
Akhirnya Selomita menyelesaikan pendidikannya, dan akan kembali ke kota.
Para calon dokter pamit kepada warga sekitar, dan Selomita memberikan sedikit kenangan untuk Giman. Asisten nya saat di penginapan, memang Selomita membutuhkan tenaga nya untuk membeli keperluan sehari-hari.
Dan Giman merasa sedih, karena akan di tinggalkan oleh orang yang sudah baik pada keluarganya. Selomita memberikan modal usaha untuk Giman. Dan meminta perangkat desa, agar lebih perduli lagi kepada kesejahteraan warganya.
Di tengah acara pelepasan mahasiswa calon dokter, ada seseorang yang paling sedih. Dialah Hari, lelaki tampan berkulit hitam manis yang pernah menyatakan perasaannya pada Selomita.
Kelima calon dokter sudah di jemput oleh Iwan, sang mentor yang membimbing nya. Kemudian mereka pergi, dengan menggunakan mobil jeep menuju bandara.
" Sel, seperti nya Hari sangat kehilangan mu." ucap Alena yang duduk di sebelah Selomita.
" Len, sebaik nya kamu gak usah bahas dia. Karena kami hanya berteman." kata Selomita yang menyandarkan kepalanya di sandaran kursi pesawat.
Dua jam kemudian mereka sampai di bandara, kelima calon dokter pun keluar menuju tempat penjemputan.
Sudah ada Dido yang menunggu Selomita, dia berdiri di tengah keramaian orang yang menjemput para calon dokter lain yang juga di kirim di daerah berbeda.
" Selo, " panggil Dido.
Selomita menghampiri Dido, dan teman-teman yang lain juga sudah di jemput oleh keluarganya.
__ADS_1
" Terima kasih kamu sudah menjemput ku." kata Selomita yang langsung memeluk Dido.
" Kewajiban ku sebagai calon suamimu." Ucap Dido berbisik di telinga Selomita." Ayo kita pulang." ajak Dido membawa barang-barang Selomita.
" Bawaanmu banyak juga, " kata Dido yang mendorong troli menuju mobilnya di parkiran.
" Pemberian warga di sana, mereka baik sekali." kata Selomita memeluk lengan Dido.
Kini hubungan mereka sudah tidak canggung lagi. Selomita begitu manja berada dekat Dido, karena memang dari kecil dia tak pernah bermanja-manja dengan ayahnya. Sedari kecil Selomita di tuntut hidup mandiri, dan tidak boleh manja.
Dido memasukkan satu persatu barang Selomita. Lalu ada satu barang yang terjatuh ke aspal. Amplop yang sepertinya ada isi benda di dalamnya.
" Hari.." Dido membaca nama yang tertulis fi balik amplop, " Siapa dia?" tanya Dido yang menunjukkan amplop berukuran 20cm x 5cm.
Lalu mereka masuk ke dalam mobil, kemudian Dido langsung menyalakan mesin mobil nya dan melajukan nya.
" Coba kau lihat apa isinya." kata Dido yang penasaran dengan isi di dalam amplop.
Selomita membolak-balik kan amplop yang sepertinya berisi benda lalu membukanya.
Dia ragu membukanya di depan Dido, karena sebelumnya dia tidak mengetahui kalau Hari memberikan amplop. Pasti dia menyelipkan saat Selomita sedang bersalaman dengan para warga.
__ADS_1
" Ada suratnya, " lirih Selomita yang takut jika Hari menuliskannya sesuatu yang menyinggung tentang perasaan dia. Yang pastinya akan membuat Dido cemburu.
" Gelang." Suara Selomita terdengar pelan, dan Dido menoleh ke arahnya.
" Coba kulihat." Kata Dido yang mengulurkan tangannya.
Selomita memberikan gelang yang di pegang nya, tanpa memberikan surat yang berada di dalamnya. Lalu amplop itu di masukkan ke dalam tas, dia tidak ingin Dido membacanya.
" Gelang emas dengan potongan kulit kerang, pasti orang nya kreatif ya?" tanya Dido.
" I, iya.." jawab Selomita gugup.
" Hari, kau membuat masalah aja." gerutu Selomita yang cemas sambil meremas kedua tangan nya.
" Coba kau pakai." titah Dido yang memberikan gelang pemberian Hari.
Selomita mengambil gelang dan mencobanya.
" Pas banget, kenapa dia bisa tahu ukuran tangan mu? Apa orang nya masih muda?" tanya Dido menyelidiki, seperti nya dia curiga ada seseorang yang memberikan benda semahal dan sebagus itu pada Selomita.
-
__ADS_1
Silakan like dan berikan komentar mu.