Cinta Gadis Dingin

Cinta Gadis Dingin
penuh kemarahan


__ADS_3

Katania membanting apapun yang ada di kamarnya, dua orang didepan kamarnya nampak berdiri dengan wajah serba salah dan penuh kecemasan.


"akhhhhhh......." terdengar ia kembali berteriak


" Nayra....wanita murahan, aku bersumpah aku akan membunuhmu.." Katania kembali membanting barang barangnya yang masih tersisa. Ia jatuh terduduk di lantai bersandar pembaringannya, ia mendekap kedua lututnya menangis pilu.


" aku sudah sejauh ini....aku bahkan sudah mengorbankan hidupku untukmu, aku tidak akan menyerah..kau hanya milikku yandi, hanya milikku " bisiknya di sela sela ratapannya.


Katania benar benar berantakan, ia tak dapat mengendalikan dirinya ketika ia menyadari Renald meninggalkannya di acara amal tadi siang karena Nayra.


" nona....tuan william sudah datang..." seseorang di luar dari balik pintu mengabarkan sesuatu padanya.


Katania berdiri dari duduknya di lantai, ia berjalan menuju meja rias, membenahi penampilannya dan sedikit memoles wajahnya.


" cklek..." ia membuka pintu dengan penampilan yang nyaris sempurna, Katania memang tergolong wanita yang sangat cantik, kulitnya putih persih dengan postur tubuh yang lumayan tinggi bagi ukuran wanita asia. Ia memang berdarah campuran, ayahnya seorang berkebangsaan Kanada dan ibunya seorang wanita keturunan indinesia dan Amerika. namun obsesi akan cintanya membuatnya menjadi sosok wanita yang mengerikan. Menghalalkan segala cara demi mencapai keinginannya.


" bersihkan " perintahnya pelan dan diangguki oleh mereka yang ada di sana, kemudian ia menuruni tangga dan mendekat kearah pria yang nampak tengah duduk dengan pongahnya di sofa tunggal dengan menyilangkan satu kakinya diatas kakinya yang lain.


Satu orang pria tampan berbadan tegap dan juga berdarah asing nampak berdiri di sampingnya menatapnya tak berkedip sejak ia mulai terlihat menuruni anak tangga. Jacob sang asisten tampan William Edgar.


" kau nampak tidak baik baik saja nona...maritha, upssss....nona katania yelensky " sapa William meralat sendiri kata katanya sembari menutup mulutnya dengan ekspresi seperti menahan tawa, dan cukup menerbitka kejengkelan di hati Katania.


Katania memutar bola matanya malas.


" apa kau setuju dengan kerjasama yang aku sampaikan padamu...?! " Katania langsung pada topiknya.


" kau sangat to the point nona " jawab William tanpa mengubah posisi duduknya sama sekali


" tapi tak apa...aku suka " lanjutnya sambil tersenyum miring membuat Katania jengah melihatnya.

__ADS_1


" apa kau tidak salah mengajakku membuat kesepakatan bersama, selama ini kau bahkan enggan mengunjungiku bahkan mengakui ku sebagai saudara sepupumu ?! " tanya William dengan memicingkan matanya kearah Katania yang masih berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Keduanya memang terhitung masih saudara, dari pihak ibu bagi Katania dan pihak ayah bagi William.


Ayah William adalah saudara sepupu ibu Katania.


Pada awalnya ia datang ke Indonesia hendak membantu sang adik mendapatkan pria yang ia inginkan, namun justru dirinya kini yang tergila gila dengan targetnya.


" kenapa...?! " tanya Katania pada William


" Kita jelas memiliki kepentingan yang berseberangan, aku menginginkan nyawa laki laki itu, tapi kau menginginkan nyawa dari wanita yang aku cintai " terang Willian dengan masih tetap setia pada posisinya semula. Katania terlihat tersenyum miring kearahnya.


" jangam melakukan apapun pada Nayra, dia bagianku " hardik William dengan wajah sulit di tebak.


" kau yang jangan melakukan apapun tanpa sepengetahuanku " ucap Katania ketus dan di sambut dengan menyeringai oleh seorang William Edgar.


