
Nayra lama menatap kearah luar jendela kamar, menatap hamparan kerlap kerlip lampu yang menghiasi pemandangan malam kota yang seakan tak pernah mati, menatap langit cerah yang bertabur bintang. Mencoba mencari titik temu dan mengurai permasalahan bak benang merah dari semua kata kata Zack yang dia dengar tadi.
Nayra beranjak mendekati Renald yang masih terbaring diam diatas pembaringan berukuran king size. Di tatapnya wajah pria yang masih setia memejamkan matanya itu.
" aku yakin ini kamu yan... " bisiknya pelan, ia memutuskan melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu dan setelahnya ia nampak mendudukkan dirinya di lantai dengan wajah ia sandarkan pada sisi pembaringan.
Waktu hampir dini hari ketika Nayra merasakan pergerakan pada pembaringan, ia mendongak dan melihat Renald sedang menatapnya.
" kau sudah sadar ?! " tanyanya sambil beranjak berdiri dan mengambil air minum.
" minumlah " pintanya dengan halus sembari membenarkan tubuh pria itu kemudian meminumkan air dengan tangannya kepada Renald.
" kau masih disini...?! " terdengar pertanyaan dari Renald
" kenapa ? Bukannya kau memintaku untuk tidak pergi ? " Nayra balas bertanya setelah meletakkan gelas di atas nakas.
" aku sudah memintamu untuk pergi " jawab Renald mengalihkan pandangannya dari wanita itu.
" kenapa begitu...kau ingin belas dendam padaku ?!" terdengar suara Nayra seperti mengejek
" kau ingin menghancurkan diriku...?! " tanyanya
" dengan menikahiku tanpa izin dariku ? " tanyanya lagi
" kemudian menceraikan aku begitu saja ?! " Nayra melanjutkan kata katanya dengan tersenyum miring, ia menyentuh wajah Renald dan memaksa pria itu melihat kearahnya.
__ADS_1
" lihat aku...tidakkah aku mengingatkanmu akan seseorang ?! " Nayra masih melanjutkan pertanyaannya pada Renald yang kini menatapnya lekat
" tidak " jawab Renald
" tidak..?! " cibir Nayra menirukan jawaban Renald sembari melepas kerudungnya, mengibas ngibaskan rambut panjang lurusnya. Renald sungguh terhipnotis dengan itu, sungguh apa yang ia lihat kini terasa tidak asing baginya.
" masih tidakkah ?! " Nayra masih nampak mencibir kepada Renald
" tidak " jawan Renald tegas, meski hatinya terasa campur aduk, ia merasakan kerinduan yang mendalam dan seakan tak asing dengan wanita itu, tapi juga ada perasaan geram jika ia mengingat kata kata Katania tentang Nayra. Meski jauh dilubuk hatinya ia sulit percaya kata kata Katania.
" tapi kau mengingatkanku akan seseorang " jawab Nayra tersenyum menggoda dengan mulai menunduk
" aku bukan dia " jawab Renald ketus, ia tiba tiba merasa tidak suka jika dirinya di kira orang lain oleh Nayra sembari memalingkan wajahnya kesamping, berusaha menyembunyikan degup jantungnya yang tak beraturan karena wajah Nayra yang semakin dekat dengan wajahnya.
" siapa yang tahu " jawab Nayra enteng, kemudian sedikit menarik tubuh Renald kedepan hingga pria itu dapat mencium aroma wangi tubuhnya
Setelah selesai menata bantal Renald, Nayra naik kepembaringan dan merebahkan kepalanya diatas lengan dan bahu Renald.
Renald nampak mengerutkan keningnya.
" jangan protes, aku sedikit lelah...kau tidur terlalu lama, hampir lima jam. Dan parahnya kau tak memperdulikan aku " oceh Nayra dengan menarik salah satu lengan Renald untuk memeluk tubuhnya membuat pria itu melebarkan matanya.
" mau dengar cerita tentang ku ?! " tawarnya dan lagi lagi tidak di jawab oleh Renald.
Nayra terdengar mengehela nafas berat.
__ADS_1
" aku pernah mencintai begitu dalam pada seseorang tanpa aku menyadari...sakit, seperti cinta sendirian kau tahu ?! " Nayra memulai ceritanya dan Renald terlihat serius manatapnya.
" hampir sepuluh tahun lebih aku dan dia mencintai dalam diam, tersiksa karena mencintai... sungguh sakit dan terluka yang tak berdarah " tampak tatapan lucu di mata wanita itu menurut pandangan Renald membuat hatinya terasa panas.
" aku tak pernah merasakan sakit meski banyak yang mengataiku sebagi gadis dingin, gadis tanpa perasaan, gadis munafik dan masih banyak lagi...akan tetapi tak pernah aku duga aku akan terluka begitu dalam karena kata kata yang keluar dari mulut orang yang kucintai tanpa sadar, sangat sakit hingga aku tak mampu menyembuhkannya meski telah bertahun tahun bahkan tujuh tahun lamanya " Nayra terdengar mengela nafas. Tanpa terasa kini Renald memiringkan wajahnya menatap intens wajah wanita dalam pelukannya itu.
" tapi kemudian kami menikah, hampir dua tahun ia benar benar mampu menyembuhkan luka di hatiku, tapi ternyata itu tidak lama, kami baru bersama dua tahun setelah hampir sepuluh tahun lebih kami tersiksa karena mencintai dalam diam. Kecelakaan merenggutnya dariku juga anak kami yang tidak kami sadari kehadirannya " mata Nayra telah membasah.
Renald merasakan perih teramat dalam melihat wanita itu berlinang air mata, selama melihat wanita ini, ini kali pertamanya ia melihat sisi rapuh Nayra.
Tanpa sadar ia menghapus air mata yang mengalir di pipi Nayra kemudian mendekapnya erat.
" namanya Yandi, Yan Aditya Rachman " bisik Nayra pelan tapi jelas bisa di dengar Renald.
" tidurlah...kau bilang kau lelah " ucap renald sembari mengeratkan pelukannya pada tubuh Nayra.
Otaknya berkecamuk dengan kata demi kata yang di lontarkan Nayra tadi.
" Yandi...kehamilan yang tidak diketahui, kecelakaan "
Kenapa itu terdengar seperti apa yang dia dengar dari ucapan paman Mahyong pada Katania.
Sekali lagi Renald mengerutkan keningnya.
" ada apa ini sebenarnya, mungkinkah Nayra adalah orang yang di maksud oleh Katania dan paman Mahyong ? " tanyanya dalam hati.
__ADS_1
Renald menunduk, menatap wajah Nayra yang kini telah tertidur lelap dalam pelukannya, diciumnya tiba tiba kening wanita itu.
" siapa sebenarnya kau bagiku, kenapa aku terasa sangat dekat denganmu, juga kesedihanmu sungguh melukaiku " bisik Renald dalam hati.