CINTA TERHALANG RESTU

CINTA TERHALANG RESTU
Bab 103


__ADS_3

Hampir lima jam, dan si ibu mulai lemas. Kedua calon dokter mencoba untuk tidak panik. Pertolongan pertama adalah membiarkan sang ibu beristirahat terlebih dahulu.


Lalu Selomita meminta Giman untuk menyediakan air putih lagi di gelas. Mungkin bagi ibu yang mau melahirkan akan sulit untuk mengisi perut. Namun Selomita meminta Giman, untuk mencarikan makanan.


Dan Giman memberikan singkong rebus yang baru saja dia masak. Karena memang tidak ada makanan lain.


Selomita dengan telaten memberikan sedikit demi sedikit singkong rebus. Setelah cukup, kemudian mereka melanjutkan lagi proses persalinan. Belum ada tanda-tanda mulas, dan Selomita langsung mengusap perut sang ibu.


" Dok, saya mau buang air besar." teriaknya.


" Len, sediakan baskom berisi air. Karena ibu ini akan mengeluarkan anaknya." teriak Selomita.


Baskom yang berisi air hangat sudah tersedia dia atas meja.


" Dok, mules dan sakit. Maafkan saya buang angin ya .. dut...." Lirihnya.


" Iya gak apa-apa Bu, sekarang saat saya memberi aba-aba mengejan, satu, dua, tiga..." ucap Selomita dengan sabarnya menghadapi wanita yang akan melahirkan.


" Bu, kepalanya sudah kelihatan. Sedikit lagi, tarik nafas lalu buang. Dalam hitungan ketiga ibu tarik dan buang ya." perintah Alena.


" Baik Dok." angguk sang ibu.


" Ee....mmmmm.." teriaknya.


" Uea...ueaaaa...."

__ADS_1


Tangis bayi terdengar sangat indah, tepat pukul delapan pagi. Dengan cepat Alena mengambil sang bayi, lalu menyelimutinya dengan handuk kering.


Selomita mengurus plasenta yang masih melekat pada ibu dan memotongnya.


" Cepat bersihkan, aku akan mengurus ibunya." kata Selomita yang langsung mengambil gunting bedah.


Alena membawa sang bayi untuk di bersihkan, lalu di berikan ke ibunya.


" Bu anaknya laki-laki." kata Alena yang menggendong bayi mungil.


" Tolong kasih bapaknya, biar di azankan." kata sang ibu.


Lalu Alena memberikan pada Giman, untuk di azankan.


" Baik bu dokter." ucap Giman bahagia.


Setelah melaksanakan kewajibannya, mereka berdua pun pamit pulang.


" Maaf Bu dokter, saya belum punya biaya untuk membayar kalian." kata Giman menunduk.


Selomita dan Alena saling melirik, mereka tak tega melihat kehidupan Giman. Lalu Selomita berencana membuat Giman mempunyai penghasilan tambahan.


" Pak, sebagai gantinya bapak datang ke rumah ya. Nanti belikan kebutuhan kami di pasar selama sebulan." ide Selomita.


Alena hanya mengernyitkan keningnya, mendengar pernyataan Selomita.

__ADS_1


Sebenarnya Selomita ingin memberinya uang, namun tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Maka dia mencari ide untuk membuat Giman menambah penghasilan.


" Baik Bu dokter, setelah saya pulang menggembala kambing langsung ke rumah bu dokter." kata Giman sambil tersenyum lega.


" Mulai besok ya Pak." kata Selomita.


" Baik, Bu." ucap Giman, " Terima kasih atas bantuannya."


" Sama-sama."


Selomita dan Alena pulang dengan diantar Giman. Kebetulan Giman akan menggembalakan kambing milik majikannya.


Sesampainya di rumah, mereka tidak melihat teman-temannya. Saat membuka layar ponsel nya, banyak pesan masuk. Karena di rumah Giman tidak ada jaringan.


" Len, kami jalan duluan. Kamu dan Selomita diijinkan istirahat hari ini." isi pesan Riska.


" Iya Ris, puji Tuhan tadi kami menyelesaikan dengan baik. Ibu dan bayinya selamat. Aku dan Selomita sudah pulang." Alena kembali mengirimkan pesan yang terlewat dua jam yang lalu.


" Sel, aku mandi duluan ya." ucap Alena yang sudah mengalungkan handuk.


" Iya, " jawab Selomita yang menaruh peralatan medis di meja.


-


Silahkan like dan berikan komentar mu ya guys.

__ADS_1


__ADS_2