CINTA TERHALANG RESTU

CINTA TERHALANG RESTU
Bab 131 (Extra part)


__ADS_3

Selomita pun di gendong oleh Dido keluar dari mobil Hari. Lalu membawanya ke dalam kamar.


Hari telah di bawa oleh Ujang dan Heri menuju kantor polisi.


"Do, ambilkan air hangat untuk mengompres istrimu." Kristiana memerintah Dido yang sedang duduk di sebelah Selomita.


Dido langsung mengambil air hangat, untuk mengompres luka di pelipis Selomita.


"Do, ibu masak dulu. Kalau Selomita sudah bangun, lekas kamu ajak ke ruang makan." Kristiana dan pak Condro pun meninggalkan Dido di kamarnya.


"Apa dia psychopat? Berani memukul wanita!" geram Dido sambil memeras kencang handuk kecil di tangannya.


Kemudian dia menaruh handuk kecil di pelipis Selomita. Dido memandang iba wajah istrinya, dia tidak tega melihat luka di wajah Selomita.


"Selo!" panggil Dido saat kedua mata Selomita telah terbuka perlahan.


"Mas! Aku ada dimana?" tanya Selomita seraya memegang pelipisnya.


"Kamu di rumah," jawab Dido


"Kok bisa?" tanya Selomita seraya mengerutkan keningnya. "Bukankah tadi aku ada di mobil Hari?" bingung Selomita.


"Aku 'kan pahlawanmu. Pastinya aku bisa dong, merebut kamu dari laki-laki gila seperti dia!" ujar Dido

__ADS_1


"Terima kasih, ya! Kamu memang hebat," puji Selomita sambil mengulas senyum.


"Kepalamu sakit?" tanya Dido.


"Iya, sepertinya tadi Hari memukulku." Selomita mengadu pada Dido.


"Tadi aku juga sudah memukulnya," jawab Dido. "Kamu lapar?" tanya Dido.


"Iya," jawab Selomita seraya menganggukkan kepalanya.


Dido memapah Selomita berjalan menuju ruang makan.


"Mas, yang sakit itu kepala aku! Bukan kaki aku," ujar Selomita menahan langkahnya.


"Apa perlu aku gendong?" tanya Dido dengan mimik serius.


"Baiklah, aku tuntun saja, ya!" kata Dido yang langsung menuntun tangan Selomita.


Mereka berdua pun berjalan menuju ruang makan. Di sana sudah ada pak Condro dan juga Kristiana sedang menunggu.


"Selo! Apa kamu masih sakit?" tanya Kristiana dengan ekspresi wajah yang cemas.


"Enggak, Bu! Sudah di kompres oleh Mas Dido," ucap Selomita seraya melirik ke arah Dido.

__ADS_1


"Iya sudah, sebaiknya kita makan dulu," ucap Pak Condro.


Selomita dan Dido pun duduk berdampingan. Mereka menikmati masakan buatan Kristiana.


"Enak, Bu!" kata Selomita yang mencicipi bakwan jagung dan juga sayur sop daging.


"Kamu harus banyak belajar masak sama ibu," ucap Dido. "Seenggaknya jangan sambal terasi, yang kamu hidangkan di waktu pagi hari," ucap Dido dengan nada menyindir sambil mengelus pipi Selomita.


"He, he, he... maaf ya, Sayang! Bukan aku gak suka masakan mu, hanya saja tadi pagi perutku mulas sehabis makan sambal terasi." Dido terkekeh.


"Do, kamu gak boleh kayak gitu. Hargai masakan istrimu, dia itu sudah sangat perhatian sama kamu." Kristiana memandang tajam ke arah Dido.


"Iya, Bu. Aku hanya bercanda, maaf Sayang!" ucap Dido sembari memegang tangan Selomita.


"Menjaga perasaan wanita itu sangat penting, kamu gak boleh sekalipun menghina semua hasil kerja kerasnya." Pak Condro menasehati Dido.


"Iya, Pak!" jawab Dido menyesal, karena telah menyinggung sang istri.


"Sel, apa kamu mau memaafkan aku?" tanya Dido memohon.


"Iya," jawab Selomita dengan nada ketus.


"Tuh kan, Selomita jadi marah." Kristiana langsung berdiri dan menghampiri Selomita.

__ADS_1


"Maafkan Dido ya, Nak!" Kristiana memeluk Selomita.


"Aku gak marah, Bu!" jawab Selomita yang merasa tidak enak kepada Kristiana.


__ADS_2