Cinta Gadis Dingin

Cinta Gadis Dingin
berusaha


__ADS_3

" thok thok...." suara pintu di ketuk, Nayra menoleh kearah pintu setelah ia mempersilahkan.


" silahkan nona.." Edo nampak mempersilahkan


" hmm...." jawabnya kemudian


" kau yakin mereka semua sudah berkumpul ?! " tanya Nayra memastikan


" iya nona, saat ini faris terus memantau mereka.." jawab Edo.


Nayra kemudian nampak berdiri dari kursi dimana dulu suaminya berkuasa, berjalan dengan tegas dan sangat percaya diri keluar ruangan diikuti Edo dan Rexy.


Di dalam ruang kantor yang tertutup nampak tiga orang pria berbeda generasi nampak tengah serius membicarakan sesuatu.


Namun sayang pembicaraan mereka tiba tiba harus terhenti karen Nayra yang tiba tiba masuk dan berdiri diantara mereka. Wajah wajah pria di dalam ruangan itu nampak terkejut dan pias.


" boleh aku ikut rapat ini ....paman hendra..?! " tanya Nayra sembari menatap satu persatu mereka yang ada disana lalu tatapannya kembali kearah pria yang duduk di sofa ruangan itu. Senyum tipis tersungging di bibirnya di balik cadarnya.

__ADS_1


" silahkan nona...kami tidak sedang membicarakan apapun, hanya sedang sedikit mengalihkan tubuh kami dari rutinitas saja .." jelas pria paruh baya itu dengan berdiri sopan.


" oh begitu...aku kira kalian sedang mengadakan rapat dadakan yang di luar sepengetahuanku.." kata kata Nayra sungguh menohok mereka yang ada di sana dengan tetap berdiri di tempatnya semula.


" tapi aku cukup heran...bisa bisanya kalian sesantai ini padahal kalian belum menyelesaikan tugas yang aku percayakan pada kalian, ini sudah satu tahun tapi kalian tidak memberiku laporan sedikitpun atas apa yang telah aku percayakan pada kalian...." kata Nayra lagi menatap dua pria muda seumurannga di hadapannya kini.


" Agustin...apakah kau sudah temukan bagaimana bisa terjadi pencurian saham perusahaan sebesar itu, kau kepala aiti disini...kau sangat paham akan keamanan data yang tersimpan di komputer kita bukan....saham sebesar 15% itu tidak sedikit. Kau tentu paham itu ...?! " Nayra mulai menekan dalam setiap kata katanya. Menatap tajam Agustin yang berdiri tertunduk, sungguh ia tak mampu melawan sikap mendominasi seorang Nayra yandi


" alan wirahadi...bisa aku tahu, bagaimana kau bisa kecolongan desain produck baru kita ?! Atau jangan jangan kau memang sengaja menjualnya kepada rival kita ? " kali ini Nayra menatap pria tampan berdarah campuran cina dan indonesia itu.


" nona aku terus menyelidikinya...sungguh aku juga tidak mengerti nona.." jawab Alan, ia cukup mengenal Nayra lama dulu ketika mereka masih sama sama sebagi manager meski beda divisi. Ia tahu Nayra memang sosok disiplin dan bertanggung jawab. Hubungan mereka juga lumayan dekat, bahkan karena kedekatan itu cukup membuat seorang Yan Aditya Rachman salah paham dan mengira yang bukan bukan akan kedekatan diantara keduanya.


" nona...masalah seperti ini memang tidak bisa dapat dengan mudah dan cepat dalam penyelesainnya. Ada banyal hal dan aspek yang harus kita perhatikan...jangan sampai kita salah langkah apalagi melibatkan mereka yang tidak bersalah.." Hendra mencoba menenangkan Nayra.


Nayra beralih menatap kearah pria yang kini duduk di sofa di hadapannya


" paman hendra...tolong jangan membuat aku beraspekulasi bahwa kalian lah dalang di balik semua hal ini terjadi..." Nayra berucap sarkas membuat Hendra benar benar memerah wajahnya.

__ADS_1


" nona nayra...." Agustin nampak tidak terima dengan ucapan Nayra yang ia pikir sama sekali kurang sopan dalam bicara.


" jangan hanya menyangkal...aku butuh bukti pertanggung jawaban kalian. Segera dalam satu minggu ini laporannya sudah ada di mejaku..." ancam Nayra sembari memutar tubuhnya hendak berlalu dari sana, namun baru beberapa ia melangkah, ia kembali berbalik menatap Hendra.


" paman hendra...beberapa hari lagi, tuan besar Aditya Rachman akan kembali ke Indonesia. Aku dengar kalian adalah sahabat lama...tidakkah anda ingin menyapanya ?! " tanya Nayra, dan tanpa menunggu jawaban dari Hendra ia segera berbalik melanjutkan langkahnya.


Ia sempat menyunggingkan senyum di balik cadarnya demi melihat reaksi dari direktur Hendra dengan terus melanjutkan langkahnya diikuti Edo, Rexy dan Faris.


Sedangkan di dalam ruangan yang baru saja ia tinggalkan, Hendra nampak mencengkeram pinggiran sofa yang ia duduki dengan kuat, wajahnya nampak merah padam menahan amarah.


" bocah ingusan itu....berani beraninya dia mengancamku..." ucapnya dengan suara terdengar bergetar.


" apakah menurutmu paman....dia mengetahui sesuatu? " tanya Agustin.


" entahlah...tapi aku rasa dia mencoba meyakinkan sesuatu, dia belum begitu yakin..." jawab Hendra menanggapi pertanyaan Agustin.


Sedangakn Alan ia nampak terdiam membatu.

__ADS_1


Benarkah yang tadi bicara di hadapannya adalah Nayra, Nayra Azzahwa Alzahrani yang pernah dia kenal, dia nampak begitu berbeda. semakin dingin


dan mendominasi lawannya.


__ADS_2