
Yandi sedang sibuk dengan berkas yang menumpuk di meja kerjanya, begitupun kris..namun tiba tiba perhatian kris teralihkan pada rekaman cctv kantin perusahaan.
Ia sedikit memicingkan matanya seakan tak percaya dengan yang dia lihat.
" yan coba kau lihat...aku seperti tak asing dengan laki laki yang sedang bicara dengan nayra itu..." panggil kris membuat yandi menoleh kearah mata kris yakni rekaman cctv yang menampilkan seorang wanita dan pria yang tak lain adalah nayra sedang berbincang dengan seseorang,
Ia sedikit terkejut
" rein...!! " desisnya
" rein..!? " kris mengulang ucapan yandi, namun yandi telah keluar ruangan sedikit berlari ke arah kantin.
Sementara itu di kantin nayra dan rein duduk saling berhadapan
" katakan padaku nay...ini tidak benar..." rein sedikit menekan suaranya
" aku...aku minta maaf, aku tahu aku salah tapi sungguh aku tidak berdaya nay..." lanjut rein
" aku sudah memaafkanmu rein, aku tidak menyalahkanmu kita hanya tidak berjodoh.." nayra menjawab santai.
" tapi kenapa harus yandi...katakan ini tidak benar nay..." kata rein lagi
" apa kau tahu...dia mempunyai hubungan lain saat dia masih menjalin hubungan dengan yang lain lagi..?!" lanjut rein meneruskan kata katanya
" itu bukan urusanmu rein..! " sela nayra terlihat gusar dan rein hendak bicara lagi ketika yandi tiba tiba ada diantara mereka
" kau disini rein...?! " tanyanya pada rein
" aku ada urusan dengan nayra yan..." jawab rein sambil kembali menatap nayra yang tampak gusar.
" aku mohon mengertilah keadaanku nay..." kali ini rein berucap pada nayra
" ada urusan apa kamu dengan nayra rein..?! " tanya yandi tampak sekali tak suka, rein pun menoleh kepadanya
" ini urusanku dan nayra yan, tolong kau jangan ikut campur.."
" urusan nayra adalah urusanku rein..kau bisa sampaikan padaku.." yandi sedikit menahan diri kemudian ikut duduk di meja itu
" yan...sudah kukatakan urusanku dengan nayra..." lagi lagi kalimat rein terpotong oleh yandi
" nayra calon istriku rein, urusannya adalah urusanku..!! " tegas yandi membuat rein sesaat terdiam dan menatapnya tajam.
" jangan kau bawa bawa dia dalam masalah kita di masa lalu yan..." ucap rein kemudian
" masalah kita...?di masa lalu...? Apa kita pernah ada masalah...?! " yandi bertanya menyelidik
" yan..nayra tak ada hubungannya dengan dendammu padaku, aku tahu kau sakit hati karena bunga lebih dulu mencintaiku ketimbang dirimu..." rein berkata panjang lebar,
nayra yang terdiam membisu nampak menatap yandi dengan tajam namun yandi malah terlihat santai dan kemudian menyulangkan kedua tangannya di dada
" kenapa aku harus dendam padamu hanya karena itu, itu hal yang wajar bagi seseorang menyukai seseorang sebelum bersama dengan orang lain rein...kau lucu sekali.." jawab yandi santai sambil memainkan gelas di depannya kemudian,
rein kini terlihat pias
" kau tidan mencintai nayra, kau hanya bermain mainkan dennya, lepaskan dia yan..."
