
Sepeninggal Katania, Nayra menghela nafas berat, apa lagi ini.....pikirnya. Apa yang harus ia lakukan, sedang tubuhnya terasa sangat lemas dan tidak bertenaga sama sekali. Matanya menangkap sepiring nasi di atas nakas. Ia berpikir sejenak..bagaimana jika itu beracun ? ah biarlah...bismilah saja pikirnya. Akhirnya wanita berhijab itu memutuskan untuk memaksa tubuhnya mengambil piring itu dengam susah payah. Memakan nasi yang di bawakan seorang pelayan tadi. Dengan sangat susah payah dirinya menghabiskan makanannya.
" sepertinya kau sedikit memiliki hati Maritha, sehingga kau masih mau memberi ku makanan. Atau kau memang ceroboh " bisik hati Nayra bicara pada dirinya sendiri.
Selesai menghabiskan makanannya, kembali ia berusaha keras memaksa tubuhnya duduk tegak bersila di lantai dingin kamar itu. Dinginnya lantai serasa mengalir merasuk kepersendiannya. Semakin ngilu dan sakit pada persendian dan tulang tulangnya coba tak ia hiraukan, Ia menarik nafas panjang, ia rentangkan kedua tangannya kesamping beberapa menit, kemudian menariknya keatas sembari menahan nafas.
Berkali kali ia gagal dan terbatuk batuk karena ia gagal mengolah pernafasaannya. Sesuatu yang telah di suntikkan ketubuhnya sungguh meluluh lantakkan pertahanan anti bodynya, membuat tubuhnya lemas seakan tak bertenaga sama sekali.
" apa yang sebenarnya mereka rencanakan terhadapku, kenapa mereka membuatku tidak bertenaga sama sekali seperti ini " rutuk Nayra lagi. Hingga satu jam lebih kemudian ia baru mampu menguasai tubuhnya.
Keringat mengalir deras di keningnya. Ia terus berusaha dan berusaha menetralkan serta melancarkan peredaran darahnya , berusaha keras mengeluarkan efek obat yang di suntikkan ketubuhnya melalui keringat yang terus menglir disekujur tubuhnya.
__ADS_1
Dengan melakukan gerakan gerakan yoga yang di peruntukkan untuk pendetoksifikasian tubuh, yang sering ia pelajari bersama sang ayah dan saudara saudaranya sejak kecil, Nayra terus berupaya untuk lebih banyak berkeringat.
Hingga hari menjelang tengah malam ia merasakan tubuhnya segar kembali. Ia mampu berdiri dengan tegak. Ia mencoba melangkahkan kaki kepintu. Dan seperti yang ia duga pintu itu terkunci dari luar.
Untuk mendobraknya, ia berpikir beberapa kali. Ia mungkin akan sanggup melakukannya mengingat ada kursi tolet disana yang tentu bisa ia gunakan untuk memukul pintu.
Akan tetapi bukan tidak mungkin Maritha telah menyiapkan penjagaan yang ketak untuknya sehingga akan semakin mempersulit dirinya untuk kabur. Apalagi tenaganya belum kembali sempurna.
Nayra melangkah kearah balkon kamar, kembali ia berdecak kesal karena balkon yang di kelilingi oleh pagar besi yang rapat.
" cklek.." suara pintu terbuka, beruntung Nayra telah berada di atas tempat tidur. Tadi setelah menyadari bahwa dirinya tak mungkin bisa kabur, maka ia memutuskan beristirahat terlebih dahulu sembari memikirkan cara selanjutnya.
__ADS_1
" sepertinya dia masih dalam pengaruh efek obat " sebuah suara terdengar cukup pelan namun masih bisa di dengar oleh Nayra.
" hmm....kita kebawah, sebentar lagi mereka akan datang. Kita urus wanita ini nanti
Aku rasa dia tak seberbahaya yang kita kira " jawab yang lain.
" ayo..." kedua orang itu nampak keluar ruangan dan mengunci pintunya kembali. Tanpa mereka sadari Nayra telah lepas dari pengaruh obat yang mereka suntikkan ke tubuhnya, juga hadirnya seorang pria yang berdiri di balik pintu.
Nayra yang tahu kedua orang itu telah bergegas pergi segera membuka matanya dan membangunkan tubuhnya untuk duduk di ranjang.
Namung alangkah terkejutnya ia manakala matanya menangkap sesosok tubuh tinggi tegap di depan pintu sana sedang menatapnya dengan ujung jari telunjuknya mengarah kemulutnya tanda meminta Nayra diam.
__ADS_1
" kau....!! " pekik Nayra pelan karena terkejutnya
" shutttt....." kode pria itu sembari mendekat kearahnya.