
Hendra Kurniawan tersenyum cerah secerah sang mentari yang bersinar terang pagi ini. Ia menatap pemandangan jalan raya dari kaca jendela apartemennya dengan wajah yang sumringah.
Tak ada lagi yang mampu memberatkan pikirannya. Sang putra kesayangannya telah berada di Rusia dan yang tentunya dalam pengawasannya.
Pria paruh baya itu merentangkan kedua tangannya, pasalnya selain telah mampu mengendalikan sang putra ia juga merasa telah mampu mengatasi permasalahan dalam perusahaannya.
Perusahaan obatnya mampu ia selamatkan dari laparnya kertas si kuli tinta.
Indeks saham perusahaan elektroniknya pun perlahan naik dan hampir menyentuh titik atas pada awalnya. Sungguh saai ini ia merasa tak ada lagi alasan bagi dirinya untuk tidak sekedar menyunggingkan senyuman.
Hari ini pria itu memutuskan jika dirinya sendiri yang akan melakukan pertanggung jawaban atas dana yang telah di gelontorkan sang donaturnya.
Tepat pukul sembilan ia bersama Puguh dan Tristan sekretarisnya juga seluruh jajaran dewan direksinya nampak telah siap memasuki ruang meeting perusahaannya itu.
Dirinya dan semua jajarannya telah menempati tempat duduk mereka masing masing dan mulai menyiapkan berkas berkas mereka.
Beberapa saat kemudian beberapa orang yang baru saja datang membuat mata Hendra Kurniawan terbelalak sempurna.
Pria tua tampan di dampingi tiga orang pemuda tampan di sisinya juga beberapa orang lainnya di sana.
Juga hadirnya wanita bercadar yang cukup membuatnya spot jantung melihatnya.
" maaf sedikit terlambat....mari kita mulai meeting " Tuan Aditya yang ternyata adalah orang yang membuat Hendra terbelalak itu duduk dengan santai dikursi utama pimpinan tertinggi perusahaan miliknya itu.
Sama halnya dengan Hendra, Puguh pun tak mampu menguasai kesadarannya.
" boleh saya tahu kepentingan anda disini tuan Aditya ?! " tak mampu menahan rasa penasaran di hatinya Hendra sendri segera melemparkan pertanyaan kepada Wirhahadi Aditya Rachman.
Tuan Aditya hanya melempar senyum sembari memainkan bolpoin di tangannya.
__ADS_1
" maaf tuan Mahyong...tuan Aditya adalah pemegang saham terbesar perusahaan anda menurut surat perjanjian yang sudah anda tanda tangani " Tristan menjelaskan dengan sopan membuat Hendra dengan cepat menoleh kearahnya.
" jedar....." bagai tersambar petir Hendra mendengarnya. Ia merasakan kepalanya tiba tiba pusing.
" bukankah anda sendiri yang memutuskan menandatangani surat perjanjian itu tuan " Tristan terdengar menjelaskan lagi.
Hendra tiba tiba tak mampu berkata apa apa, darahnya seakan berhenti mengalir bagitu saja. karena begitu cemasnya ia waktu itu akan keselamatan perusahaannya, ia tak membaca dengan teliti yang tertulis dan siapa penyandang suntikan dana yang sangat besar kepada perusahaannya ini.
Dan kini ia harus menerima kenyataan bahwa musuh terbesarnya telah mengakuisisi perusahaan kebanggaan keluarganya itu.
" mulai laporan pertanggung jawaban kalian atas dana yang telah kami gelontorkan pada perusahaan ini. jika laporan kalian dapat kami terima maka kami tidak akan mencabut saham kami. Namun jika laporan kalian tidak dapat kami terima...maka mohon maaf, dengan sangat terpaksa kami akan mencabut kembali saham kami " kali ini Liam dengan tegas menyampaikan keputusan sang pemimpin tertinggi yakni Wirhahadi Aditya Rachman.
Ingatan tentang pemanfaatan dirinya sebagai media alat balas dendam Hendra Kurniawan hingga berujung dirinya yang hampir kehilangan sang istri membuatnya semakin mempertegas suaranya menyuarakan keputusan sang mertua.
Hendra Kurniawan mati matian menenangkan dirinya. Jemarinya terus terkepal erat di atas pahanya di bawah meja. Sejenak ia memejamkan mata berusaha mempertahankan kewarasannya.
