Cinta Gadis Dingin

Cinta Gadis Dingin
kesepakatan jahat


__ADS_3

Di sebuah apartemen mewah nampak seorang wanita cantik dengan rambutnya yang panjang tergerai, tubuhnya yang tinggi semampai ia dudukkan di sofa yang terlihat mahal dan mewah dengan mata mengarah pada pria paruh baya yang masih tampak tegap dan tampan di usianya yang tak lagi muda,


Pria itu berdiri dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya di pinggir jendela kaca yang luas dan menyajikan pemandangan cantik khas malam hari dari kota yang tak pernah mati.


" bagaimana keadaanya..." tanyanya kemudian tanpa melihat kearah lawan bicaranya yang tengah duduk di sofa.


" dia sudah jauh lebih baik..dia tak lagi di kursi roda paman. Dia akan segera siap, bahkan kini ia tak lagi ingat sedikitpun tentang siapa dirinya.." jawab wanita cantik itu seolah paham dan mengerti siapa yang di maksud pria paruh baya itu. Senyum cerah tersungging dibibir indahnya.


" hmmm baguslah, liam tak lagi mudah kita manfaatkan...itu artinya begitupun dengan keluarganya ... dia akan menjadi senjata kita di kemudian hari.." pria paruh baya itu sedikit menjeda kata katanya


" ruang gerak Agustin tak lagi bebas seperti dulu, Kenan selalu mengawasinya...alan apalagi....gadis itu benar benar tidak bisa di anggap enteng " sambungnya kemudian.


"manfaatkan ini semaksimal mungkin, anggap dewi fortuna sedang berada di pihakmu...kapan kau akan kembali..?! " tanya pria itu lagi.


" paman kau sudah sejauh ini..kau bahkan menyia nyiakan masa mudamu dengan tidak menikah hanya untuk membalaskan dendam. Katakan padaku apa yang sudah keluarga itu lakukan hingga kau seperti ini...?! " wanita cantik itu balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan pria paruh baya itu.


" tutup mulutmu, urus urusanmu sendiri. Yang penting kesepakatan kita terpenuhi, kau mendapatkan yang kau mau, dan aku mendapatkan yang aku mau..." hardik pria paruh baya itu dengan dingin membuat wanita cantik itu mencebikkan bibirnya sembari mengedikkan bahunya.


" kapan kau pulang...apakah masih lama?! " pria itu kembali mengulang pertanyaannya yang tidak mendapatkan jawaban tadi.


" secepatnya paman...aku tidak bisa lama, aku takut dia akan curiga bila aku lama lama pergi, pesawatku sedang dipersiapkan, mungkin malam ini aku akan kembali " jawab wanita itu.


" bagaimana kabar orang tuamu ? Aku sudah lama tidak bertemu dengan ayahmu.." tanya pria itu dengan nada sedikit hangat.


" baik paman, hanya saja mereka menuntut aku segera mengembalikan kondisi perusahaan seperti semula sebelum wanita sialan itu memporak porakdakan saham perusahaanku..." jawabnya dengan mata berkilat menahan amarah. Ada dendam yang membara terpancar di sana.


Masih dia ingat dengan jelas bagaimana ia di buat kelabakan karena harga sahamnya di buat hancur oleh Nayra hanya dengan meretas balik data perusahaannya beberapa bulan setelah dirinya mengklaim sebagai pengganti Yandi. Bahkan isu yang ia sebarkan kalau Nayra ada dibalik tragedi yang menimpa sang pewaris Ar.co dengan mudahnya menguap begitu saja.


" dengan penampilan barumu ini...? " kembali pria itu bertanya dengan menunjuk penampilan wanita itu dengan dagunya yang ia angkat dan itu sukses membuyarkan lamunannya


" kecelakaan merenggut semua dariku..bahkan wajahku " jawab wanita itu


" lalu pria itu..?! " kembali pria paruh baya itu melemparkan pertanyaan.


" mereka hanya kebetulan memiliki wajah yang sama...tapi mereka orang yang berbeda..." jawab wanita itu dengan tenang

__ADS_1


" itu yang kau sampaikan...?! Tak kusangka kau sangat licik ha ha ha..." tawa pria itu meledak seketika


" membuat kesepakatan denganmu...mengajarkanku banyak hal..." jawab wanita itu kemudian sembari melirik pria paruh baya itu membuat pria itu mencibir kearahnya.


" tak pernah terbersit sedikitpun olehku...bahwa gadis itu mampu mematahkan semua rencanaku.." pria itu berucap sembari menatap jauh keluar jendela


" wajahnya tampak tidak asing bagiku, dia mengingatkanku akan seseorang...tapi siapa, aku lupa " pria itu mengernyitkan kening mencoba mengingat sesuatu.


