya.
" tak apa paman..." jawab nayra sembari mengangguk menyapa para yang hadir.
Setelahnya ia nampak berdiri di hadapan para peserta rapat agak minggir tanpa menutupi layar.
Ia berdiri bersama kris di sisi kanannya yang telah lebih dulu ada di sana, disisi kirinya bunga dengan membawa beberapa berkas.
Di belakangnya nampak edo, rexy juga faris dengan stelan jas mereka yang juga berwarna hitam sama dengan dirinya. Pakaian syar'inya sedikit berkibar tertiup angin dari jendela yang terbuka, menambah kesan dingin dan mendominasi seorang nayra yan aditya rachman di mata para peserta meeting kali ini. Atau kini yang lebih dikenal dengan ** NAYRA YANDI ** dikalangan rekan rekan bisnisnya.
Beberapa dari jajaran petinggi Ar.co itu ada yang menghela nafas berat, seakan akan ada sesuatu yang akan menimpa mereka karena melihat kesiapan sang nona besar di depan sana bersama dengan orang orang kepercayaannya.
__ADS_1
Tak jauh dari sana juga nampak puguh juga kenan seakan ikut memastikan semua akan baik baik saja.
Nayra nampak memperhatikan satu persatu yang hadir hingga matanya berhenti pada satu orang.
Alan wirahadi, cukup lama nayra menatapnya hingga pria tampan berhidung mancung itu sedikit salah tingkah. Kemudian nayra mengalihkan tatapannya kearah lain dan berhenti sejenak pada kenan budiman.
Pria berdarah asing itu tampak tidak terganggu sedikitpun dengan tatapan wanita bercadar itu, ia bahkan sempat menyunggingkan senyum menyapa nayra.
Beberapa detik kemudian nayra menatapa anwar rosyid dan mengisyaratkan sesuatu, dan seakan paham dengan syarat itu, pria paruh baya itupun mengangguk dan menghidupkan layar proyektor.
Kini di hadapan para hadirin layar proyektor itu menampilkan gambar tentang grafik pertumbuhan saham Ar.co di pasaran bursa saham.
Serempak seluruh manusia yang ada di sana mengarahkan perhatian mereka pada layar proyektor. mereka menatap tak berkedip setiap pergerakan disana.
seluruh orang yang hadir seakan tiba tiba merasakan sesuatu yang sama di tubuh mereka, darah yang seakan berhenti mengalir, jantung yang berdegup lebih cepat hingga seakan mengguncang tubuh mereka hingga bergetar. Keringat dingin mengucur di dahi mereka dan tangan tangan mereka terasa dingin seketika ketika pergerakan di layar proyektor berhenti di satu titik cukup lama.
Mereka semua seakan berhenti bernafas hingga dada mereka terasa sesak. Namun berbeda dengan yang diterlihat dari sosok seorang nayra. Tak ada sedikitpun kekhawatiran terlihat di matanya.
Tatapan matanya tetap tajam kearah layar proyektor tetap seperti semula awal layar proyekyor itu dihidupkan. Kedua tangannya juga masih bersedekap di dada.
" wanita yang luar biasa " pujinya dalam hati. Juga seorang pria muda di ujung sana. Alan wirahadi, ia bergidik ngeri melihat gelagat nayra itu.
" wanita macam apa dia sebenarnya, sungguh
mengerikan...." desisnya tertahan.
Seketika jeritan terdengar dengan keras disana ketika pergerakan terlihat di layar itu lagi, terus naik hingga melampoi batas. Mereka merasakan sesuatu yang meremang di sekujur tubuh mereka
" hebat....ini sungguh di luar batas, ini sungguh luar biasa...."
" ya Tuhan nona nayra benar benar luar biasa..."
Decak kagum para hadirin segera terdengar riuh menyapa gendang telinga masing masing.
" nona....kami sungguh berterimakasih kepada anda, kami sangat bangga kepada anda. Anda sungguh sudah bekerja keras untuk semua ini..." salah satu dari mereka berteriak dengan lantang mewakili kebahagiaan yang lain sembari menundukkan kepalanya beberapa kali sebagai tanda terima kasih.
__ADS_1
" tidak..jangan seperti ini, ini adalah hasil dari kerjasama tim, ini adalah keberhasilan kita, hasil kerja keras kita..." jawab nayra semakin membuat mereka berdecak kagum padanya. Juga kris dan bunga yang tak henti hentinya menatap penuh kekaguman pada wanita di samping mereka ini sejak tadi.
Kris tak menyangka sama sekali, wanita yang nampak pendiam dan dingin yang ia kagumi bertahun tahun yang lalu itu, memiliki kemampuan yang luar biasa juga kewibawaan yang sangat tinggi.
Mereka sungguh tidak meragukan lagi keahlian seorang nayra azzahwa alzahrani, meski mereka kerap kali menemukan sosok seorang pemimpin yang dingin dan dominan pada seorang nayra, namun juga mereka akui, nayra seorang pemimpin yang bijaksana.
Di balik sikap dingin dan tegasnya ada hati yang penyayang dan lembut khas seorang wanita sholehah.
" silahkan menikmati hidangan yang kami persiapkan dengan bebas di kantin, hari ini kita bebas. Akan tetapi besok adalah hari dimana kita harus kembali bekerja keras. Semoga kita tetap solid " kata nayra kemudian pamit dan melangkah hendak berlalu setelah menjawab ucapan terimakasih para peserta.
Namun ia menghentikan langkahnya di samping kenan
" bisa kita bicara di ruangan ku direktur kenan..?! " tanyanya pelan
" baik nona.." jawab kenan dengan cepat.
Kemudian nayra melanjutkan langkahnya, baru beberapa langkah kakinya melangkah, ia menghentikan langkahnya di hadapan liam.
" bagaimana kabar mu kakak ipar ..?! " sapanya pada liam membuat edo segera mengambil jarak dekat kepada nayra, ia seakan tak bisa tenang melihat nayra bersama liam bersama orang orangnya meski ada kris dan bungan di dekat nayra.
Liam tak menjawab, ia hanya berdehem pelan.
" apa mbk laura baik baik saja....sampaikan salam ku padanya..." lanjutnya kemudian membuat mata liam terbelalak kearahnya.
" kau jangan menahannya terlalu lama kakak ipar, perusahaan juga tidak begitu baik baik saja karena kekacauan yang sudah kau buat..." kata nayra lagi dengan senyum miring di bibirnya di balik cadarnya demi melihat ekspresi liam.
" apa maksudmu....?! " tanya liam jengkel
" kau tentu tahu maksud ku....." jawab nayra santai
" nayra kau...."
" temui aku jika kau ingin bertanggung jawab atas perbuatanmu.." tandasnya lagi, namun kali ini ia sungguh menekan kalimatnya
" jangan lupa bawa mbak laura bersamamu..." katanya dengan berlalu setelah sebelumnya ia menoleh sejenak kearah alan yang berdiri tidak begitu jauh dari sana. Tatapan matanya sangat tajam dan mengintimidasi seorang alan wirahadi.
__ADS_1