
Di dalam ruang rawat Maritha, sepeninggal Bunga Jacob yang masih setia berdiri melangkah menghampiri Maritha begitu melihat wanita yang telah menjadi istrinya sejak seminggu yang lalu itu nampak kesulitan hendak mengambil minum di meja sampingnya.
" kenapa diam saja....." kata Jacob dengan tenang mengambilkan gelas itu dan menyerahkannya pada Maritha. Wanita itupun menerimanya tanpa berkata apa apa.
" jangan berharap apa apa dengan pernikahan ini... aku sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini terjadi " ucap Maritha dingin setelah meneguk minumannya
Jacob mengambil gelas ditangan Maritha kemudian meletakkannya kembali di atas meja
" kau mau buah...?? " tawarnya
" tidak usah...aku bisa mengambilnya sendiri nanti " jawab Maritha pelan tapi tetap dingin. Jacob mendudukkan dirinya di sisi brangkar itu sembari menatap wanita yang telah sah menjadi istrinya itu.
Maritha yang di tatap seperti itu menjadi salah tingkah.
" jangan melihatku seperti itu... " hardik Maritha pada Jacob
" kenapa ? Kau gugup ? "
" tidak...aku tidak suka "
" tidak suka atau kau salah tingkah karena aku memandangmu " goda Jacob melihat wajah Maritha yang merah padam.
" stop bicara tidak jelas...jaga batasanmu " sentak Maritha pada Jacob membuat pria itu mengulas senyum tipis.
" batasan apa yang bagaimana yang kau maksud...kita tidak butuh batasan di antara kita, aku milikmu dan kau milikku " Jacob berinisiatif menjaihili sang istri yang wajahnya kini tampak kebingungan dan salah tingkah.
" jangan terlalu berpikir keras...kita jalani saja dulu seperti air yang mengalir.." akhirnya Jacob berkata serius karena tak tega melihat wajah pias Maritha
" apa maksudmu ?! " tanya Maritha, kini wanita itu menatap balik pria di hadapannya itu.
" jangan anggap aku suamimu jika itu menyulitkan dirimu menerima ku. Aku tahu siapa diriku...aku hanya seorang asisten saudaramu " kata Jacob mencoba memahami pemikiran Maritha tentang dirinya, membuat Maritha melengos ketempat lain.
" aku bisa menjadi temanmu...bicaralah padaku, percaya aku "
" aku tidak punya pemikiran sepicik itu..." jawab Maritha ketus. Sungguh meski dirinya terlahir dari keluarga kaya raya, berteman dengan sesama anak pengusaha seperti Bunga misalnya tidak pernah membuatnya membeda bedakan seseorang karena latar belankangnya ataupun keluarganya.
Dan sungguh ucapan Jacob melukai sanubarinya sebagai seorang manusia.
Jacob tersenyum tipis.
" lalu..jika bukan karena status sosial kita yang berbeda, apa yang membuatmu seperti jijik melihatku. Kau bahkan terus memalingkan wajahmu saat bicara denganku begini " kembali Jacob merasa ingin menjahili sang istri yang ia tahu tengah merajuk karena ucapannya tadi.
__ADS_1
" terserah padamu....memangnya kau pikir aku perduli dengan yang kau pikirkan tentangku " ucap Maritha sekali lagi masih dengan ketusnya.
Jacob tesenyum.
" dengarkan aku...aku tidak akan memaksakan apapun padamu, aku akan menunggu sampai kau benar benar bisa menerimaku. Dan jika suatu hari nanti kau tetap tak mampu menerimaku, maka katakan padaku " Jacob menjeda kalimatnya sejenak, dengan tatapan mata yang sendu ia meraih jemari Maritha
" aku akan menerima apapun keputusanmu...meski jika akhirnya kau ingin tetap mengakhiri hubungan kita, aku akan menerimanya " lanjutnya perlahan.
Sungguh hatinya sangat sakit mengatakan itu pada wanita yang sangat ia cintai itu, namum apa daya. Dirinya sadar ia tak mungkin memaksakan keinginannya pada Maritha jika itu justru akan menyiksa wanita itu.
" tapi kau juga harus ingat, aku setuju melepaskanmu nanti bukan untuk kau bebas kembali mengejar suami orang. Jika itu masih kau lakukan, percayalah aku orang pertama yang akan mengahalangimu " sambung Jacob sekali lagi.
" aku sungguh mencintaimu lebih dari yang kau bayangkan Maritha...aku juga sungguh bisa merasakan apa yang kau rasakan kini "
Maritha terdiam membisu, ia menarik kedua lututnya kedalam pelukannya sendiri. Bahunya turun naik tanda ia tengah menahan tangisannya.
Tak dapat ia pungkiri, hatinya masih sulit menerima kenyataan. Cintanya kepada Yandi sungguh membuatnya terluka begitu dalam.
Sesaat kemudian ia merasakan tubuhnya didekap hangat dan ia tahu siapa yang kini memeluknya itu.
Selama ini Jacob memang sering membersamai dirinya kala ia dalam keadaan terpuruk seperti saat ini.
Jacob mendekap erat tubuh semampai itu dalam dekapannya, di ciumnya ujung kepala wanitu dengan sayang.
