Cinta Gadis Dingin

Cinta Gadis Dingin
mencoba memberi pengertian


__ADS_3

Nayra nampak mengambil nafas panjang, dan menghembuskannya dengan pelan dan berat. Sejujurnya ia bingung bagaimana seharusnya ia bersikap pada pria di hadapannya ini.


" aku akan mengambil alih penyelidikan akan kasus proyek kali ini, jika terbukti terjadi sabotase di sini...maka aku akan memutuskan sepihak kerjasama di antara kita " Nayra berkata dengan nada lembut namum tegas.


Tersungging senyum indah di bibir seorang William Edgar


" makanlah...kau datang sangat terlambat hari ini, aku sungguh menahan lapar karenamu " jawabnya tsk kalah lembut dengan Nayra kemudian sembari menyodorkan piring yang telah ia isi dengan makanan kepada Nayra.


Nayra sempat mengernyitkan kening melihat makanan di piringnya. Semua makanan itu adalah kesukaannya.


Kembali Nayra menghembuskan nafas, pria satu ini benar benar seperti menguji kesabarannya. Cukup lama piring berisi makanan itu menggantung di udara menunggu di terima tangan seseorang.


" hmmm...." William masih setia bersikap manis sambil menyodorkan piring itu kepada Nayra.


" aku janji..setelah ini, kita bicara baik baik " kata William kemudian membujuk membuat Nayra segera menerima piring itu.


" aku tidak lapar.." jawab Nayra kemudian


" makanlah...bukankah sangat tidak baik menyia nyiakan makanan hemmm..." William mengingatkan, dan ternyata itu cukup ampuh


Nayra nampak menurut dan mulai menyuap makanannya. William tersenyum sangat bahagia. Di tatapnya wanita di hadapannya itu dengan bibir yang terus mengulas senyum


" jangan memandangiku terus seperti itu, makanlah.." kata Nayra tanpa menatap William


" ekhmm..." Wiliam berdehem, ia sungguh tak habis pikir, sedingin ini kah wanita itu..hingga diperhatikan oleh seorang pria ia seakan tak terpengaruh sedikitpun apa lagi salah tingkah.


" dasar es batu..." bisiknya dalam hati.


Hampir tiga puluh menit telah berlalu, Nayra telah menyelesaiakan makannya sejak tadi, tapi William tak kunjung selesai. Ia nampak terus menyuap nasi sambil sesekali meminta ini dan itu pada Nayra hingga membuat wanita bercadar itu gerah sendiri.


William tersenyum tipis melihat ada perubahan di mata Nayra,


" berasa di layanin istri makan....seneng banget rasanya..." katanya setelah selesai makan dan mengelap bibirnya dengan tisu.


" ok mari kita bicara..jangan cemberut lagi " kata William kemudian sembari membenarkan letak duduknya setelah tadi seseorang membersihkan mejanya.


" aku akan ambil alih penyelidikan kasus ini....dan jika aku temukan ada sabotase, jangan salahkan kami jika kami akan memutus sepihak kerjasama kita..." jawab Nayra


William nampak menghembuskan nafas berat.


" menikahlah denganku...kumohon.." pinta William kemudian

__ADS_1


" Tuan William...."


" aku bersungguh sungguh nayra....menikahlah denganku, kau sungguh duniaku sekarang. Sulit sekali bagiku menjalani rutinitas ku tanpa melihat atau hanya mendengar suaramu..." William nampak tersiksa


" kau menolak hanya dengan menerima telpon dari ku seperti kemaren aku sudah seperti orang gila nayra, aku bisa apa...aku tak bisa lagi menyentuh wanita lain sejak melihatmu. Lihatlah betapa terbukanya aku padamu.." William terus berkata kata pada Nayra tanpa Nayra turut berucap sekalipun.


" isi kepalaku hanya kamu...tolong mengertilah keadaanku...aku tersiksa karenamu " lanjut William kemudian.


" tuan William..kita bukanlah anak kecil yang semua keinginan kita harus terpenuhi. Aku sangat berterimakasih atas perasaanmu kepadaku..tapi aku bukanlan wanita yang masih sendiri, aku wanita yang sudah menikah...aku wanita bersuami..." jelas nayra kemudian


" tidak..kau bukan wanita bersuami, tapi kau kau wanita yang pernah bersuami, kau bukan wanita yang sudah menikah, tapi kau wanita yang pernah menikah. Sungguh itu bukan masalah bagiku..." jawab William membuat Nayra menghembuskan nafas berat.


" sesuatu tentang hati dan perasaan bukankah tidak bisa di paksakan. Andai memang benar kau mencintai aku dengan begitu besar seperti yang kau ucapkan, kau pasti juga bisa memahami perasaanku terhadap suamiku..." perlahan Nayra mencoba memberi pengertian pada pria di hadapannya ini.


" hampir sembilan tahun aku mencintainya dalam diam, hampir sembilan tahun ia menjadi salah satu yang namanya ku sebut dalam doa ku....namun ketika aku diizinkan bersamanya. Waktuku hanya sedikit...belum genap dua tahun kami bersama....Tuhanku telah menjauhkan aku kembali darinya " Nayra berkata kata dengan pelan namun dapat dengan jelas di dengar oleh seorang William Edgar.


