
Setelah mereka selesai sarapan, Selomita langsung bergegas menuju puskesmas. Sejenak dia melupakan masalah pribadinya, karena dia harus profesional.
Kali ini Selomita harus bertugas dengan Johan. Mereka langsung menuju rumah penduduk, yang berada di daerah pesisir pantai.
" Sel, kenapa dengan matamu?" tanya Johan yang melihat kemerahan di kedua mata Selomita.
" Oh, aku tidak tidur semalam. Karena harus menyusun laporan." elak Selomita.
" Kok bisa bengkak seperti habis menangis?" curiga Johan.
" Ah iya, aku hanya merindukan keluarga ku." jawab Selomita memberikan alasan.
" Oh, tapi kamu sekarang baik-baik saja?" tanya Johan.
" Iya, aku baik-baik saja." jawabnya.
Johan terus memperhatikan Selomita, sepertinya dia merasa kalau Selomita sedang ada masalah.
Setiap kali Selomita akan memeriksa pasien, selalu di dahului oleh Johan. Dia tidak ingin pemeriksaan nya terganggu, karena Selomita sedang terlihat tidak sehat.
" Han, kenapa kau selalu mengambil pekerjaan ku?" hardik Selomita yang sudah keluar dari rumah warga.
" Karena aku tidak ingin kau salah memberikan diagnosa pada pasien. Aku lihat kau sedang tidak baik-baik saja." jawab Johan penuh penekanan.
" Tahu apa kau soal kondisi ku?" marah Selomita yang melihat mata Johan dengan tatapan tajam.
" Aku bisa melihat, kalau aku sedang tidak baik-baik saja saat ini." jawaban Johan yang langsung meninggalkan Selomita.
" Johan, biarkan aku bekerja." teriak Selomita yang di acuhkan oleh Johan.
Selomita berlari menghampiri Johan, namun langkah nya terlalu lambat.
__ADS_1
" Han, Johan tunggu aku." langkah cepat Selomita membuatnya tersandung batu karang, " Auwww...." teriak Selomita yang terjatuh dan lutut mengenai batu karang.
Johan langsung menoleh ke arah Selomita, " Sel, kau tidak apa-apa?" kata Johan yang langsung menolong Selomita berdiri.
" Auuww.. lututku..!!" lirih Selomita melihat lututnya mengeluarkan darah segar.
Dengan cepat Johan mengeluarkan antiseptik dan plester dari tas kerjanya. Dengan telaten Johan membersihkan luka di lutut Selomita. Selomita hanya bisa meringis menahan rasa sakit pada lututnya.
" Maaf kan aku.." ujar Johan yang langsung membalut luka Selomita dengan plester.
" Aku bisa melakukan tugasku, jadi aku harap jangan halangi aku. Aku bisa profesional dengan pekerjaan ku." tegas Selomita.
" Baiklah, jika kau butuh bantuan ku. Aku akan selalu ada untuk mu." ucap Johan yang langsung membantu Selomita berdiri. Mereka pun mencari lagi rumah penduduk.
Waktu menunjukkan pukul empat sore, kelima mahasiswa calon dokter pun berkumpul.
Setelah menaruh perlengkapan medis di puskesmas, mereka langsung di jemput oleh Iwan. Selomita hanya melamun melihat pemandangan di sekitar pantai. Pikiran nya kini hanya tertuju pada Dido. Karena sedari tadi dia harus melaksanakan kewajiban sebagai dokter.
" Tidak, " jawabnya malas.
Johan melihat raut wajah Selomita, dari kaca spion depan tampak sangat lesu. Seperti nya memang sedang ada masalah besar yang sedang dihadapi oleh Selomita.
Mobil mereka sampai di penginapan, Selomita turun terlebih dahulu. Tanpa banyak bicara, dia langsung menuju kamarnya.
Selesai mandi dan solat, Selomita langsung menuju tempat tidur. Mencoba merebahkan tubuhnya yang lelah, namun pikiran nya tetap saja tak tenang.
" Kring, kring...."
" Assalamu'alaikum, Sel."
" Wa'alaikum salam, Kak ada apa menelpon ku?"
__ADS_1
" Kakak rindu, apa kau tidak?"
" Iya aku juga kangen."
" Sel, kakak ingin membicarakan sesuatu."
" Membicarakan soal apa kak?"
" Aku harap kau mendengarkan kakak, dan jangan memutuskan pembicaraan kakak."
" Iya, kak. Mau ngomong soal apa?"
" Soal Dido, "
" Aku rasa gak usah kak."
" Baiklah, mungkin sesudah pulang dari magangmu akan kakak perjelas. Kakak mohon percara sama Dido. Dia tidak melakukan apa yang kau lihat, dia di jebak."
" Baik, kak. Aku akan pikirkan, aku fokus dulu pada kerjaanku."
" Iya, belajar yang rajin. Dan kakak hanya berharap, kau percaya pada Dido."
" Iya kak!"
Lalu Selomita langsung memutuskan sambungan telepon seluler nya.
-
-
Silakan like dan berikan komentar mu ya guys, agar author bisa menghadirkan cerita terbaik.
__ADS_1