Di koridor rumah sakit Nayra tengah melangkah bersama Bunga dan Maria menuju ruang rawat Yandi ketika ia melihat beberapa orang dokter nampak berlari terburu buru menuju ruang perawatan,
Nayra mengerutkan keningnya sejenak,
" ada apa ini Nay...kenapa mereka semua masuk ruang perawatan Yandi ?! " tanya Bunga sedikit bingung
" apa....benarkah ?! " Nayra kebingungan, pasalnya ia tak menyadari jika rombongan dokter itu masuk keruangan rawat suaminya. Wajahnya nampak cemas sekarang namun tentu Bunga tak mampu melihatnya karena cadar yang menutupi wajahnya.
" dokter Edward...." panggil Nayra segera ketika ia melihat dokter yang juga teman suaminya itu nampak tergopoh gopoh juga melangkah dengan cepat hendak menuju ruang perawatan Yandi.
Edward nampak kebingungan menjawab.
" katakan yang sebenarnya.." sergah Nayra
" Yandi...Yandi ..." Edward tak mampu melanjutkan kata katanya dan bersamaan dengan itu terlihat Alan berlari kearahnya sembari berteriak memanggilnya.
" nona.... " panggil Alan dan tepat dihadapan Nayra pria itu jatuh terduduk di lantai.
__ADS_1
Alan tadi berlari dengan panik menuju ruang pimpinan rumah sakit karena khawatir akan keadaan Yandi. Dan karena itu pula ia jadi lupa dengan bel panggilan darurat yang sebenarnya bisa ia tekan yang juga ada di dalam ruangan itu.
" ada apa Alan...kenapa kau seperti ini ?! " tanya Nayra gugup, perasaannya sangat tidak enak saat ini.
" bagaiman keadaan presdir yan...." belum rampung Alan menyelesaikan kalimatnya Nayra telah berlari dan membuka dengan kasar ruang perawatan sang suami.
Tubuhnya tiba tiba terasa kelu, kakinya terasa tak menginjak pijakan apapun melihat sang suami terpasang peralatan medis di tubuhnya. Juga selang pernafasan di hidungnya.
" ada apa lagi ini " pertanyaan itu hanya sampai di tenggorokannya, ia bahkan seakan tak mampu untuk sekedar mengeluarkan suara dari mulutnya, tenggorokannya terasa tercekat tiba tiba.
Tadi ketika ia pamit keluar sebentar bersama Bunga dan Maria sang suami baik baik saja. Semalam keduanya bahkan telah bersenda gurau.
Yandi samasekali tak menunjukkan gejala kesakitan apapun, bahkan besok rencananya dia sudah di perbolehkan pulang oleh tim dokter yang merawatnya. Tapi ini....Nayra seketika memucat.
" ada yang menyuntikkan sesuatu dalam infus Renald nona...." Edward menjelaskan, dia memang belum mengganti panggilannya pada Yandi.
" aku melihat seseorang menyuntikkan sesuatu dalam infus preadir nona...ketika aku menegurnya dia bilang hanya menambah vitamin. Ketika presdir bertanya mana dokternya dia bilang hanya vitamin biasa. Setelahnya ia segera keluar dan kami tak curiga. Tapi setelah beberapa menit presdir mengalami sesak bernafas, tubuhnya tiba tiba merasa lemas dan tak bertenaga " Alan segera menjelaskan semuanya yang ia tahu.
" tubuhnya belum benar benar sehat, karenanya ia mengalami efek yang separah ini " terang Edward membuat tubuh Nayra merosot kebawah, kakinya seakan tak mampu lagi menahan bobot tubuhnya.
Edward hendak mendekat namun segera di halangi oleh Maria. Wanita berdarah asing seakan tahu persis kepribadian dari istri bosnya itu.
" tidak lagi Yan...aku mohon, jangan seperti ini, aku tidak akan lagi sanggup menjalaninya " pelan bibir Nayra bergerak gerak.
Tim dokter yang berada disana sungguh merasa bodoh dan tak berguna, bagaimana mereka bisa kecolongan separah ini. Mereka sangat sedih melihat menantu pemilik rumah sakit ini nampak rapuh.
" Nayra..." panggil Bunga.
Nayra terdiam membisu, namun kemudian ia nampak berdiri dan melangkah kearah brangkar sang suami.
Di tatapnya wajah Yandi yang terpejam,
" apakah ada kemungkinan terburuknya ?! " tanya Nayra pelan. Perlahan ia mulai mampu menguasai kesadarannya. Ia harus mampu berpikir jernih dari pada meratapi.
" nona...kami masih mencari tahu obat apa yang di suntikkan pada presdir Yan...baru kami akan mampu mengetahui efek sampingnya dan cara menanganinya. Sepertinya ini bukan obat biasa yang biasa di gunakan dalam dunia medis " ketua tim dokter yang juga merupakan pemimpin rumah sakit maju dan menjelaskan pada Nayra.
Begitupun dengan Edward ia pun memberikan penjelasan yang sama pada Nayra.
Sejenak Nayra melihat pergerakan pada kelopak mata Yandi.
" Yan....." panggil Nayra membuat seisi ruangan menoleh kearah tatapan Nayra.
__ADS_1