Tangannya terkepal, sungguh sebenarnya ia tak rela bibir wanita itu membicarakan pria lain. Akan tetapi tatap kesedihan yang begitu dalam yang dapat ia lihat dari mata wanita itu membuatnya membisu.


Hampir satu tahun terus mengikuti dan memgekori wanita ini, tak pernah sekalipun ia melihat kerapuhan padanya. Namun kali ini...sungguh ia melihat ketidak berdayaan seorang Nayra Azzahwa Alzahrani.


" tidakkah ini hanya alasanmu menolakku...hanya karena kau ingin bersama kenan, atau irfan...atau bahkan pria lain yang aku tidak tahu.." William bersuara mencoba memungkiri betapa besar cinta wanita itu terhadap pria lain yang ia sebut sebagai suami.


" lalu maksudmu kau akan terus seperti ini...?! "


" entahlah...mungkin..." jawab Nayra


" sampai kapan...?! "


" aku tidak tahu...mungkin sampai Tuhan sendiri memberiku keikhlasan.."


" aku tidak ingin ini hanya caramu menghindariku..." desak William lagi


Nayra menghela nafas berat.


" berjanjilah padaku...bahwa tidak akan ada orang lain setelah Yandi selain aku, aku akan menunggu sampai kau bisa menerima kepergiannya, ini aku lakukan karena aku sangat mencintaimu. Tapi selama itu biarkan aku bersamamu...hanya aku " kembali William mendesak Nayra


" aku sangat tidak mengerti maksud anda tuan William...." jawab Nayra


" biarkan aku menemuimu sesukaku, jangan pernah menolak telpon dariku..."


" kenapa begitu ?! " Nayra mengerutkan keningnya tanda tak paham

__ADS_1


" hanya meminimalisir mereka mereka yang ingin memanfaatkan situasi, seperti orang macam Irfan dan Kenan itu..." jawab William frontal membuat Nayra tertawa, dan jelas hal itu membuat William menatapnya tak percaya.


Nayra tertawa, sungguh tertawa...pikirnya, melihat tatapan aneh seorang William Nayra segera menutup mulutnya


" maaf..tidak bermaksud apa apa, hanya spontan saja..." kata Nayra kemudian dengan melipat kedua tangannya di depan dada tanda minta maaf.


" tak apa, tapi aku yakin...hari ini aku bisa membuatmu tertawa, suatu hari nanti aku akan membuatmu jatuh cinta padaku..." tegas William


" kau berusaha mengekangku..?! " tanya Nayra kemudian


" hanya naluri seorang pria yang berusaha melindungi miliknya " kata William kemudian sembari menyebikkan bibirnya dan mengangkat kedua bahunya.


" terserah kau saja..." jawab Nayra dengan melempar pandangannya ketempat lain,


" baiklah jika tidak ada lagi yang di bicarakan aku akan pergi. Kau tahu aku masih punya banyak urusan..." Nayra berusaha pamit sebaik mungkin


" kapan acaramu di gelar ?! " tanya William sambil mengikuti Nayra yang berdiri.


" seminggu lagi.."


" jangan terlalu memforsir dirimu terlalu keras, alihkan perhatianmu pada lain hal..aku misalnya " goda William sekaligus mengingatkan


"insyaAllah.." Jawab Nayra sambil melangkah hendak keluar.


" Nayra..." panggil William lagi menghentikan langkah Nayra


" jangan memberi ruang siapapun selain aku, cari aku jika kau memerlukan bantuan. Aku tidak bermaksud melibatkan mereka yang tak tahu apa apa tentang kita sebenarnya...tapi aku bisa apa, hanya itu satu satunya cara membuatmu datang padaku..." jelas William ketika telah sampai di hadapan Nayra dengan wajah yang serius.


" dan aku bersumpah....aku akan melakukan apapun untuk memilikimu jika orang lain itu bukan suami mu, bahkan meski aku harus mengorbankan mereka yang tidak bersalah sekalipun.." ancam William.


" kau tidak waras...kau sadar kau hanya terobsesi padaku, bukan cinta.." jawab Nayra sedikit kesal kali ini karena William yang mengancamnya.


" terserah...lakukan jika kau ingin aku membuktikan kata kataku..." William menjawab santai sambil membukakan pintu untuk Nayra, di depan pintu telah berdiri tiga orang pengawal Nayra yang menatapnya tajam. Juga assisten dan sekretarisnya sendiri yang juga menatapnya aneh.


" terimakasih makan siangnya calon istriku..." kata William lagi dengan keras dan dapat di dengar dengan jelas oleh Jacob juga sekretarinya Liliana, dan juga Kris, Bunga serta Edo tentunya.


" dasar sinting..." umpat Nayra sembari berlalu pergi, Kris dan Edo saling pandang demi mendengar kata kata kasar Nayra. Pasalnya mereka tak pernah sekalipun mendengar wanita ini berkata kasar. Begitupum dengan Bunga, ia nampak menggeleng gelengkan kepalanya mendengar umpatan Nayra tadi.


Sedang di dalam ruangan William yang kembali duduk di kursi kebesarannya, nampak pria tampan berdarah asing itu tersenyum senyum sendiri sembari menatap bingkai foto di mejanya.


" pelan tapi pasti..aku pasti akan memiliki mu...Nayra..." bisiknya.

__ADS_1


__ADS_2