
" Sel, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Hari yang datang membawa ikan bakar.
" Enggak, aku gak lagi mikirin apa-apa." ucap Selomita seraya tersenyum ke arah Hari.
" Kok kamu gak gabung sama yang lain? Mereka lagi bakar ikan dan lobster, hasil tangkapan ku hari ini." kata Hari sambil menyodorkan sepiring ikan bakar.
" Aku sedang tidak nafsu makan, kau makan saja " kata Selomita yang menolak pemberian Hari.
" Sel, apa kau butuh teman?" tanya Hari.
" Tidak Har, aku hanya ingin sendiri." jawab Selomita yang langsung memalingkan wajahnya.
Lalu Hari pergi meninggalkan Selomita, dia mencari tahu tentang kemuraman Selomita pada kedua temannya.
" Len, ada apa dengan Selomita?" tanya Hari pada Alena yang sedang mengipasi ikan bakar.
" Tadi pagi saat menerima telepon dari pacarnya, dia langsung menangis histeris." ucap Alena, " Lalu kami tanya ada masalah apa, dia hanya diam saja. Tidak ingin bercerita." ungkapnya.
" Oh, " jawab Hari, yang ingin mencari tahu lebih tentang Selomita.
Hari langsung menuju tempat Selomita, dia akan mencoba menghibur nya.
" Sel, lihatlah tangkapan lobster yang sangat besar." kata Hari yang menunjukkan lobster berukuran jumbo.
__ADS_1
" Kalau di kota, pasti harganya sangat mahal. Kalau di sini, kau bisa memakannya gratis." tutur Hari.
Selomita masih terdiam tak bergeming, wajah nya masih muram tak ada tanda-tanda kehidupan.
" Bu dokter, kalau cemberut gitu siapa yang mau berobat?" ledek Hari yang mencolek lengan Selomita.
Selomita langsung menoleh ke arahnya, dan melihat wajah Hari yang belepotan dengan saus di bibirnya.
" Hmmm.." Selomita tersenyum, saat melihat wajah Hari.
" Nah gitu dong, kalau senyum kan Bu dokter jadi cantik." canda Hari.
" Kamu tuh kayak anak kecil, makan saos aja belepotan." kata Selomita yang mengelap sudut bibir Hari dengan tangan nya.
" Kalau kau ada masalah, dan gak ingin cerita. Aku akan setia membuatmu tertawa." goda Hari yang mencolek saos di piring lobster dan menempelkan di pipi Selomita.
" Ih, kamu. Nanti pipiku pedas tau. " ucap Selomita yang langsung mengejar Hari.
Lalu Hari berlindung di balik Riska, " Tolong aku Bu dokter, ada monster tuh." kata Hari.
" Ih kamu Har, nanti piringnya pecah dan lobster nya jadi gak kemakan." gerutu Riska yang langsung mengambil piring di tangan Hari.
" Sayang-sayang, kalau di kota bisa ratusan ribu harganya." kata Riska yang sudah duduk di latar sambil merangkul Selomita.
__ADS_1
" Hmm, enak ya. Siapa sih yang masak?" tanya Selomita.
" Riski yang masak, dia kan jago masak." ucap Johan sambil mengipas-ngipas cumi sotong.
" Ah serius?" tanya Riska.
" Serius, selain tampan dia juga jago masak lho..!!" puji Johan
" Wah cocok banget buat aku yang doyan ngemil." ucap Riska sambil mengedipkan kedua matanya ke arah Riski.
" Ah kamu Johan, kalau cuma ngipas-ngipas sama naroin saos semua juga bisa." celetuk Riski yang merasa tidak nyaman oleh pujian Johan.
Semua menikmati masakan Riski dan Johan, selesai makan mereka pun langsung membersihkan alat-alat dan piring yang kotor.
Penginapan kembali rapi dan bersih, dan para calon dokter sudah masuk ke dalam kamarnya.
Sepertinya Selomita harus percaya pada Dido, dan dia juga tahu kalau Niken memang suka pada nya semenjak Dido muncul di desa.
Selomita langsung memejamkan kedua matanya, berharap bisa melupakan masalah nya saat ini.
-
Silakan like dan berikan votemu.
__ADS_1