" kau terlalu sok tahu rein..." kata yandi tajam
__ADS_1
" aku mencintai atau tidak itu bukan urusan mu, aku juga tak punya kewajiban untuk meyakinkanmu, tapi satu yang harus kau ingat, jangan dekati nayra lagi...dia calon istriku.." tegas yandi sambil meraih jamari nayra hendak membawanya pergi
" dia juga calon istriku...." ucapan rein membuat yandi menghentikan langkahnya,
beruntung kantin sedang sepi karena belum jam istirahat jadi tidak ada yang memperhatikan mereka bertiga,
" jaga ucapanmu rein...." sentak yandi mengepalkan tangannya
" jika hanya bermodalkan kata pengakuan seperti itu, aku juga bisa yan..." jawaban rein membuat yandi gusar dan dengan cepat memutar tubuhnya menghadap rein dan hendak merangsek maju namun terhenti karen ia merasakan remasan lembut ditangan kirinya, yandi menoleh dan melihat nayra menggeleng
" pergilah rein...urusan kita sudah selesai, urusan yandi menikahiku dengan cinta atau tidak itu urusanku, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku.." kata nayra pelan namum tegas dan melipat kedua tangannya membuat dua pria yang sedang bertikai itu pun membisu,
begitupun dengan yandi..hatinya sungguh tercubit, (setidak percayakah itu nayra tidak percaya dengan cintanya? ) bisiknya
" ayo yan...." ajak nayra
" tidak nay..dengarkan aku dulu kumohon..." rein bergerak cepat mendekat dan mencekal tangan nayra ketika ia hendak berlalu pergi
" astaghfirullahaladzim rein...." dengan terkejut nayra mengibaskan tangan rein sambil mundur kebelakang,
membuat yandi yang berdiri di sampingnya ikut terkejut dan wajahnya merah padam menahan amarah namun gelengan kepala nayra sungguh ia mengerti.
" aku terpaksa melakukan itu karena aku sangat mencintimu nay....aku ingin memantaskan diriku sepantas pantasnya untukmu, untuk masa depan kita dan anak anak kita nanti..." rein berkata dengan pelan namun jelas terdengar nayra dan yandi,
tak dapat di pungkiri yandi sungguh terbakar hatinya
" seharusnya kau sampaikan dengan baik padaku rein, aku tidak akan menahanmu...aku tidak pernah meminta kau untuk menikahiku, aku hanya tidak ingin menjalin hubungan yang kau tawarkan padaku yang tidak di ajarkan dalam agama kita itu saja.." jawab nayra kemudian dengan lembut.
" perkara sekarang kita tak bisa berasama itu adalah takdir rein...mungkin aku bukan yang terbaik untukmu..aku minta maaf " nayra kembali berucap sembari melipat kedua tangannya di dada.
" menurutmu kau tidak pantas untukku dan kau pantas untuknya..?! " rein terdengar sedikit mengeraskan suaranya
" yan...lepaskan yan, ingat persahabatan yang pernah ada di antara kita..." kris yang datang langsung melerai rein yandi yang hampir saja adu jotos sambil menarik tangan yandi dari kerah baju rein.
Yandi kemudian bergegas menarik tangan nayra dan membawanya pergi.
Rein nampak tak terima, ia hendak mengejar namun di hentikan kris.
Yandi dan nayra sampai di ruang kerja yandi, nayra duduk di sofa dan yandi duduk di kursi meja kerjanya dengan diam seribu bahasa,
wajahnya tampak merah padam dan buku buku jari tangannya tampak gemetar menahan marah.
Bayangan rein meraih tangan nayra sungguh membuat hatinya terbakar api cemburu yang begitu besar.
Hampir satu jam keduanya saling diam hingga terdengar suara nayra memecah kebisuan keduanya
" aku kembali ke ruanganku...permisi.." pamit nayra hendak pergi namun tak ada jawaban daru yandi, bahkan ketika di toleh yandi tampak tak bergerak dari posisinya.
Nayra hendak melangkah ketika yandi akhirnya juga bersuara
" jika aku adalah rein, akankah kau juga akan mengabaikanku seperti kau mengabaikanku sekarang...!? " tanyanya,
nayra diam seribu bahasa dak sedetik kemudian ia melanjutkan langkahnya keluar ruangan meninggalkan yandi dengan pertanyaannya yang tak mendapat jawaban.
Yandi menyugar rambutnya kasar kemudian berteriak dan melempar berkas di mejanya dengan kasar ke lantai hingga ruangan yang tadinya rapi tampak acak acakan karena kertas kertas berkas yang berhamburan.
Tak terasa ia menitikkan air mata, ia menelungkupkan wajahnya di meja dan menindih kedua tangannya yang ia pakai sebagai bantalan. Beberapa menit berlalu ia mendengar pintu di buka
__ADS_1
" kau minta ob saja bersihkan ruanganku kris..." katanya sambil tetap menelungkupkan wajahnya,
tak ada jawaban hanya suara langkah kaki yang ia dengar kemudian ia merasa ada yang meraih tangannya, ia mendongak
" nay..." bisiknya, nayra yang ternyata kembali dengan membawa nampan berisi makanan menarik tangan yandi kearah sofa dan pria yang nampak acak acakan itupun menurut.