Hampir tiga jam meeting berlangsung. Kini mereka telah sampai pada akhir keputusan.
Tuan Aditya nampak berdiri, mengancingkan kancing jaznya dan terakhir mengebas ngebaskan jaz di bagian pundaknya.
Tunggu kabar dari ku satu bulan lagi, apa aku akan menerima laporan kalian atau tidak " Kata Tuan Aditya kemudian.
" akan tetapi jujur aku mengapresiasi usah kalian, segera kirimkan berkas berkas kalian kepadaku.." lanjutnya lagi, kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu diikuti semua yang tadi datang bersamanya.
Sepeninggal Tuan Aditya beserta rombongannya, Hendra Kurniawan dengan cepat keluar ruang meeting itu dan melangkah cepat menuju ruangannya sendiri.
Sesampainya di sana, Hendra tak mampu lagi menahan amarahnya. Ia berteriak sembari menghempaskan semua yang ada di mejanya.
Beruntungnya ruangannya adalah kedap suara, hingga keributan yang ia lakukan tak sampai terdengar keluar ruangan. Sehingga citranya sebagai pemimpin yang sangat terhormat tak tercoreng oleh ulahnya kali ini.
__ADS_1
Puguh dan Tristan yang menyusul Hendra segera menutup pintu dengan cepat melihat ruangan itu berantakan.
" kau juga tak tahu apa apa Guh...?? " suara Hendra terdengar bergetar, pria tampan paruh baya itu kini duduk di kursi kebesarannya dengan posisi membelakangi Puguh dan Tristan.
" maafkan saya tuan...saya juga tak terpikirkan keasana sama sekali tuan " jawab Puguh dengan suara bergetar pula menahan takut.
Selama ini yang Puguh tahu, Hendra Kurniawan akan selalu bertindak tegas pada setiap kesalahan.
Hendra nampak mencengkeram erat kedua pegangan kursi yang ia duduki.
Ia berusaha berdiri sebelum akhirnya tubuhnya tiba tiba nampak limbung dan hendak jatuh tak sadarkan diri.
Beruntung Puguh dan Tristan tampak sigap menyadari keadaan dan situai yang sedang terjadi hingga keduanya mampu menahan tubuh majikannya agar tak jatuh menyentuh lantai.
Hendra benar benar seakan tak mampu lagi menahan serangan balik seorang Aditya Rachman, terbukti kini dengan tubuhnga yang telah tumbang.
Tak mau menanggung resiko yang lebih fatal, Puguh memutuskan membawa Hendra ke rumah sakit berstandard internasional yang tak berjarak jauh dari perusahannya di bantu Tristan juga beberapa staf eksekutiv lainnya.
Puguh menghembuskan nafas lega begitu mendengar keterangan dokter yang telah selesai melakukan berbagai prusedur pemeriksaan dan menyatakan jika tuan Hendra Kurniawan hanya syok berat bukan stroke seperti yang ia takutkan.
" darah tuan Hendra stabil tuan, anda tidak perlu khawatir namun memang tingkat kecemasan yang ia alami membuat tubuhnya syok " jelas dokter yang memimpin pemeriksaan itu.
Sesampainya dirumah sakit itu tadi memang Hendra langsung di tangani dengan baik oleh tim dokter. Hal itu juga pastilah dikarenakan keluarganya yang juga merupakan salah satu pemegang saham di rumah sakit itu meski bukan termasuk pemegang saham mayoritas.
Puguh dan Tristan memutuskan duduk di depan ruang perawatan Hendra karena memang Hendra yang sudah di pindahkan keruangan perawatan dari ruang penanganan tadi belum boleh menerima tamu atau apapun selain tim dokter dan perawat yang bertugas menangani Hendra Kurniawan alias Im hauyong Can atau juga biasa di panggil sebagai tuan atau paman Mahyong oleh orang terdekatnya juga anak buah kepercayaannya.
Puguh memutuskan menunggu di rumah sakit sambil menunggu kedatangan Agustin dari Rusia setelah tadi ia berhasil mengabari putra angkat tuan Mahuyong tersebut.
Sedangkan Tristan dan para staf eksekutif yang tadi membantunya membawa Hendra kerumah sakit ia perintahkan segera kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan yang diminta Aditya Rachman tadi saat meeting.
__ADS_1