
" Dokter, dok tolong saya.." teriak seseorang dari balik pintu penginapan Selomita.
Belum ada jawaban, karena waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Sekali lagi terdengar ketukan pintu yang amat keras.
" Tok, tok, tok...." terdengar tiga kali lalu Alena pun terbangun dari tidurnya.
" Malam-malam begini, tamu darimana ya?" gerutu Alena yang langsung keluar kamar.
" Len, siapa sih?" tanya Riska yang mengucek kedua matanya.
Alena hanya mengangkat kedua bahunya, lalu menuju pintu.
" Dokter, tolong istri saya mau melahirkan." ucap pria setengah baya yang memegang bahu Alena.
" Bapak tinggal dimana?" tanya Riska yang merupakan dokter anak
" Sepuluh kilometer dari sini." kata bapak setengah baya.
" Apa? sepuluh kilometer?" kaget Alena.
" Baik pak, saya ganti baju dulu. " Alena mengganti bajunya, lalu membangunkan Selomita.
" Sel, Selomita. Cepat bangun, ada warga yang butuh pertolongan." kata Alena yang menggoyangkan tubuhnya.
" Apa Len?" tanya Selomita yang masih belum tersadar.
" Ada warga yang butuh pertolongan, ayo cepat bantu aku." kata Alena yang memberikan jas dokter pada Selomita.
" Baiklah, aku cuci muka dulu." ucap Selomita yang langsung bangun dari tidur lelapnya.
__ADS_1
Selesai cuci muka, Selomita langsung merapikan alat medisnya.
Selomita dan Alena mengikuti bapak yang terlihat usianya sudah hampir lima puluh tahun.
" Pak, istri bapak usianya berapa?" tanya Selomita yang baru pertama kali menangani kasus melahirkan.
" Tiga puluh lima, " jawab bapak-bapak itu dengan langkah yang terburu-buru.
Sepanjang perjalanan Selomita dan Alena menghapal semua pelajaran, yang di dapat di kampusnya.
Mereka menyusuri hutan yang lebat, penuh dengan pohon-pohon besar.
" Apa masih jauh?" tanya Alena yang sudah mulai lelah dengan perjalanan yang jauh.
" Itu Dok!!" tunjuk bapak paruh baya.
" Wagiman, panggilan Giman." ucap bapak paruh baya yang bernama Giman.
" Baiklah Pak Giman, " kata Selomita yang langkah nya sudah terhenti di depan rumah Giman.
" Siapkan lampu atau cahaya penerang ya Pak." perintah Selomita.
" Kami belum ada listrik Bu Dokter." ucap Giman
" Baiklah, pakai handphone ku saja." ucap Alena yang memberikan ponsel nya.
Lalu mereka masuk ke dalam rumah Giman, ada tiga anak kecil dengan usia balita dua anak dan kisaran remaja satu anak.
" Pak, apakah bapak tidak menyuruh istrinya KB?" singgung Alena.
__ADS_1
" Tidak ada uang Bu Dokter." ujarnya.
" Len, kita mau nolong orang. Bukan mau ceramah." tegur Selomita yang sudah mengeluarkan alat medis nya.
" Sebaiknya kalian menunggu di luar ya." kata Selomita yang langsung menuntun ketiga anak Giman untuk keluar.
" Baiklah Sel, kau periksa tekanan darah nya. Aku mau pakai sarung tangan." perintah Alena.
" Baik, " jawab Selomita.
Sesudah memeriksa tekanan darah, Alena memeriksa perut ibunya. Memastikan kalau anaknya sudah berada di posisi pinggul.
" Len, aku pakai sarung tangan dulu ya." ucap Selomita yang langsung memakai sarung tangan.
" Ibu, ikuti kami. Jika hitungan satu, dua, tiga ibu ambil nafas ya." ucap Selomita yang mengajari ibu yang akan melahirkan.
Cukup memakan waktu yang lama, pembukaan demi pembukaan telah terlewati. Kini sudah pembukaan sepuluh, hanya tinggal menunggu kepala bayinya keluar.
" Bu, ambil nafas ya. Lalu buang, jangan mengejan kalau belum di beri aba-aba." perintah Alena.
Si ibu hanya menganggukkan kepalanya, menurut pada perkataan dokter.
Selomita memborehkan minyak kayu putih pada dada dan punggung. Serta membantu mengusap-usap perutnya. Sudah lebih dari tiga jam, belum ada tanda-tanda mulas dari si ibu. Mereka tetap tenang, karena setelah memeriksa posisinya bayinya masih berada di jalur yang semestinya.
-
Terima kasih sudah setia membaca karya author. Like kalian sungguh banyak berarti untuk author yang masih amatiran.
Semoga suka, I love You 😘❤️❤️
__ADS_1