
" Prank...." terdengar suara pecahan kaca dari arah dapur.
" Sel, kamu sedang apa?" tanya Riska yang berada di ruang tengah.
" Oh, aku menjatuhkan gelas. Entah kenapa kok licin dan terjatuh." teriak Selomita yang langsung memungut pecahan gelas yang jatuh ke lantai.
" Kayaknya aku nyucinya bersih deh." gumam Riska yang langsung menghampiri Selomita.
" Apa aku kurang bersih membilasnya?" tanya Riska yang mendapat jatah mencuci piring.
" Gak, udah bersih. Tapi gak tahu kenapa kok perasaan aku gak enak ya." kata Selomita yang menaruh pecahan gelas di plastik.
" Aku ambil sapu ya." ucap Riska.
" Iya, terima kasih." sahut Selomita.
" Coba telepon mamakmu, mungkin dia kangen sama kamu." saran Riska yang sudah membawa sapu dan pengki.
Selomita langsung menuju kamarnya, untuk mengambil handphone. Mencari nomor bertuliskan *mamak tercinta.
" Assalamualaikum, Mak."
" Wa'alaikum salam Sel, "
" Mamak baik-baik aja kan?"
" Iya, "
" Alhamdulillah."
" Sel, Dido telah berkhianat."
__ADS_1
" Deg*...." Selomita langsung membulatkan kedua bola matanya. Dia teringat dengan kejadian kemarin saat dia menghubungi Dido namun Niken yang menjawab.
" *Maksud mamak?"
" Dido telah mengkhianati kamu, mamak tidak ingin lagi melihat kau berhubungan dengan Dido."
" Tapi mak! "
" Sudah Sel, jangan membantah. Kau tidak tahu rasanya di sakiti oleh laki-laki yang kau cintai. Kau tidak boleh merasakan seperti yang mamak rasakan dulu."
" Baik, Mak."
" Assalamualaikum."
" Wa'alaikum salam*."
Selomita menutup sambungan telepon seluler nya. Nafasnya terasa berat, dan kepala nya sedikit pusing.
Tetapi mamaknya melarang, karena sudah mengetahui perbuatan yang Dido lakukan.
" Kepada siapa aku harus percaya?" batinnya bergejolak, ingin rasanya dia menangis sekencang-kencangnya.
" Sel, di luar ada pak Giman." kata Alena memberitahu.
" Oh iya, suruh tunggu." kata Selomita yang langsung mengusap kedua matanya.
Selomita keluar dari kamarnya menuju ruang tamu.
" Bu dokter, pesanan nya baru ada. Karena pedagang nya baru datang tadi sore." kata Giman memberitahu.
" Iya gak apa-apa. Maaf ya pak merepotkan, " ucap Selomita sambil tersenyum.
__ADS_1
" Pesenannya lengkap semua." kata Giman." Dan ini kembaliannya." Giman memberikan lima lembar uang lima ribuan.
" Iya, " Kata Selomita yang mengambil kembali nya, " Pak ini buat anak bapak ya." kata Selomita yang memberikan dua lembar uang seratus ribuan.
" Gak usah bu dokter, anda sudah sangat membantu saya." kata Giman menolak
" Ini upah bapak karena sudah membelikan pesanan saya. Bukan karena pemberian cuma-cuma." kata Selomita sambil menyodorkan uang.
" Terima kasih bu dokter. " kata Giman yang langsung mencium tangan Selomita.
" Ih si bapak, aku gak pantes di cium tangan nya " kata Selomita yang buru-buru menarik tangan nya.
" Gak apa-apa Bu dokter, " kata Giman, " Saya mau salaman aja."
" Iya, " kata Selomita yang mengulurkan kedua tangannya.
" Saya pamit pulang ya Bu dokter, " pamit Giman
" Besok lusa balik lagi ya pak, " pesan Selomita.
" Iya, " Giman berbalik dan meninggalkan penginapan.
" Sel, kamu beli pesenan segini banyak untuk siapa?" tanya Alena.
" Besok hari libur, aku mau masak dan mengundang para warga." kata Selomita yang merapikan belanjaan.
Alena bingung dengan Selomita yang terlalu royal dan boros. Dia masih belum tahu kehamilan Selomita, setahu dia kalau Selomita hanya anak kost dan penjual keripik singkong.
Karena seringkali Selomita membawa jualannya ke kelas.
-
__ADS_1
Udah update ya, kalau kamu suka sama ceritanya silakan like dan berikan vote serta komentar.