
" Aku lihat kok wajah mu jadi murung?" tanya Dido yang sudah mengakhirinya makannya.
" Ah aku enggak apa-apa." jawab Selomita yang juga sudah menyelesaikan makannya.
" Ya udah, sekarang kita pulang." ajak Dido yang langsung mengulurkan tangannya.
Dido menuntun Selomita, dan mereka berjalan menyusuri kios-kios toko di mall. Dido selalu menawarkan kepada Selomita, apa yang ingin dia beli. Namun Selomita menolak, dan hanya ingin pulang ke rumah.
Mereka sudah meninggalkan mall terbesar di kota. Jalanan yang di tempuh pun kini sudah ramai dan padat. Karena waktunya orang kantoran pada pulang kerumahnya.
" Sel, kamu gak apa-apa?" tanya Dido yang mengusap pipi Selomita.
" Aku gak apa-apa, Do." jawab Selomita yang perasaannya saat ini tidak enak. Entah dia seperti merasa akan kehilangan sesuatu.
Mobil Dido sudah sampai di halaman rumah. Dido memarkirkan di garasi bersebelahan dengan mobil Yasmin.
" Aku mau istirahat, karena besok harus berangkat pagi." ucap Selomita yang sedang membuka seat belt nya.
" Baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Istirahat lah, dan jangan lupa mimpikan aku." kata Dido sambil mencium kening Selomita.
Dido mengantarkan Selomita menuju kamar kost nya. Dan Dido langsung berjalan menuju rumah nya.
" Assalamualaikum, " ucap Dido memberi salam.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam." jawab Pak Condro dan Kristiana.
" Do, sehabis kamu membersihkan diri. Boleh bapak bicara sebentar dengan mu?" tanya Pak Condro.
" Boleh pak," jawab Dido, " Aku mandi dulu ya." kata Dido yang langsung menuju kamarnya.
Pak Condro menunggu Dido di ruang tamu, dan wajah Kristiana terlihat cemas dengan jawaban Dido.
" Pak apa sebaiknya di tunda dulu, dia baru saja bahagia." kata Kristiana yang mencemaskan putranya.
" Bu, tidak adalagi permasalahan antara Dido dan gadis itu. Dia bisa menghubungi Selomita dengan handphonenya nya. Kalau jodoh gak akan kemana." kata Pak Condro dengan bijak.
" Aku hanya sedih melihat Dido frustasi seperti kemarin, Pak." tutur sang bunda.
" Dido sudah datang, sebaiknya dibicarakan dengan baik-baik." pesan Kristiana.
Pak Condro hanya tersenyum, dan menunggu Dido untuk duduk di sampingnya.
" Bapak mau bicarakan apa?" tanya Dido yang sudah duduk di sebelah Pak Condro.
" Do, bapak butuh penerus." jawab Pak Condro.
" Maksudnya?" tanya Dido sambil menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
" Bapak minta tolong kepada mu, untuk mengelola hasil pertanian di desa." ucap Pak Condro.
" Tapi, Pak." ucap Dido yang ingin menolak.
" Do, kamulah saat ini harapan bapak satu-satunya. Anton belum siap memegang usaha bapak yang bapak rintis selama ini " kata Pak Condro sambil memegang tangan Dido.
" Bapak mohon, bantu bapak mengelola nya. Dan bantu saudara laki-laki mu untuk bisa mengelola nya. Semua demi masa depan keluarga kita, dan juga keluarga yang akan kau bina nanti." ucap Pak Condro.
Dido hanya menghela nafas nya, terasa berat jika dia harus meninggalkan Selomita lagi.
" Do, Selomita akan meneruskan pendidikannya. Kamu pun harus menunggu nya sampai dia mewujudkan cita-cita nya. Di saat Selomita menempuh pendidikannya, kamu juga harus mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk kehidupan kalian nanti kedepannya." nasihat Pak Condro.
" Jangan sampai Selomita menderita karena kau tidak bisa menafkahi nya. Dari sekarang kau juga harus berjuang. Membantu perekonomian bapak, dan juga menabung untuk masa depanmu." ucap Pak Condro yang mengelus pundak Dido.
" Akan aku pikirkan pak, " kata Dido yang tertunduk lesu.
" Jangan berpikir lama-lama, karena masa depan mu ada di tanganmu. Bantu bapak mengelola hasil pertanian, sambil menunggu Selomita menyelesaikan pendidikannya." kata Pak Condro.
" Aku akan bicarakan pada Selomita." ucap Dido yang langsung masuk ke dalam kamarnya.
-
Silahkan like dan berikan komentar mu.
__ADS_1