
Selomita berkelompok dengan Riski, sedangkan Johan dengan Riska dan Alena.
" Pak, bisa di tukar gak?" protes Riska kepada Iwan.
" Bapak sudah membagi sesuai keahlian kalian. Selomita dokter kandungan dan Riski dokter umum. Kamu dokter anak , Alena dokter kandungan dan Johan dokter gigi merangkap dokter umum. Apa ada yang salah?" tanya Iwan.
Riska berpikir sebaiknya Selomita bersama Riski. Toh dia sudah punya kekasih, kalau meminta Alena pasti akan menjadi saingan terberatnya untuk mendapatkan Riski.
" Baiklah Pak, kapan kita jalan?" tanya Riska.
" Seharusnya beberapa menit yang lalu, namun kamu sudah menghabiskan waktu karena perdebatan gak penting." ketus Iwan.
" Baiklah pak." kata Riska mengalah.
Mereka pun terbagi dua kelompok, dan jam lima mereka harus kembali berkumpul di puskesmas. Lalu kembali ke penginapan, dan melaporkan hasil kunjungan.
" Sel, kemarin ku lihat kau di jemput oleh seorang pria. Apakah dia pacarmu?" tanya Riski yang berjalan berdampingan dengan Selomita.
__ADS_1
" Iya, calon suamiku " jawab Selomita.
" Oh, " kata Riski yang patah hati.
Lalu mereka langsung memasuki rumah yang berukuran 5x 3 meter. Terlihat ada dua anak balita, dan satu orang wanita lanjut usia sedang tertidur.
" Permisi Nek, maaf tadi saya lihat pintu nya terbuka. Lalu saya mencoba masuk, memastikan apakah ada orang." kata Selomita sambil tersenyum.
" Kamu siapa?" tanya nenek dengan suara payau.
" Saya Selomita, ingin memeriksa keadaan nenek dan cucunya." kata Selomita yang sudah duduk di sebelah nenek.
" Dimana mamanya, Nek?" tanya Selomita.
" Ibunya bekerja di kota, sedangkan ayahnya sedang melaut. Dan sudah beberapa hari belum pulang." ujar Nenek.
" Oh biar saya periksa." kata Selomita yang menyentuh dada cucu dan mendengar denyut jantung melalui stetoskop, " Badannya oanas sekali, apakah sudah nenek beri obat?" tanya Selomita.
__ADS_1
" Nenek tidak punya uang untuk membeli obat. Makanya nenek ingin membawanya ke puskesmas, karena obatnya gratis. Tapi nenek tidak kuat jika harus menggendong keduanya." ucap Nenek.
" Baiklah nek, kami akan obati cucu nenek " kata Selomita yang langsung memeriksa kedua anak yang tergolek lemas.
Beberapa menit kemudian, Riski memilihkan obat untuk kedua bocah yang masih berusia sembilan dan enam tahun.
" Ini obatnya Nek, dan minum tepat waktu. Kalau sudah tidak panas tidak usah di minum lagi ya. Dan minum sesudah makan, dua kali sehari." kata Selomita yang menyerahkan obat penurun panas dan vitamin.
" Terima kasih ya Nak, kalian sudah menolong cucu nenek." kata Nenek yang mengantarkan Selomita dan Riski keluar rumah.
" Semoga cucu nenek cepat sembuh, kami akan keliling lagi." kata Riski yang langsung berjabat tangan dengan nenek.
" Kau sudah mencatat tadi?" tanya Riski.
" Sudah, nanti giliran tugas mu yang mencatat." kata Selomita yang langsung mengetuk pintu sebelah rumah nenek.
Banyak warga yang membutuhkan kehadiran dokter. Sudah beberapa rumah yang mereka datangi. Kebanyakan yang sakit adalah anak-anak dan lansia. Para pemuda dan orang dewasa yang masih gagah, kebanyakan bekerja di kota. Jadi tidak terlalu sulit untuk Selomita dan Alena mensosialisasikan program keluarga berencana. Namun satu hal yang menjadi pelajaran mereka adalah, anak yang mereka data adalah hasil pernikahan mereka di kota. Sehingga untuk mendata suami istri yang tinggal satu rumah sangat sulit. Jadi mereka tidak punya surat resmi seperti akta kelahiran ataupun kartu keluarga.
__ADS_1
-
Silakan like dan berikan komentar mu.