" makanlah...!! " nayra menyuapi yandu ketika mereka telah sampai di sofa, dan sekali lagi yandipun menurutinya
" kupikir kau tidak akan kembali..." kalimat yandi terdengar pelan, nayra tak menjawab tapi terus menyuapi yandi dengan sesekali menyodorkan gelas air minum hingga makanan di piring tandas.
" kau masih berpikir aku mengabaikanmu...?! " nayra berucap sambil menatap yandi dengan lembut
" ada apa...kenapa kau sangat marah, reaksimu terlalu berlebihan...." sambung nayra lagi
" ada apa sebenarnya di antara kalian, katakan padaku..." kata yandi
" apa itu penting...?? " nayra balik bertanya
" hanya rein..dan selalu rein yang membuatmu mengabaikanku.." jawab yandi dengan menghela nafas berat.
" rein pernah menyampaikan perasaannya padaku dan memintaku manjadi pacarnya..." nayra menghela nafas berat
" aku tak mengenal kata pacaran, aku juga tidak mau pacaran..jika dia memang menyukaiku kupersilahkan ia datang pada orang tuaku..." lanjut nayra,
ingatan yandi menerawang pada cerita pak wiranto tentang kegagalan nayra berjodoh.
" rein datang kerumah ku..dia memintaku pada orang tuaku dan minggunya orang tuanya akan datang melamar, tapi di hari yang ia janjikan kepada orang tuaku ia dan keluarganya tak pernah datang dan tak pernah mengabari kami hingga satu tahun yang lalu rein mengirim pesan padaku kalau dia telah menjalani pendidikan militer dan kini talah menjadi anggota kepolisian. Dia siap datang pada keluargaku dan melamarku..."
sekali lagi nayra nampak menghela nafas berat dan yandi yang masih setia pada posisinya tak bergerak sama sekali.
" aku menolaknya...aku merasa tidak siap untuk menikah...dengannya..."
" kenapa..??! " tanya yandi dengan hati yang tak karuan
" tidak tahu..." jawab nayra
" kau tidak tahu kenapa menolaknya, atau mungkin kau sakit hati karena dia yang mengingkari janji..?! " tanya yandi lagi
" aku tidak tahu...aku tidak sakit hati sama sekali, kuanggap kami tak berjodoh dan bukan yang terbaik untuk satu dan sebaliknya..." jawab nayra lagi
" kau aneh..rein yang jelas jelas sudah menyakitimu dengan mengingkari janjinya padamu kau tak sakit hati..tapi denganku yang hanya kata kata karena cemburu yang tak kupahami kau sakit hati setengah mati, sebesar itukah cintamu padanya...??! " tanya yandi kali ini dengan wajah yang kembali memerah
" entahlah...mungkin juga begitu.." jawab santai nayra membuat yandi semakin merah padam
" jadi apa kau akan membatalkan niat mu melamarku..?! " kini nayra gantian bertanga
" hmmm...setelah kupikir pikir, baiklah aku akan membatalkan lamaranku padamu..." jawab yandi,
nayra terdiam namun kemudian ia tersenyum kecil
" tak apa ...aku menerimanya dan aku tidak akan menyalahkanmu..kedepannya semoga kita bisa baik baik saja..." ucap nayra
" tentu saja....persiapkan dirimu aku semakin yakin untuk tidak melamarmu tapi aku akan langsung menikahimu.." kali ini yandie menjawab dengan santai sambil berdiri dan membenarkan kancing jasnya
" kau...." nayra terkejut dengan jawaban yandi dan dengan spontan ia melempar pria itu dengan bantal sofa dan diterima yandi sambil tertawa
" setelah sekian tahun aku tersiksa karena mencintaimu jangan harap aku akan melepaskanmu begitu saja...kau harus bertanggung jawab pada ku nay.." kata yandi dengan menunjuk hatinya.
__ADS_1
Nayra hanya menyilang kedua tangannya di dada dengan mengerycutkan bibirnya menahan jengkel, sungguh tadi ia sempat merasa sakit hati ketika yandi bilang membatalkan lamarannya, rasa yang sungguh membuatnya bingung sendiri.
Di lain sisi ia merasa sakit hati pada pria itu namun di sisi yang lain ia seakan takut kehilangan, apa sebenarnya yang ia rasakan. Tanyanya dalam hati.