
Setelah acara pernikahan berlangsung, Dido dan Selomita masih menetap di rumah Kristiana.
Mereka belum memiliki rumah sendiri, karena Dido belum membangunnya.
"Bu, besok bapak mau bangunkan rumah untuk Dido." Pak Condro sedang menikmati teh hangat di depan rumah Kristiana.
"Iya sudah, Bapak bilang aja sama Dido," ucap Kristiana yang juga menikmati teh hangat di sore hari. "Eh tapi, Selomita belum selesai sekolah nya. Pasti dia akan kembali lagi ke kota," tutur Kristiana.
"Iya enggak apa-apa, yang penting saat mereka sudah kembali dari kota, langsung menempati rumah yang akan bapak buat," ujar pak Condro.
"Bagaimana baiknya saja, yang penting sekarang Dido sudah menikah dengan Selomita."
Sementara Dido dan Selomita sedang asyik berdua di dalam kamarnya.
Dido begitu manja dengan Selomita, hingga sampai sore hari tak juga keluar dari kamarnya.
"Do, sebaiknya kita mandi. Karena hari sudah sore," ucap Selomita sambil mengelus rambut Dido.
"Aku tidak ingin jauh dari kamu," rengek Dido seraya memeluk erat Selomita.
Akhirnya mereka berdua pun keluar dari kamar.
"Do, bapak mau bicara sama kamu." Pak Condro memanggil Dido yang sudah keluar dari kamarnya.
"Ada apa, Pak?" tanya Dido sambil berjalan menghampiri bapaknya yang sedang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Bapak mau bangun rumah di sebelah rumah ibu. Apa kamu mau?" tanya Pak Condro.
"Selomita mau melanjutkan pendidikannya, jadi aku memutuskan untuk ikut ke kota." Dido menjelaskan pada pak Condro.
"Bagaimana dengan ladang dan sawah milik bapak?' tanya Pak Condro yang cemas jika ladangnya di kelola oleh Anton. Karena Anton masih belum memahami tentang perkebunan.
"Lambat laun, Anton pasti bisa." Dido meyakinkan pak Condro.
"Do, bagaimana jika kamu yang tetap mengelola perkebunan. Dan kamu bisa menemui Selomita saat akhir pekan." Pak Condro memberi usul
Dido terdiam, dia pun berpikir jika ikut dengan istrinya maka Dido tak punya pekerjaan.
"Nanti Dido bicarakan dengan Selomita," ujar Dido.
"Iya sudah, kamu makan saja dulu." Pak Condro menyuruh Dido untuk makan.
"Ada hal penting?" tanya Selomita seraya melirik ke arah pak Condro.
"Bapak mau bikin rumah di tanah sebelah," jawab Dido.
"Oh!" jawab Selomita.
"Do, eh Mas!" Selomita mengubah nama panggilan untuk Dido. Baginya sangat canggung, namun hal itu harus dia biasakan.
"Iya, Sayang!" jawab Dido.
__ADS_1
"Aku mau packing malam ini," ucap Selomita
"Kok buru-buru banget?" tanya Dido seraya mengerutkan keningnya.
"Ada ujian mendadak, lalu yang terpilih akan di tempatkan di rumah sakit pemerintah." Selomita menjelaskan.
"Jika kamu menjadi seorang dokter, apa masih ada waktu buat aku?" tanya Dido.
"Pastilah, masa aku menomorduakan kamu," ucap Selomita. "Aku tidak akan melupakan tugas sebagai seorang istri. Tetapi kamu juga harus mendukung cita-cita ku. Karena mamakku sangat menginginkan aku menjadi seorang dokter," ujar Selomita.
"Baiklah, aku percaya padamu."
Mereka kembali meneruskan makan siang yang sudah kesorean.
Usai makan, Selomita langsung merapikan piring kotor yang berada di atas meja.
Setelah itu, dia merapikan rumah Kristiana.
"Aku mau ke rumah mamak, mau sekalian pamit!" pinta Selomita yang telah membersihkan dirinya.
"Baikah, aku antar!" ucap Dido langsung mengambil jaketnya.
Mereka pun berangkat menggunakan motor, agar cepat sampai ke rumah Mak Inah.
Sepanjang perjalanan, Selomita memeluk Didi dengan erat dari arah punggung nya.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada mereka berdua, saat melintas di area perkebunan milik pak Condro.
"Eh, lihat deh! Dido dan Selomita kini resmi menjadi suami istri." Salah seorang gadis sedang membicarakan Dido dan Selomita. Kemudian Rina mendengar ocehan tentang Dido dan Selomita.