CINTA TERHALANG RESTU

CINTA TERHALANG RESTU
Bab 130 (Extra part)


__ADS_3

Tanpa curiga Heri membawa Hari menuju rumah Dido. Karena Ujang memberitahu jika menemukan Selomita dan lelaki penculik, maka harus di bawa ke rumah Kristiana.


Heri mengambil ponselnya, ingin memberitahu Ujang jika dia sedang bersama target.


"Maaf, aku harus menghubungi bosku jika ada tamu yang akan menginap." Heri langsung mengambil ponsel nya.


Hari tak menaruh curiga sedikitpun dengan Heri.


"Silakan!" ucap Hari.


Hari pun menghubungi Ujang. "Bos, tamu mau datang. Bisa di beres kan vilanya?"


"Baik," Terdengar dari sambungan telepon.


Heri menyeringai seraya melirik ke arah Selomita.


"Ada apa dengan Selo? Kenapa dia tertidur sejak tadi?" Heri terus melihat ke arah Selomita.


"Hey, kenapa kau melihat istriku seperti itu?" bentak Hari yang melihat Heri dari arah kaca spion.


"Oh, enggak Tuan. Istrinya sangat lelah sepertinya?" tanya Heri seraya melirik ke arah Hari.


"Iya, kami akan melanjutkan malam pertama di vila," ujar Hari


Heri sangat geram mendengar penuturan Hari, yang seenaknya memanggil Selomita dengan sebutan istri.


"Apa masih jauh?" tanya Hari yang masih melajukan mobilnya.


"Sedikit lagi, Tuan!" jawab Heri.


"Iya, sedikit lagi mulutmu yang seperti sampah akan aku pukul habis-habisan." Heri terlihat geram menatap Hari.


"Tuan, di depan belok kanan." Heri menunjukkan rumah Kristiana.

__ADS_1


Rumah milik istri pak Condro memang seperti vila. Hanya ada beberapa rumah saja di sana, dan itupun milik ketiga istri pak Condro.


"Wah, pasti mahal untuk biaya sewa vila sebesar itu?" tanya Hari yang sudah melihat tiga rumah di hadapannya.


"Kalau Anda orang kaya, mungkin tidak masalah, Tuan!" ujar Heri


"Baiklah, rumah yang sebelah mana?" tanya Hari memberhentikan mobilnya di depan pagar.


"Sebelah kiri, Tuan!" jawab Heri.


Kemudian Hari melajukan mobilnya ke arah kiri. Nampak rumah Kristiana, dengan dekorasi rumah tradisional adat setempat.


"Kayaknya sejuk," ucap Hari. "Berapa harga sewanya?" tanya Hari.


"Tuan, langsung saja ketemu sama bosku!" ujar Heri.


"Baiklah, dimana bosmu?" tanya Hari sambil membuka pintu mobil.


"Baik, Tuan." Heri pun keluar dari mobil.


Hari mengikuti langkah Heri yang akan masuk ke dalam rumah.


"Tok, tok, tok..."


Heri mengetuk pintu rumah, kemudian pintu pun terbuka.


"Tuan, tamunya telah aku bawa."


Dido melihat Hari dengan tatapan membunuh.


"Sepertinya tadi aku melihatmu?" tanya Hari yang telah mengenali Dido.


"Iya, aku adalah suami Selomita." Dido langsung melayangkan tinjunya ke arah wajah Hari. "Bugh!"

__ADS_1


Seketika tubuh Hari pun terhuyung jatuh ke lantai.


Dido menghampiri Hari, lalu mencengkeram jaket nya.


"Apa kau tidak dengar? Jika aku adalah suami Selomita?" Dido berteriak dan kembali memukul Hari.


Hari kembali terjatuh, namun kini ada luka robek di bagian bibir nya.


Ujang datang bersama pak Condro dan Kristiana.


"Hey, kau pasti berbohong. Selomita belum menikah!" ujar Hari yang masih keras kepala.


"Apa perlu, aku tunjukkan buku nikah kami?" hardik Dido yang kembali mencengkeram baju Hari.


"Oke, oke!" Hari mengangkat tangannya.


Kemudian Heri membantu mengeluarkan Selomita dari mobil.


Saat telah membuka pintu mobil, dia terkejut kala melihat ada luka lebam di bagian pelipisnya.


"Do! Selomita terluka." Heri berteriak.


Pak Condro dan Kristiana pun menghampiri Heri.


Kemudian Dido langsung melepaskan Hari dan berlari ke arah Selomita. Dan Hari di pegang oleh Ujang.


Dido ingin memastikan apa yang Heri lihat itu adalah benar.


"Sel!" Dido mengangkat wajahnya.


"Hey, apa yang kau lakukan pada istriku?" Dido geram saat tahu wajah Selomita mengalami luka lebam.


"Heri, Ujang bawa dia ke kantor polisi." Dido memerintahkan anak buahnya.

__ADS_1


__ADS_2