
Sesampainya di kampus, Selomita pun pamit pada suaminya.
"Aku kuliah dulu, ya!" Selomita mencium pipi kiri dan kanan Dido.
"Belajar yang rajin, biar cepet jadi dokter." Dido membalas kecupan Selomita.
Usai pamit pada sang suami, Selomita langsung keluar dari mobil.
Dido pun menjalankan mobilnya meninggal kan kampus Selomita.
Selomita pun berjalan menuju ke arah kelasnya. Namun saat di lorong menuju ke arah kelas, dia di panggil oleh Maryani.
Maryani adalah dosen pembimbing di kelas Selomita
"Iya, Bu. Ada apa?" Tanya Selomita yang telah menghentikan langkah kakinya.
"Ada laporan yang mengatasnamakanmu. Sebaiknya kamu segera ke kantor." Maryani berucap dengan nada tegas.
"Soal apa, Bu?" Tanya Selomita bingung. Karena selama ini, dia tidak pernah berurusan dengan pihak sekolah. Uang bayaran selalu tepat waktu dan Selomita juga merasa tak pernah berbuat ulah di sekolah.
"Sebaiknya, kamu segera ke kantor. Karena ada pejabat yang akan bertemu denganmu." Maryani berucap dengan nada terburu-buru, kemudian dia langsung meninggalkan Selomita.
"Ada apa ya?" Gumam Selomita seraya melangkahkan kakinya menuju ruang kantor.
Sesampainya di kantor, ruangan masih sepi. Hanya ada dekan yang sedang menunggu Selomita.
"Permisi, Pak! Saya Selomita, kata bu Maryani di panggil oleh pihak kampus. Memangnya ada apa ya, Pak?" Tanya Selomita yang sudah berdiri di hadapan pak Agus.
"Kamu masih ingat Richard Salomon?" Tanya pak Agus yang masih duduk di belakang meja.
__ADS_1
"Richard Salomon?" Selomita mengingat lagi nama yang sepertinya familiar.
" Dia pejabat yang terkenal santun di NTT, paling di segani karena kesederhanaannya. Tak pernah tercium kasus apapun semenjak dia menjabat di daerahnya. Tapi kenapa dia bisa menghubungiku di saat aku sedang sarapan! Apa yang membuatnya menyebut namamu di sambungan telepon seluler?" Tanya pak Agus yang menatap tajam ke arah Selomita.
Selomita baru ingat nama Richard Salomon. Dia adalah ayahnya Hari Salomon.
" Aku gak tahu, Pak!" Jawab Selomita seraya menggelengkan kepalanya.
Selomita sangat paham kenapa Richard Salomon memghubungi pak Agus. Tetapi dia harus pura-pura tidak tahu, dengan maksud dekan yang memanggilnya.
"Anaknya masuk penjara, dia sangat membutuhkan pertolonganmu." Pak Agus berucap tegas.
"Oh!" Jawab Selomita. "Aku tidak bisa membantu apa-apa. Maaf!" Lirih Selomita.
"Apa maksud kamu?" Tanya pak Agus yang tidak ingin terjadi sesuatu di dalam kampusnya. "Memangnya ada masalah apa antara kau dan Richard Salomon?" Tanya pak Agus penasaran.
"Kalau untuk membebaskan Hari, aku tidak bisa. Karena kemarin, dia mencoba melakukan penculikan padaku." Selomita berucap tegas. "Anda bisa lihat luka memar di kepalaku ini. Bekas pukulannya," ucap Sslomita.
"Kenapa kamu harus punya kasus dengan Richard?" Tanya pak Agus dengan suara lemah. "Aku tidak ingin nama kampus ini tercoreng, hanya karena masalah pribadi kalian."
"Baik, Pak!" Jawab Selomita yang langsung memutar badannya setelah pamit pada pak Agus.
Saat akan keluar dari pintu ruangan dekan, masuklah Richard Salomon bersama dua orang anak buahnya.
"Anda!" Selomita terkejut saat melihat Richard di hadapannya.
" Nak, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Richard yang akan memasuki ruangan dekan.
"Silakan!" Jawab Selomita.
__ADS_1
"Sebentar aku menemui sahabatku," ucap Richard yang langsung berjalan menuju bangku pak Agus.
Selomita pun menunggu di pintu luar.
Selang beberapa menit, Richard pun keluar dari ruangan dekan.
"Apa kamu ada kuliah saat ini?" Tanya Richard dengan nada suara yang ramah.
"Ada, tetapi saya harus menemui pak Agus hingga membuat mata kuliah saya terlewatkan." Selomita berucap dengan nada kecewa.
" Maafkan saya!" Ucapnya seraya menyatukan kedua tangannya. "Mari ikut saya," ajak Richard
"Maaf, sebaiknya kita berbicara di kantin saja." Selomita mengajukan permintaan.
Richard pun melihat kepada kedua pengawalnya.
"Tenang saja, kampus saya aman. Dan sepertinya banyak yang tidak mengenali Anda," ucap Selomita dengan bahasa yang sopan.
"Baiklah, dimana kantinnya?" Tanya Richard.
"Ikuti saya," ucap Selomita yang langsung berjalan ke arah depan.
Dari jauh terlihat Rizki dan Johan yang sedang memperhatikan Selomita.
"Jo, siapa yang berjalan di belakang Selomita?" Tanya Rizki seraya menyenggol lengan Johan.
"Sepertinya aku familiar dengan wajah bapak itu!" Ucap Johan seraya menajamkan arah pandangannya.
"Bukankah itu kepala desa tempat kita KKN?" Tanya Rizki yang masih mengingat wajah Richard.
__ADS_1
Silakan like dan komentar