Cinta Gadis Dingin

Cinta Gadis Dingin
mencoba berdamai dengan keadaan


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu sejak perawatan Yandi di rumah sakit, Yandi belum diperbolehkan pulang karena masih sering merasakan sakit dikepalanya meski rasa sakit itu tak terekstrim dulu. Nayra sangat khawatir, karenanya ia meminta dokter Edward tetap turut memantau perkembangan sang suami. Sedang untuk urusan kantor ia menghendelnya sendiri, ia tak merasa kesusahan sama sekali meski tak ada lagi campur tangan sang mertua membantunya karena orang orang Yandi yang turut membantunya.


Juga pertemuan rahasia antara tuan Wirhahadi Aditya Rachman dan tuan Yelensky.


Nayra baru saja turun dari mobil bersama dengan Maria juga Bunga. Ketiga wanita itu seakan tak pernah berpisah.


Hari ini Nayra sengaja memutuskan hendak menemui Maritha terlebih dulu meski Yandi menolak ajakannya untuk menengok wanita itu, bahkan sebenarnya sang suami sudah melarangnya. Bagaimanapun Nayra merasa harus berterimakasih pada wanita itu.


Meski entah bagaimana maksud dan tujuan wanita itu, tapi yang jelas dialah yang telah merawat sang suami hampir tiga tahun lebih.


" nona Nayra..." sapaan Jacob kepada Nayra sembari berdiri dari duduknya ketika melihat Nayra masuk bersama Bunga dan juga Maria setelah mengetuk pintu terlebih dulu.


" tuan Jacob...bagaimana kabar istri anda ?! " tanya Nayra, ya Nayra telah tahu kabar pernikahan antara Maritha dan Jacob dari mulut tuan Yelensky sendiri setelah permohonan maaf mereka atas keterlibatan sang putri akan perpisahan suami istri itu juga kepada seluruh keluarnya.


Maritha yang duduk lemas di atas brangkar rumah sakit membuang pandangannya ketempat lain.


Ia tak bisa berbuat apa apa untuk menolak pernikahannya dengan Jacob karena memang dirinya yang masih tak mampu untuk banyak bergerak.


Bunga yang masih berdiri diambang pintu menatap tak berkedip sosok wanita yang pernah menjadi teman dekatnya dulu dan masih duduk tak berdaya di atas pembaringannya itu.


Wajah wanita itu memang tak dapat ia kenali lagi, sungguh telah berubah seratus persen. Hanya mata dan tatapannya yang masih sama jika mau jeli memperhatikannya.


Bunga menghela nafas, berteman dengan wanita itu selama bertahun tahun dulu nyatanya tak cukup membuatnya mengetahui siapa sebenarnya wanita itu. Bahkan nama lengkapnya saja ia tak tahu.


Ia tak menyangka jika nama Katania yang ia kenal selama ini adalah nama panjang gadis itu sendiri, ya.. gadis itu mempunyai nama panjang Maritha Katania Maurelia Yelensky. sedang yang ia tahu temannya itu dulu dikenal dengan Maritha saja.


Jacob membiarkan Nayra mendekat kearah tempat tidur Maritha. Maria yang merasa cemas segera melangkah mendekat namun di hentikan oleh Nayra dengan mengangkat satu telapak tangannya keatas.


" apa kabarmu... " sapa Nayra sambil mendudukkan dirinya di kursi tunggal yang sudah tersedia di sana.


Maritha tak menjawab, ia tetap menatap kearah lain.

__ADS_1


" maafkan aku.." ucap Nayra lagi membuat Maritha sedikit mengerutkan keningnya mencoba mencerna ucapan wanita itu meski ia tetap tak ingin melihatnya.


" aku sungguh minta jika kehadiranku selama ini membuatmu semakin jatuh sedalam ini " ucap Nayra lagi dan suksea membuat hati Maritha tercubit. Terbuat dari apa hati wanita ini, ia yang selalu hendak menghancurkannya dengan segala cara justru kini wanita itu tengah meminta maaf padanya.


" jangan pura pura di hadapanku " jawab Maritha dengan ketus dan tetap tak bersahabat juga masih dengan tetap tak mau menatap Nayra.


" terserah padamu, aku sungguh minta maaf dengan tulus. Cobalah kau mengerti....tidak semua yang kita inginkan itu harus kita dapatkan. Sungguh Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita.


Kau mungkin sangat mencintai Yandi dan merasa dia adalah yang terbaik untukmu tapi Tuhan jauh lebih tahu siapa yang terbaik untukmu " Nayra mencoba berkata dengan lembut pada Maritha.


