
"Sayang, masak apa?" tanya Dido dari arah belakang Selomita. Tangannya melingkar di pinggang Selomita, sambil meniup telinga sang istri.
"Ish, geli tahu." Selomita menjauhkan kepalanya dari wajah Dido.
"Biar kamu rindu terus sama pelukanku," ucap Dido yang langsung membalikkan tubuh Selomita.
"Mas, ada kak Fania dan Yasmin." Selomita langsung mendorong tubuh Dido.
"Oh oke, oke! Aku akan secepatnya membangun rumah di desa. Biar keromantisan kita, gak terganggu sama siapapun!" tegas Dido yang langsung memundurkan langkahnya, lalu duduk di kursi makan.
"Eh, Kakak. Sejak kapan kalian di situ?" tanya Selomita yang melihat kedua kakaknya berdiri di depan pintu dapur.
"Maaf, ya!" Selomita langsung membalikkan tubuhnya kembali ke arah tungku.
Fania dan Yasmin hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Dido yang bucin terhadap Selomita.
"Sel, kak Yasmin akan rapat keluar kota bersama kakak Fania. Kamu sama Dido gala akan ada yang ganggu," ucap Yasmin dengan nada menyindir sambil melirik ke arah Dido.
"Wah, enak dong! Eh tapi, aku harus kembali ke desa sepulang mengantar istriku kuliah," ujar Dido.
"Iya, semua terserah kamu. Apa kamu tega, biarin Selomita sendiri di rumah ini?" tanya Yasmin sambil menakuti Dido.
Dido pun berpikir, sambil menatap langit-langit rumahnya.
"Baiklah, aku akan undur kepulangan ku ke desa." Dido pun mengurungkan niatnya untuk pulang.
__ADS_1
"Nah, gitu dong! Masa iya, kamu tega istrimu di gondol gundurewo kalo malam!" ucap Yasmin kembali menakuti Dido.
"Ih, Kak Yasmin mah! Jangan terlalu serem nakutinnya," ujar Selomita seraya mengusap-usap lengannya.
"He, he, he..." Yasmin terkekeh
Kemudian mereka pun melanjutkan sarapan nya. Selomita memasak ayam goreng dan sayur kangkung beserta sambal terasi.
Sambal terasi buatan Selomita sangat sedap. Karena saat hidupnya susah, setiap hari dia selalu membuat sambal terasi untuk menambah nafsu makan.
"Pagi ini kita makan besar, bukan sarapan," ucap Fania sambil melahap sayur kangkung dan sambal terasi.
"Memang biasanya?" tanya Selomita seraya menaikkan satu alisnya.
"Biasanya cuma makan roti sama minum susu," jawab Fania terkekeh.
"Iya, karena aku gak bisa masak! Haaaa..." Yasmin pura-pura menangis di depan Fania.
"Kak Yasmin, mana bisa masak!" ledek Dido.
Usai menyelesaikan sarapannya, mereka pun menuju ke tempat kerjanya masing-masing.
Dido pun mengantar Selomita menuju kampusnya. Sepanjang perjalanan, Dido terus memegangi tangan Selomita. Seraya berpikir jika dirinya tidak jadi kembali ke desa.
"Sel, sebaiknya aku tetap di sini sampai kedua kakak kita kembali ke rumah."
__ADS_1
"Iya, aku rasa begitu. Daripada aku di deketin sama gundurewo!" canda Selomita seraya menakuti Dido.
"Aku bukannya kamu di deketin sama gundurewo!" ucapan Dido terhenti.
"Lantas?" tanya Selomita.
"Aku takut kamu di datangi sama pemuda dari NTT itu," jawab Dido.
Selomita langsung terdiam, dia takut jika Hari muncul lagi di kampusnya.
"Aku akan menghajarnya, jika dia masih mendekatimu!" ucap Dido mengancam.
"Sudahlah, kamu jangan buat keributan di kampusku,"
"Iya, aku 'kan hanya mengancam di sini! He, he, he..." ucap Dido sambil terkekeh.
Selomita hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, mendengar celotehan sang suami.
"Sudah sampai!" ucap Dido yang sudah memarkirkan mobilnya di area parkiran.
"Aku belajar dulu ya, Sayang!" Selomita langsung mencium pipi Dido.
"Aku akan menunggumu di sini, jika ada lelaki itu segera hubungi aku," pesan Dido.
"Iya," jawab Selomita.
__ADS_1
Kemudian Selomita pun keluar dari mobilnya, lalu berjalan menuju area kampus.