
Kelima calon dokter pun sudah selesai dengan tugas masing-masing. Mereka berkumpul di puskesmas, dan mengumpulkan berkas hasil kunjungan kerumah warga.
Selesai merekap laporan, mereka langsung ikut dosen pembimbing pulang ke penginapan.
" Kalian mau mampir ke pasar?" tanya Iwan yang menyetir mobil.
" Iya, Pak. Di rumah tidak ada bahan makanan." jawab Riska sambil mengibaskan kedua tangan nya. Karena di dalam mobil tidak menggunakan AC.
" Baiklah, kalian pikirkan apa yang akan kalian beli. Karena di desa itu tidak ada kulkas." kata Iwan yang melajukan mobilnya ke arah pasar tradisional.
Diluar dugaan, ternyata pasar yang di bayangkan bukan seperti pasar biasanya.
Iwan melajukan mobilnya ke hutan, ya biasa para warga melakukan transaksi ekonomi di hutan.
" Pak, ini mau ke hutan?" tanya Alena.
" Iya, pasarnya ada di dalam hutan." kata Iwan.
Mereka terdiam, dan sangat bingung.
" Kita sudah sampai." ucap Iwan yang langsung memarkir mobilnya.
" Ayo turun, kalian belilah apa yang dibutuhkan." kata Iwan.
__ADS_1
Mereka turun dari mobil satu persatu, dan melihat ibu-ibu yang memajang jualan nya.
Para wanita membeli beras, minyak dan gula serta kebutuhan sembako yang memang tidak akan basi. Setelah selesai bertransaksi, mereka langsung naik ke mobil. Sebelumnya para wanita diperingatkan, agar membawa kebutuhan wanita selama enam bulan.
Satu jam mereka berjalan menuju penginapan, akhirnya sampai.
Masing-masing membawa belanjaan yang di beli sewaktu di pasar. Pasar di sana diadakan tiga hari sekali. Jadi bagi yang memegang uang bisa menyetok barang. Sedangkan yang tidak punya uang, bisa barter dengan barang yang nilai jual nya sama.
Malam pun tiba, Selomita baru sempat melihat layar ponselnya. Karena sejak tadi pagi dirinya sangat sibuk. Sedangkan di desanya sangat minim jaringan yang menghubungkan ke sinyal handphone. Televisi saja bergambar semut berkerumun, karena tidak mendapat sinyal.
" Kamu udah nimba air di sumur?" tanya Selomita pada Riska.
" Belum, rasanya aku lelah sekali. Aku mau cuci muka aja." kata Riska yang langsung menuju kamar mandi
Matanya terlihat berbinar, seperti nya dia sangat bahagia membaca pesan yang masuk.
" Ya elah sampai senyum-senyum gitu." ledek Alena yang melihat Selomita tersenyum sambil membaca tulisan di layar ponsel nya.
" Dari siapa Sel?" tanya Riska yang duduk di sebelah Selomita. Dia ingin meyakinkan kalau Selomita tidak berhubungan dengan Riski.
" Calon suamiku." kata Selomita sambil tersenyum.
Lalu Selomita menghubungi Dido dengan video call. Belum sempat berbicara, Riska langsung mengambil handphone Selomita.
__ADS_1
" Aku mau lihat dong." rengek Riska.
"Jangan di kasih, nanti malah dia yang suka sama calon suamimu." ledek Alena.
" Ish, kamu kok jadi sentimen gitu sama aku Len?" tanya Riska yang penasaran dengan berubah nya sikap Alena.
Alena langsung masuk ke kamarnya, dan Selomita hanya jadi penonton dari keributan mereka berdua.
" Kalian ini sepertinya kakak adik saja." ujar Selomita.
" Ih, siapa yang mau punya kakak kaya dia!" kata Riska sambil mengernyitkan kedua alisnya.
" Aku juga gak mau sodaraan sama kamu." Teriak Alena di dalam kamarnya.
Dido hanya tersenyum melihat tingkah teman-temannya Selomita.
Dia tidak perlu lagi khawatir dengan keadaan Selomita.
Dido menanyakan perihal kegiatan Selomita hari ini. Dan Selomita sangat antusias menceritakan hal-hal penting yang tadi dia lakukan saat sedang menjadi dokter.
-
Silahkan like dan berikan komentar mu.
__ADS_1