
Seminggu telah berlalu sejak Renald membawa seorang Nayra Azzahwa Alzahrani kerumah besar yang ia sewa dan menikahinya secara paksa. Kesehatannya berangsur angsur semakin membaik, wajahnya jauh terlihat lebih segar dan bersih di banding sebelum menikahi Nayra. Itu karena ia yang tak lagi sering bangun di malam hari kemudian kesulitan tertidur kembali karena mimpinya akan seorang wanita berhijab yang selalu menghilang setiap kali ia kejar dan meninggalkan kesedihan mendalam dalam benaknya. Menyiksa batinnya.
Akan tetapi, Renald seperti orang yang kebingungan bersikap. Ia seakan berusaha membangun benteng di antara dirinya dan Nayra, namun demikian ia sering memperhatikan wanita itu dalam kebisuan, mengkhawatirkan keselamatan wanita itu dalam diam.
Hingga diam diam ia memerintahkan Maria untuk selalu mengawasi Nayra dimanapun ia berada, meski wanita itu tengah berada di dalam rumah sekalipun.
Ia bimbang dengan hatinya sendiri, ada kemarahan yang besar ia rasakan bila ia teringat tuduhan dan cerita Katania tentang keterlibatan seorang Nayra Azzahwa Alzahrani dalam kehancuran kehidupannya di masa lalu, akan tetapi jauh di relung hatinya yang terdalam ia merasa sebagai pemilik wanita ini.
Kedamaian dan ketenangan serta rasa bahagia menyelimuti hatinya setiap kali mereka hanya berdua atau setidaknya berada dalam ruangan yang sama.
" cklek.." terdengar pintu terbuka, Nayra yang tengah menyisir rambut panjangnya menoleh dan menemukan Renald sedang memperhatikannya di depan pintu yang tertutup.
" mandilah...aku sudah menyiapkannya untukmu, sebentar lagi sarapanmu akan datang " Nayra memberi perintah pada Renald lalu kembali membalikkan tubuhnya menghadap kaca melanjutkan kegiatannya menyisir rambut sambil sesekali melirik Renald dari pantulan kaca, pria itu nampak menatapnya dengan intens di belakang sana.
Sehari hari selama seminggu ini Nayra memang lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar, bahkan makanpun ia di kamar. Itu karena Renald melarangnya keluar kamar setelah melihat dirinya berbicara berdua saja dengan Edo.
Hampir saja pria jangkung itu menghajar habis bahisan seorang Edo yang nota bene pengawal setia sang istri. Ia sungguh terbakar melihat keduanya berbincang yang terlihat mesra di matanya padahal itu hanya terlihat biasa di mata orang lain.
" jangan pernah keluar kamar sendirian tanpa ku, atau aku akan benar benar membunuhnya. Kau dengar " bentak Renald pada Nayra setelah berhasil membawa wanita bercadar itu masuk ke dalam kamarnya dan Nayra hanya diam membisu tak menjawab.
Renald nampak masuk kedalam kamar mandi tanpa sepatah kata, ya..hubungan keduanya tak sehangat seharusnya, Nayra mengikuti saja tingkah pria yang telah memaksa dirinya menjadi istrinya itu.
Beberapa menit telah berlalu, terdengar panggilan masuk di telpon genggam Renald yang berada diatas meja rias. Nayra meliriknya sejenak, ia menghela nafas katika sebuah nama tertera di sana.
KATANIA
Beberapa kali panggilan masuk itu di abaikan kini terdengar pesan masuk. Kali ini Nayra mengambilya dan tak ia duga pria itu tidak mengunci akses handphonnya sama sekali sehingga sangat mudah baginya mengakses handphone sang suami.
Dengan mudah wanita cantik itu membuka pesan yang masuk.