" wanita itu...sejak awal aku sudah sangat membencinya, wajahnya dan semua yang ada pada dirinya membuatku muak, apalagi sikap tak tahu malunya itu..." wanita cantik itu nampak mengepalkan tangannya erat dengan giginya gemeretak menahan amarah. Ingatannya kembali melayang pada kejadian yang membuatnya jengkel setengah mati.


Flass on


Seorang pria dengan ketampanan paripurna khas orang pribumi, tubuh yang menjulang tinggi dengan badan yang tegap, alis tebal dan hitam, rahang yang menampakkag garis garis ketegasan, hidung mancung sungguh menyihir siapa saja wanita yang memuja kesempurnaa seorang pria.


ia berdiri di balkon kamarnya dengan kedua tangannya menyilang pada pagar pembatas balkon. Matanya tajam menatap lampu lampu yang bagai bintang gemerlap di kejauhan.


Ada yang mengganggu pikirannya, seorang wanita berhijab selalu mengusik tidurnya.


" cklek..." suara pintu yang di buka dari luar tak mampu mengusik kegundahan hatinya.


" ada apa..kepalamu sakit lagi ?! " tanya wanita itu tampak khawatir, beberapa hari ini pria yang ia panggil Renald itu memang beberapa kali mengeluhkan sakit kepala ketika bayangan bayangan yang tak ia mengerti menghantui kepalanya.


" tidak ..." jawab pria itu yang dikenal dengan nama Renal. Renald Revaldy..itulah nama pria tampan itu, atau setidaknya begitu ia dikenal.


Wanita itu berdiri dan mendekat kemudian memeluk Renald dari belakang.


" katania...jangan seperti ini, kapan kau datang. Aku tak melihat mobilmu..." jawab pria itu juga bertanya sambil mencoba melepas pelukan wanita itu.


" kenapa...kau tak ingin aku peluk ?! " wanita itu mulai merajuk, ia benar benar jengah dengan sikap pria ini yang seakan menjaga jarak dengannya itu.


" aku ini tunanganmu renald, aku calon istrimu..."


" tidak bukan seperti itu..hanya saja, aku ini laki laki normal katania.." elak Renald


" aku bersedia memberikan semua untukmu.." jawab Katania

__ADS_1


" tidak sebelum kita menikah.." jawab Renald tegas


" tak ada larangan untuk hal seperti itu disini sayang...semua bebas, kita yang menjalani..."


" kita bukan bagian dari negara ini Katania...jangan lupakan budaya kita " Renald berhasil melepas pelukan Katania kemudian mendudukkan


wanita itu di tempat duduknya semula. Ia sendiri memilih ikut duduk di hadapannya.


" ada yang ingin aku tanyakan, jawab dengan jujur..." kata Renald


" hmm apa ?! "


" apa sebelumnya kau pernah berhijab...?! " tanya Renald dengan wajah tegang dan serius.


Katania sungguh di buat bingung dengan pertanyaa Renald itu.


Otaknya melayang pada satu nama yang membuat darahnya tiba tiba mendidih


" Nayra...aku benar benar akan membuat perhitungan denganmu " bisiknya dalam hati menahan geram, kedua tangannya mengepal erat hingga buku buku jarinya terlihat sangat jelas.


flass on


Katania menahan amarah yang membara di hatinya, " bahkan dalam ketidak sadarannya, alam bawah sadarnya masih mengenang wanita sialan itu " umpatnya dalam hati.


" dia bukan wanita yang bisa di remehkan, entah apa yang telah ia pelajari..hingga ia menjadi semengerikan itu...ck.." pria paruh baya itu berdecak kesal


" sabarlah paman, suatu hari nanti kita pasti akan berhasil menghancurkannya..." ucap katania kemudian menenangkan hatinya sendiri yang sedang gusar


" hmm..aku tahu, kau juga semoga setelah semua yang kau lakukan untuknya, kau bisa memilikinya seutuhnya..." ucap pria itu.


" terimakasih paman hendra..aku pamit.." wanita cantik itu segera berlalu setelah sebelumnya melihat jam di pergelangan tangannya.


Sepeninggal Katania, Hendra kembali berdiri di sisi jendela kaca menatap hamparn lampu yang berkerlap kerlip


" bersabarlah kakak...aku sungguh akan menghancurkan keluarga itu sampai tak bersisa, akan aku buat mereka menangis darah, akan aku buat wanita itu menyesali takdirnya karena lebih memilih pria sialan itu..." suara Hendra terdengar bergetar karena menahan amarah.

__ADS_1


" nayra....pertama tama kau yang akan aku singkirkan lebih dulu, kau sungguh telah menjadi batu sandungan dalam langkah ku..."


__ADS_2