Ia sadar dirinya tidak mungkin memusuhi apa yang Maritha rasakan kepada suaminya, dirinya juga tidak mungkin menyalahkan gadis itu atas apa yang ia rasakam, mungkin cinta Maritha terhadap suaminya telah membutakan mata hatinya.


Bersyukurlah dirinya yang masih mampu menggunakan akal sehatnya meski ia diam diam menaruh hati pada sang suami dan sedang dalam fase mencintai dulu.


" apapun maksud dan tujuanmu kepada suamiku..aku sungguh berterimakasih, karenamulah suamiku bisa kembali kepadaku " kembali Nayra bersuara pelan. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Maritha, lidahnya tiba tiba terasa kelu.


Ingatannya menerawang pada semua yang telah ia lakukan pada dirinya sendiri demi mendapatkan cinta Yandi. Namun tak dapat ia pungkiri, sekeras dan sekuat apapun ia berusaha memegangnya, pria itu tetap terlepas darinya.


" haruskah aku menyerah dan memutuskan berdamai dengan keadaan ?! Apakah aku harus menyerah dan melepaskannya " bisiknya dalam hati.


" aku pergi....sekali lagi maafkan aku, dan .....terimakasih " pamit Nayra kemudian ia berdiri dan melangkah hendak keluar ruangan.


Namun, baru satu langkah ia melangkah Maritha memanggilnya.


" Nayra...." panggil Maritha tiba tiba menghentikan langkah Nayra dan membuat wanitu berhijab itu menoleh kebelakang kearah pemilik suara.


" jaga dirimu baik baik....sesuatu yang buruk bisa saja menimpamu kembali sebelum kalian bisa menghentikan mereka " ucap Maritha dengan tatapan sendunya kearah Nayra.


" aku tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi, tapi yang jelas kehancuran keluarga Yandi adalah tujuan mereka dan kau adalah alat penghancur itu " sekali lagi Maritha bersuara.


" kau adalah kekuatan sekaligus kelemahan Yandi, Yandi adalah kekuatan dan kelemahan om Aditya. Sampai disini apa kau paham ?! " Maritha mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia maksud di mengerti oleh Nayra.

__ADS_1


Sekali lagi Nayra tersenyum dan mengangguk,


" terimakasih ma....bagaimana seharusnya aku memanggilmu ? Maritha atau Katania ? " Nayra mencoba menghangatkan suasana yang tiba tiba semakin mencekam karena kata kata Maritha.


" terserah kau saja...toh semua juga namaku " kali ini Maritha agak enteng menjawabnya.


Nayra kembali mendekat kearah Maritha.


" boleh aku memelukmu ?! " pinta Nayra, Maritha menatapnya tak berkedip. Namun sejurus kemudian tanpa menunggu izin dari Maritha, Nayra telah memeluknya erat.


" terimakasih....terimakasih " bisiknya pada Maritha, sedangkan Maritha hanya terdiam membeku. Tak dapat ia cerna dengan baik perilaku wanita berhijab itu.


Dirinya sungguh dibuat kagum akan kepribadian wanita yang kini memeluknya itu. Setelahnya Nayra melepaskan pelukannya dan segera berlalu meninggalkan tempat itu di ikuti oleh Maria karena Bunga yang masih berdiri di tempatnya semula dan tentu itu sepengetahuan Nayra.


Bunga kini melangkah mendekat kearah Maritha, kedua wanita cantik itu saling tatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Tiba tiba Bunga memeluk Maritha dengan erat.


" aku merindukanmu " bisik Bunga, bagaimanapun mereka pernah pada situasi sahabat yang saling mengisi, terlepas itu tulus atau tidak.


Kali ini Maritha membalas pelukan istri dari Kris itu.


" kau benar Nga.....aku akan berada di posisimu, dalam posisi di tinggalkan " jawab Maritha diam diam terisak, tak dapat ia pungkiri dekapan Bunga menghadirkan ketenangan dihatinya.


" tidak kau salah..kau tidak dalam posisi di tinggalkan, tapi kau dalam posisi sedang diperhatikan " hibur Bunga yang telah melepaskan pelukannya dan kini melirik kearah Jacob yang sedari tadi setia berdiri memperhatikannya.


Maritha melirik kerahnya sejenak kemudian mencebik.


" aku pergi dulu...benar kata Nayra, cobalah berdamai dengan keadaan agar kau merasa ringan " pesan Bunga sembari tersenyum hangat kemudian pamit berlalu meninggalkan ruangan itu.


Di luar ruangan ternyata Nayra dan Maria masih menunggunya kemudian keduanya tersenyum dan saling mengangguk. Tak berapa lama ketiga wanita cantik berbeda penampilan itu benar benar meninggalkan tempat itu.


Sungguh berdamai dengan keadaan dan memaafkan membuat hati terasa ringan.

__ADS_1


__ADS_2