" sayang...aku sangat merindukanmu, mari kita bertemu "
pesan pertama Katania pada Renald dengan emoticon cinta yang banyak
" kau bilang hanya butuh satu hari untuk menikahi dan menceraikan wanita itu, ini sudah satu minggu sayang....kau bahkan tidak menghubungiku sama sekali "
lanjut pesan kedua Katania membuat hati Nayra berdenyut nyeri, ia memejamkan mata sejenak. Benar yang ia duga...Renald hanya ingin menghancurkannya dengan menikahinya
" aku menunggumu di apartemenku sayang, kutunggu..cepatlah datang " pesan terakhir Katania
" tunggulah...aku pasti datang " pesan balasan yang diketik Nayra terkirim
__ADS_1
Dan balasan segera masuk, sebuah gambar hati.
Seorang pelayan masuk dan meletakkan makanan diatas meja setelah sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu.
Handphone Renald masih digenggamnya ketika pria jangkung itu keluar dari kamar mandi dan telah mengenakana pakaian lengkap karena Nayra telah langsung menyiapakannya pula tadi, ditatapnya tangan Nayra yang memegang handphonnya.
dengan santainya Nayra mendekat dan menyerahkan handphone itu padanya.
" pacarmu menelpon, aku tidak mengangkatnya....dia mengirim pesan dan aku membacanya. dia sangat merindukanmu dan ingin segera bertemu untuk melepas rindu " kata Nayra dengan santai sambil berjalan menuju meja yang menghidangkan makanan setelah menyerahkan handphone pada pemiliknya. Renald hanya diam tanpa membuka handphonnya.
" oh ya...dia juga menagih janjimu yang akan menikahiku dan menceraikan aku dalam waktu satu hari saja, tapi ini sudah satu minggu...kau kelamaan mangkanya ia tidak sabar dan sangat merindukanmu " lanjut Nayra lagi lagi dengan wajah santai dan tanpa ekspresi. Renald di buat gusar karena sikapnya itu.
" cepat lakukanlah..aku sudah siap, lagian seminggu berada disini itu cukup membuang waktuku " lagi Nayra berucap santai sembari menatap kearah Renald.
Pria tampan dan jangkung itu mendekat dengan wajah geram, seminggu bersama Nayra cukup membuatnya merasa sebagai pemilik wanita itu meski mereka tak melakukan apapun selain tidur bersama.
" melakukan apa ?! " tanyanya dengan tatapan tajam menusuk kearah Nayra.
" santai...kenapa kau garang sekali, menceraikanku Itu kan tujuanmu ? Menceraikanku setelah menikahiku untuh menghancurkan hidupku. Aku benar bukan ?! " tandas Nayra dengan senyum tersungging di bibirnya
" wanita macam apa kau ini, sebegitu mudahnya membicarakan perceraian " tanda Renald
" kau ingin bebas bersenang senang dengan pria itu, dengan William dan entah dengan siapa lagi yang sudah terjerat oleh mu " bentak Renald penuh kemarahan namun Nayra tetap terlihat santai.
Wanita cantik itu mengedikkan bahunya sembari mencebikkan bibirnya.
" bukan urusanmu lagi itu nantinya " jawab Nayra dengan santai.
Sungguh menyulut kemarahan seorang Renald, tapi pria itu seakan tak mampu berbuat apapun pada wanita itu.
" dasar wanita plin plan, kau bilang aku mungkin suamimu yang hilang tapi sekarang kau meminta perceraian dariku " omel Renald ketus dan spontan membuat Nayra tertawa terbahak bahak.
" kau sendiri kan yang bilang kalau kau bukan dia ?!" cibir Nayra pada Renald
Tingkah Renald itu sungguh seperti tingakah Yandi bila sedang cemburu di mata Nayra dan sungguh menggelitik hatinya.
" bukan aku yang meminta tuan Renald, tapi pacarmu tersayang itu yang memintamu segera menceraikan aku...dan bukankah itu juga tujuanmu ? Dengan siapa aku setelahnya dan aku mau apa itu bukanlah urusanmu..aku benarkan ? Kenapa kau emosi, lucu sekali " kata Nayra di sela sela tawanya melihat ekspresi Renald yang seperti orang kebakaran jenggot.
