
Sebelumnya kalian pernah mendengar berita, tentang proses persalinan di tempat umum.
Author bukan bidan, namun pernah merasakan proses persalinan. Mohon maklum jika ada perbedaan tentang tata cara proses persalinan. Silakan di lanjutkan baca lagi ya, ini hanya sebuah imajinasi author semata. Terima kasih🙏
...****...
Selomita begitu teliti, memperhatikan detik demi detik keluar nya si jabang bayi.
"Satu, dua, tiga... tarik nafas lalu buang." Selomita memberikan aba-aba kepada Anggita.
Sedangkan Dika menjalankan mobilnya, dengan perlahan. Anggita berpegang pada pegangan mobil, dan mulutnya menggigit kain agar tidak bersuara saat mengejan. Karena jika bersuara, hanya akan menghabiskan energi ibu yang mau melahirkan.
"Dika, air minum!" titah Selomita.
Dika memberikan sebotol air mineral, pada Selomita. Lalu Selomita memberikan pada Anggita untuk diminum, agar dia mendapatkan tenaga untuk mengejan.
"Apa masih lama?" tanya Anggita dengan kening penuh keringat.
"Sedikit lagi, kepalanya sudah kelihatan," kata Selomita seraya melihat jalan lahir Anggita.
"Aku, gak kuat!" pekik Anggita yang masih merasakan mules di bagian perutnya.
"Ah..." teriak Anggita, lalu Selomita menyuruhnya menarik nafas, di iringi dengan mengejan.
"Satu, dua, tiga... tahan!" Selomita memberikan aba-aba.
Lalu dengan sendirinya, sang jabang bayi sudah tidak betah di dalam perut ibundanya. Kemudian bayi pun keluar dengan didahului bagian kepala. Selomita langsung menarik kepala bayi, lalu kemudian menarik badannya.
"Oek, oek, oek..."
Terdengar suara tangisnya, dalam genggaman tangan Selomita.
__ADS_1
"Kain lagi, Dika!" titah Selomita.
Dika memberikan kain kepada Selomita, dan langsung menyelimuti si bayi yang masih bermandikan darah.
"Alhamdulillah, cowok." Selomita berucap seraya melihat anak burung di bagian kelamin nya.
"Terima kasih, Sel!" lirih Anggita dengan suara lemas.
Kini mobil Dika penuh dengan cairan karena darah bekas melahirkan.
"Ngiung, ngiung, ngiung..."
Terdengar suara ambulans, di belakang mobil Dika. Mobil yang berada di belakang mereka pun langsung menghindar, lalu memberikan jalan untuk mobil ambulans.
"Tok, tok, tok..." Pintu mobil di ketuk dari arah luar.
"Dido," ucap Selomita sambil menggendong bayi Anggita.
Dan mobil ambulans melaju menuju rumah sakit. Selomita bersama Anggita di dalam mobil ambulans, sedang kan Dido dan Dika menyusul di belakangnya.
"Selamat ya, Dik! Kamu sudah punya baby," kata Dido memberi ucapan kepada Diki.
"Terima kasih, dan terima kasih juga untuk Selomita yang telah menolong anakku," kata Dika yang sudah memarkir mobilnya di area rumah sakit.
Dido menghampirinya Selomita dan Anggita yang sudah masuk ke ruang persalinan.
Selang satu jam, Selomita keluar dari ruangan persalinan dan Anggita juga di dorong di atas brankar. Mereka menuju ruang rawat inap.
"Do, aku mendapat referensi dari rumah sakit ini, karena sudah menangani persalinan," ucap Selomita dengan raut wajah bahagia.
"Alhamdulillah, selamat, ya!" kata Dido sambil memeluk Selomita.
__ADS_1
"Aku hanya tinggal menyusun tesis ku dan menyerahkan pada dosen, ditambah referensi dari rumah sakit. Pasti secepatnya aku akan bisa menyelesaikan pendidikan ku," kata Selomita dengan tawa bahagia.
"Aku turut bahagia, semoga ilmu yang kau pelajari bisa menolong orang banyak," pesan Dido. "Kita pamit pulang sama Dika." Dido langsung menuntun tangan Selomita.
Kemudian mereka masuk ke dalam ruangan rawat inap.
"Dik, aku pulang dulu Sekali lagi selamat, ya!" ucap Dido.
"Terima kasih, Do! Maaf, selama ini aku selalu jahat sama kamu." Dika menyesal dan langsung memeluk Dido.
"Iya, aku juga uda lupain semua itu," ujarnya membalas pelukan Dika.
"Sel, terima kasih kau telah menjadi penyelamat anakku," kata Dika.
"Tuhan sudah merencanakan semuanya." Selomita berucap seraya tersenyum.
Setelah pamit, mereka langsung keluar dari ruangan rawat inap tempat Anggita.
"Kali ini, kita gak jadi nonton lagi!" ucap Dido dengan nada yang kecewa berat.
"Do, menolong orang itu lebih baik, daripada bersenang-senang sendiri," ucap Selomita sambil mengelus lengan Dido.
"Kita balik lagi ke mall, untuk mengambil mobil ku," kata Dido.
"Iya," jawab Selomita.
Mereka berdua berpegangan erat meninggalkan rumah sakit, lalu menuju mobil angkutan umum.
Selomita ingin mengulang masa lalu saat masih sekolah, yang selalu naik turun angkutan umum.
-
__ADS_1
Silakan like ya guys, kalau kamu suka sama ceritanya 😘