
"Baiklah, kita duduk di sini!" ucap Selomita yang telah duduk di bangku kantin.
Semua mata tertuju pada Selomita, karena kini dia bersama seorang dengan penampilan formal. Serta di ikuti beberapa bodyguard, yang melingkari Selomita dan pria paruh baya di hadapannya.
"Jo, ada apa sama Selomita? Apa kita bantu dia?" tanya Rizki yang ingin menghampiri Selomita.
"Kita lihat saja dari sini, jika Selo butuh bantuan kita pasti dia akan teriak minta tolong," ujar Johan.
Rizki hanya memutar kedua bola malas, mendengar jawaban Johan.
"Itu namanya bukan minta tolong sama kita? Tapi minta tolong sama teman satu kampus," balas Rizki. Kemudian dia langsung berjalan menuju ke arah Selomita.
"Baiklah, Pak! Sekarang jelaskan maksud tujuan Anda kesini?" tanya Selomita yang menatap serius ke arah Richard.
"Ada apa dengan pelipis mu?" tanya Richard yang baru menyadari ada luka lebam di pelipis Selomita.
"Inilah alasan, kenapa aku bisa memasukkan anakmu ke penjara." Selomita menjawab dengan nada tegas.
__ADS_1
"Maafkan anakku," ucap Richard dengan lirih. "Aku juga tidak tahu, kenapa dia sebegitu mencintai kamu." Richard menjelaskan seraya menundukkan pandangannya.
"Aku sudah menjelaskan padanya, jika aku sudah menikah. Tetapi dia masih tetap tidak percaya. Malah menculikku dan membawaku ke sebuah desa," jelas Selomita.
"Iya, aku tahu hal itu merupakan tindak kejahatannya. Tapi aku minta tolong padamu, untuk mencabut tuntutan mu." Richard memohon pada Selomita.
"Maaf, aku tidak bisa!" ucap tegas Selomita. "Kalau dia bebas, tidak akan membuatnya jera."
"Aku akan membawanya ke kampung, dan akan menghukumnya," ucap Richard.
"Maaf, semua itu di luar kuasaku. Aku hanyalah korban dan berharap proses hukum akan berjalan." Selomita kekeh pada pendiriannya. "Bukankah, kau seorang yang memiliki kekuasaan? Biasanya seorang pejabat akan menggunakan kekuasaan nya, untuk melakukan hal di luar naluri manusia!" ucap Selomita dengan nada sindiran.
"Aku sudah berjanji pada jabatan ku, akan aku pergunakan dengan sebaik-baiknya. Dari sini aku hanya ingin menyimpulkan, tentang pendapat mu soal anakku. Dan aku pun sudah mendapatkan penjelasan darimu. Seandainya aku hanya menerima informasi dari anakku, mungkin aku sudah mengeluarkan mu dari kampus ini." Richard tetap berbicara dengan nada lembut.
Selomita tergugu mendengar penuturan Richard. Ternyata dia salah menilai Richard, dugaan jika semua pejabat akan melakukan segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkan adalah salah. Richard adalah pejabat yang bijak, dia tidak memanfaatkan jabatannya untuk kasus anaknya yang seperti psychopat.
"Maaf, aku pikir kau sama seperti pejabat lainnya. Yang menggunakan kekuasaan dan uang demi melakukan apapun," ucap Selomita.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan menemuimu lagi. Aku hanya meminta maaf atas nama anakku," ucap Richard yang langsung berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Terima kasih atas penjelasannya," ucap Richard sambil menjabat tangan Selomita. Kemudian dia pergi meninggalkan Selomita.
Rizki dan Johan langsung menghampiri Selomita, yang sedang memandang kepergian Richard.
"Selo! Kau tidak apa-apa?" tanya Johan yang sudah berada di samping Selomita.
"Iya, aku tidak apa-apa." Selomita langsung duduk kembali.
"Seperti ayahnya Hari?" tanya Rizki.
"Ya," jawab Selomita.
"Ada urusan apa, hingga dia mau datang ke kampus ini?" tanya Rizki menyelidiki.
"Dia hanya ingin bertemu denganku, apa tidak boleh?" ucap Selomita
__ADS_1
"Boleh, sih! Tapi kok dia cuma mau nemuin kamu aja! Kenapa gak sama kita-kita?" tanya Johan.
Selomita hanya tersenyum tipis, mendengar celotehan dua teman laki-lakinya.