Renald menatap Nayra dengan tajam, namun kemudian ia tetap membuka mulutnya karena Nayra yang menyodorkan makanan pada mulutnya. Nayra menyuapinya makan. Dengan tetap menahan tawa.
Renald selalu meminta di suapi olehnya dan itu semakin membuat keyakinan Nayra tentang siapa sebenarnya jati diri pria itu semakin besar. Semua yang ada pada diri pria itu dan semua perilaku Renald mengingatkannya akan sang suami, bahkan selera dan cara dia mengunyah makananpun sama persis.
__ADS_1
" kenapa mukamu masih seperti itu...kau mau aku menciummu ?! " gertak Renald melihat wajah Nayra yang masih saja menahan tawa seakan mengejeknya.
" suka suka akulah....muka muka aku sendiri " jawab Nayra cuek sembari mengedikkan bahunya membuat Renald semakin geram di buatnya.
" sini kau.." teriak Renald merebut piring di tangan Nayra, meletakkannya di meja dan menarik tangan Nayra kearahnya hingga wanita cantik dengan rambut panjang tergerai itu terduduk di pangkuannya.
" kau sengaja menggodakukan...kau ingin aku menciummu kan ?! " bentak Renald
" apa...kau ingin menciumku ?! Lakukan....aku tidak keberatan " jawab Nayra santai sambil memanyunkan bibirnya menggoda Renald
" kau seperti perempuan gatal " cibir Renald dengan tetap memangku Nayra di pangkuannya
" he tuan Renald, justru wanita yang gatal pada suami itu wanita yang baik. Kenapa...kau takut jatuh cinta padaku yang kesekian kalinya karena menciumku hah ?! " cecar Nayra lagi
" kumakan kau..." ancam Renald geram
" makanlah...toh tidak ada yang salah dengan itu, kau sendiri saja yang ketakutan tak beralasan padaku " jawab Nayra enteng
" kau...kemari kau, rasakan ini " Renald memeluk erat perut Nayra, menenggelamkan kepalanya pada leher jenjang wanita itu yang tertutup rambut dan satu tangannya menggelitik pinggangnya membuat Nayra semakin tertawa dan berteriak minta ampun.
Cukup lama keduanya dalam keadaan mesra seperti itu hingga gerakan Renald terhenti karena mendengar sebuah nama keluar dari mulut wanita itu.
" ampun yan...ampun , sudah yandi aku sudah tak tahan " rengek Nayra membuat Renald menatapnya tajam.
" ekhem..." sadar dengan yang sudah terjadi Nayra bangkit dari pangkuan Renald sembari melipat bibirnya rapat rapat kemudian melangkah menuju nakas dan mengambil sesuatu di sana.
Setelahnya ia kembali mendekat kearah Renald dengan membawa minuman.
" minum obat mu " katan Nayra sambil menyuapkan obat kepada Renald. Tapi Renald hanya diam dan tetap menatapnya tajam tak berkedip.
Nayra menghela nafas berat kemudian dengan paksa memaksa Renald meminum obatnya.
" cup " Nayra mencium bibir sang suami setelah pria itu meminum obatnya dengan masih menatapnya tajam bagai belati.
" maaf...aku mengingatnya, wlekkk " bisik Nayra di telinga pria itu sambil menjulurkan lidahnya mengejek lalu segera berlari kearah kamar mandi dengan cepat dan mengunci pintunya.
" Nayraaaaaaaa Azzahwa....awas kau " bentak Renald dengan menggedor pintu kamar mandi, tapi Nayra tak menggubrisnya hanya terdengar gelak tawa dari dalam kamar mandi.
Yandi berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tersenyum senyum sendiri memegangi bibirnya, ia masih merasakan hangatnya bibir Nayra di sana.
" akhhh....aku bisa gila karena wanita itu " rutuknya lalu memutuskan keluar dari kamar itu.
__ADS_1