
Nayra menahan dada Katania dan mendorongnya hingga wanita cantik itu terhimpit ke dinding, sungguh pemandangan itu empat pasang mata di sana terbelalak tak percaya.
Tak satupun dari keempat orang itu akan mengira tindakan brutal wanita berhijab syar'i itu. Mereka semakin membelalakkan kedua mata mereka melihat kedua kaki Nayra membangun kuda kuda pertahanan bela diri.
" siapa dia sebenarnya...?! " tanya Nayra dengan suara datar dan penuh penekanan. Katania semakin merasakan dadanya bergemuruh.
" dia bukan suamimu....dia calon suamiku " jawab Katania kemudian membuat Nayra tersenyum miring kepadanya.
" apa aku sedang bercerita tenteng seseorang ? Atau kau yang memang telah mengetahui siapa diriku ?! " kata kata Natra bagai skakmat menghantam Katania. Wanita cantik itu nampak pias,
" aku tidak sedang membicarakan siapapun nona katania.."
" mata ini....mata ini mengingatkanku akan seseorang " Nayra melanjutkan kata katanya sembari mengelus pelipis mata Katania dan mengamati wajah wanita itu.
" Maritha...." ucap Nayra kemudian
" apa maksudmu..?! " Katania semakin pias, susah payah ia menguasai kesadaran dirinya,
Sekali lagi Nayra tersenyum simpul pada Katania kemudian ia nampak mundur beberapa langkah menarik diri dari tubuh Katania.
" dia sedang tidak baik baik saja, pergilah...jika dia telah baik baik saja, aku pastikan dia akan datang menemuimu " ucap Nayra kemudian.
" pastikan dia hanya milikku.." katania menjawab ketus.
__ADS_1
" urusannya denganmu bukan urusanku..." jawab Nayra dingin kemudia berlalu masuk kedalm kamar kembali, Katania menatap penuh kebencian pada wanita berhijab itu.
" kali ini aku benar benar akan menyingkirkanmu Nayra...." bisiknya dalam hati.
" murahan..." umpatnya sembari berlalu meninggalkan tempat itu dengan diiringi tatapan empat pasang mata di sana.
Nayra memastikan kepergian Katania dari jendela kamar itu, setelah ia melihat sendiri mobil Katania meninggalkan tempat itu ia kembali mendekat kearah Renald.
Ia menatap sendu wajah pria di hadapannya itu. Kemudian ia menarik kursi mendekat kearah Renald dan duduk disana. Ia mengambil piring berisi nasi dan menghela nafas.
" mau kemana ?! " tiba tiba terdengar pertanyaan dari Renald padanya yang baru saja akan berdiri dengan membawa piring nasi.
" kau belum makan tapi ini sudah dingin, aku ingin menghangatkannya lagi..." jelas Nayra
" ada apa ?! " tanya Renald kemudian
" selesaikan dulu urusanmu dengan nona Katania " ucap Nayra kemudian. Dan di angguki oleh Renald.
" mau kemana lagi..meninggalkanku lagi ?! " tanya Renald dengan cepat karena melihat Nayra yang nampak hendak berlalu.
" tidak....hanya memanggil dokter edward untuk memeriksamu..dia bilang kau akan sadar satu hari lagi, tapi sekarang kau sudah sadar " ucap Nayra
" atau kau yang sangat bahagia karena calon istrimu yang datang hendak menemuimu hingga kau cepat sadar " jawab Nayra lagi membuat Renalde memicingkan matanya heran
__ADS_1
" tapi maaf..aku mengusirnya tadi karena dia berteriak teriak tidak sopan ...kau mau aku membawanya kemari lagi ? " lanjut Nayra lagi dan hendak melanjutkan langkahnya namun di hentikan oleh ucapan Renald.
" jika kau tidak ingin durhaka....kemarilah " kata Renald sembari menepuk sisi kosong di sampingnya
Sempat membatu namun akhirnya Nayra pun menurut.
" aku tidak tahu sejak kapan, tapi hatiku selalu tertuju padamu " kata Renald setelah Nayra duduk disisinya.
" aku mengingatkanmu akan seseorang ?! " tanya Nayra kemudian. Renald menatapnya lekat lekat.
" aku tidak mengingat apapun masa laluku, hanya saja kau seperti seorang wanita yang selalu hadir dalam mimpiku...meski aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas " jawab Renald pelan
" wajah yang akan membuatku sakit kepala hebat setiap kali aku memaksa mengingatnya " lanjutnya
" ditaman waktu itu pertama kali aku melihat dirimu sebagai dia, semua yang ada pada dirimu mengingatkanku pada wanita itu " sambung Renald lagi.
" aku tidak tahu kenapa aku bisa sangat tenang bila berada di dekatmu, aku merasa kau adalah milikku.
Meski Katania selalu berkata kami adalah pasangan sebelumnya, tapi hati kecilku seolah menolak itu " kembali Renald bersuara dan dengan sabar Nayra mendengarkannya.
" tidurlah...kau butuh istirahat " ucap Nayra kemudian, ada banyak hal yang ingin ia sampaikan pada pria itu, namun ia tak tega melihat wajah pucat pria itu.
" jangan pergi..." ucap Renald seperti anak kecil kemudian ia memeluk pinggang Nayra posesif.
__ADS_1
" hmmm..." jawab Nayra kemudian membiarkan saja Renald memeluk pinggangnya dan mulai tertidur.