
" Do, aku bawakan sarapan untuk mu." kata Niken yang sudah berada di depan kantor Dido.
" Kau berikan pada pak Sapri, dia lebih menyukai masakan mu." jawab Dido dengan nada ketus.
" Apa kau tidak ingin mencoba sedikit saja?" tanya Niken dengan wajah mengiba.
" Iya, taruh saja di situ." perintah Dido yang masih fokus pada layar laptop nya.
" Do, apa kabarnya Selomita?" tanya Niken yang berbasa-basi, agar lebih lama bersama Dido.
" Dia sedang menempuh pendidikan dokter. " ucap Dido.
" Beruntung nya Selomita, andai aku meneruskan pendidikan ke jenjang SMA. Pasti aku juga bisa menjadi dokter." ucap nya seraya mendekat Dido
" Kenapa kau tidak meneruskan?" tanya Dido.
" Ibuku bilang, percuma sekolah tinggi kalau larinya ke dapur, sumur dan kasur." tegas Niken.
" Kolot sekali pemikiran ibumu." ejek Dido.
" Hey, kau jangan mengatai ibuku " marah Niken.
" Ya sudah, kau pergilah. Aku sedang tak ingin mendengar curhatan mu." ujar Dido yang mengusir Niken.
" Do, kamu suka wanita yang seperti Selomita?" tanya Niken yang memainkannya jemarinya di atas meja.
" Hem..." jawab Dido.
" Apa sih yang kamu lihat dari Selomita?" tanya Niken.
__ADS_1
" Dia tidak cerewet seperti mu, dan tidak banyak nanya. Sebaiknya kamu pergi, aku sedang sibuk." jawab Dido dengan nada mengusir.
" Ih, ..." kesal Niken yang langsung meninggalkan Dido dengan wajah yang cemberut.
" Pak Sapri..." panggil Dido.
" Iya, Den?" sahut Sapri.
" Bawa rantangnya, dan kalau sudah habis kembalikan ke Niken." perintah Dido
" Tapi, Den! Nanti bapak kena semprot lagi. " jawab Sapri yang langsung menunduk kan kepalanya.
" Jangan sampai ketahuan Niken, nanti kalau sudah bersih biar aku yang kembalikan." kata Dido.
" Baik Den, " jawab Sapri yang langsung membawa rantang berisi makanan.
Tapi Dido tetap acuh, setiap kali di berikan hadiah selalu di berikan lagi pada pegawai nya.
" Den, enak ya jadi orang ganteng." kata Heri yang merupakan sahabat Selomita.
" Enaknya?" tanya Dido.
" Banyak gadis-gadis yang mengejar aden.." ucap Heri.
" Aku sudah punya Selomita, gak terpikat gadis-gadis itu " ucap Dido yang sedang menyusun berkas-berkas.
" Oh iya, gimana kabar Selomita?" tanya Heri yang memang sudah lama tidak melihat Selomita.
" Dia baik, " jawab Dido.
__ADS_1
" Dia memang gadis yang baik, sungguh berbeda dengan gadis di desa ini. " ucap Heri yang memuji Selomita.
" Maksud mu?" tanya Dido.
" Dia gadis pertama yang aku suka, dan pernah menyatakan cinta. Tapi dia menolak ku secara halus. Tidak seperti gadis di desa ini, yang enggan berteman dengan ku. Hanya karena aku orang gak punya." kata Heri.
" Selomita menolakmu?" tanya Dido.
" Iya, dia ingin fokus sekolah dan mencapai cita-cita nya. Sudah banyak pemuda di desa ini datang menyatakan cinta. Namun dia menolak dengan alasan yang sama. Tetapi dia menganggap kami sebagai sahabat. Di saat gadis lain enggan kami sapa, hanya dialah gadis yang mau berteman dengan kami para pemuda kampung." ucap Heri.
" Rata-rata gadis di sini hanya mencari orang kaya, sekalipun lelaki itu sudah beristri ataupun tua. Makanya kami pemuda miskin merasa pesimis." ucap Heri.
" Baiklah, kalian akan aku bantu. Kumpulkan semua pemuda yang berniat ingin sukses. Nanti aku ajari cara memikat wanita " tutur Dido memberikan motivasi.
" Ah yang benar Den?" tanya Heri dengan wajah serius.
" Benar, aku akan membantu kalian agar mendapatkan gadis idaman. Tapi syaratnya kalian jangan malas. " tutur Dido.
" Siap Den, aku akan mencari pemuda yang ingin sukses dan mau mendapatkan gadis impiannya." semangat Heri yang langsung keluar dari kantor.
Dido hanya tersenyum melihat tingkah Heri yang begitu antusias.
-
Silakan like dan berikan vote kalian ya.
Teruntuk para reader...
Mohon dukungannya, karya ini sedang mengikuti You' re Writer Season 5. Silakan like dan vote ya. Terima kasih 🙏
__ADS_1