Katania tahu, saudaranya itu beberapa kali menggagalkan rencananya menghancurkan wanita yang dia claim sebagai musuhnya itu sejak dulu, namun kekuasaan William yang jauh di atasnya membuat dirinya tak mampu berbuat apapun.


" hentikan sebelum semuanya terlambat, pria tua itu hanya memanfaatkan perasaanmu " kata William dengan berhenti sejenak dari langkahnya di samping Katania dan setelahnya ia kembali melanjutkan langkahnya berlalu dari apartemen itu diikuti dengan Jacob di belakangnya, pria itu nampak menghela nafas berat.


Sudah lama asistan pribadi William itu menaruh hati pada wanita cantik itu, bahkan sejak wanita itu belum merubah hampir seratus persen wajahnya karena cinta butanya dan obsesinya terhadap Yan Aditya Rachman.


Katania terdiam membisu dengan tangannya terkepal erat di samping kanan dan kiri tubuhnya.


" ikuti kemanapun dia pergi, tetap bersamanya " ucap William pada Jacob ketika keduanya hendak memasuki kendaraannya.


" baik tuan.." jawab Jacob paham dengan maksud William, ia nampak mengangguk dan sedikit melangkah kebelakang.


Sepeninggal William dari tempat itu, Jacob segera melangkah masuk kembali kedalam menuju apartement Katania.

__ADS_1


" minumlah..." Jacob tiba tiba menyodorkan segelas air putih pada Katania yang sendirian di bar mininya dan nampak terkejut dengan kehadiran pria itu.


" ckk...kau pikir aku anak kecil ? "decak Katania jengkel karena Jacob yang tiba tiba datang mengambil gelas berisi minuman beralkohol di tangannya dengan segelas air putih.


Pria tampan berdarah asing itu tak menghiraukan ocehan yang mampir di telinganya itu, ia nampak membuang minuman beralkohol itu.


" lancang kau..." Katania hendak menampar Jacob, namun gagal karena ia yang merasa dirinya tak lagi bertenaga, tubuhnya terhuyung menubruk Jacob.


Ia jatuh kepelukan Jacob dan menangis di dada pria itu, Jacob terdiam mematung dengan spontanitas wanita itu. Jantungnya seakan berdetak sangat kencang, darahnya berhenti mengalir dan otaknya tiba tiba blank begitu saja.


🌻🌻🌻


Nayra yang lelah dengan posisi tidurnya sejak tadi, sedikit merasa berat dan panas di area perutnya.


Ia hendak merubah posisinya ketika ia baru sadar, seorang pria tertidur meringkuk di pangkuannya.


" renald " desisnya pelan, dan betapa terkejutnya ia ketika ia mengulurkan tangannya kedahi pria itu hendak mengusap keringatnya, ia justru merasakan panas yang teramat panas di tubuh pria itu.


Apalagi ketika meski ia goyang, Renald tak juga membuka matanya ia nampak sangat khawatir Segera ia berteriak memanggil Maria dan memintanya membawa dokter Edward.


Tak berapa lama Edward masuk dan memeriksa Renald yang masih meringkuk di pangkuan Nayra.


" bagaimana dok ?! " Nayra bertanya tak sabar.


" nona dia tidak apa apa, ini hanya efek dari obat yang suami anda minum tadi" jelas dokter Edward membuat Nayra menarik nafas lega.


" ini kamajuan ...biasanya dia akan sadar setelah satu hari satu malam setelah pingsannya, anda sepertinya benar benar obat mujarab baginya nona" sambung Edward lagi dan dijawab Nayra dengan senyuman tipis.


" mungkinkah itu juga karena efek obat yang di minumnya selama ini dokter edward ? Hingga ia bisa pingsan begitu lama ? " Nayra bertanya sembari mengelus pelan lengan Renald

__ADS_1


Dokter Edward terdengar menghela nafas


" entahlah nona, kita membutuhkan pengujian terlebih dahulu untuk menyimpulkan hal seperti itu...tapi yang saya tahu, efek meminum obat yang saya bicarakan tadi memang bisa mengurangi hampir delapan puluh lima rasa sakit paskah operasi besar, namun resikonya pun akan memperparah ingatannya menghilang " dokter Edward menjelaskan.


__ADS_2