
" Sel, sudah selesai belum? Kita disuruh berkemas. Katanya mau di sebar ke beberapa puskesmas." ucap Alena yang merupakan ketua grup.
" Oh iya, sebentar. Aku lipat mukena dulu." kata Selomita yang sudah selesai mengerjakan ibadah nya.
" Riska belum bangun?" tanya Alena.
" Kayaknya lagi mandi." jawab Selomita.
" Ya udah kita ke rumah sebelah, liat Riski sama Johan." ajak Alena.
Lalu mereka keluar dari kamar kost, menuju rumah Riski dan Johan yang letaknya bersebelahan.
Rumah yang mereka tinggali berbahan dasar anyaman bambu, dengan atap rumbia. Mereka memang berada di pelosok NTT. Sungguh sangat jauh dari hingar bingar kehidupan kota.
Riski dan Johan sudah rapi di depan ruang tamu. Ukuran rumah yang mereka tempati lumayan cukup besar dengan dua kamar dan satu kamar mandi serta ruang dapur yang menyatu dengan ruang tamu.
Hidup di desa terpencil yang jauh dari modern, dan minim listrik. Mereka hanya menggunakan lampu sebagai penerangan. Dan tidak ada mesin air, hanya sumur yang mereka gunakan untuk mengambil air. Kalau mau mandi ya harus menimba dulu sampai airnya penuh.
" Riska lama banget sih, kita kan mau nyari sarapan." ujar Alena yang sudah melihat arlojinya.
" Dia lagi berendam kali di sumur." ledek Johan.
" Ish, ini semua karena kamu Sel. Kalau aja kamu gak nawarin dia hanya karena Riski masuk kelompok kita. Kita gak akan kerepotan gini." ucap Alena sambil melirik Riski.
__ADS_1
Sebenarnya Alena pun suka sama Riski, namun Alena tidak manja seperti Riska. Dia biasa hidup mandiri.
" Loh kok aku, aku kan hanya nyari orang." kata Selomita yang tidak mau di salahkan.
" Udah, ah kalian ribut aja." ucap Riski menengahi.
" Eh kalian udah pada ngumpul ya..!!" kata Riska seperti tidak menyadari menjadi bahan pembicaraan teman-temannya.
" Udah berendem di sumurnya?" ledek Alena.
" Ih Len, kok kamu jadi ketus gitu sih sama aku?" kesal Riska dengan sikap Alena.
" Kamu harus profesional, disini bukan di rumah kamu. Tapi kita mau kerja, dan penolong masyarakat." ucapa Alena tegas.
" Iya, iya. Aku kan masih adaptasi, air disini dingin banget." kata Riska.
Mereka pun berjalan menuju rumah penduduk, berharap ada yang menjual makanan.
" Kalian orang baru?" tanya salah satu pemuda desa yang tubuhnya lumayan kekar. Dengan kulit eksotis seperti nya dia bukan asli orang NTT.
" Iya, kami siswa magang dari Jakarta." jawab Johan yang berada paling depan.
" Oh, perkenalkan aku Hari Salomon. Anak kepala desa." kata pemuda bernama Hari.
__ADS_1
" Oh, aku Johan, ini Riski, Riska, Selomita dan Alena." kata Johan yang menunjuk temannya satu persatu.
" Kalian mau kemana?" tanya Hari.
" Kami mau cari makan, apa kamu tahu warung sekitar sini?" tanya Riski.
" Disini gak ada warung ataupun kafe." jawab Hari.
" Lalu kalau kami membeli makanan dimana?" tanya Alena.
" Kalian bisa memancing ikan di laut." kata Hari,
" Apa memancing?" tanya Riska sambil menyipitkan keduanya matanya seolah-olah kaget.
" Iya, " jawab Hari, " Warung berada di kota, biasa kami hanya membeli beras, untuk lauk kami memancing atau menyabut hasil kebun.'
" Disini belum ada kulkas untuk menyimpan makanan beku. Jadi kalau mau makan lauk kita hanya tinggal mancing ikan di laut." ujarnya.
" Ya ampun, berarti kita harus beli beras dulu ya." kata Riska.
" Ya sudah kamu bisa gak jadi guide kita sementara, " kata Selomita meminta pada Hari.
" Bisa, dengan senang hati." kata Hari yang tersenyum ke arah Selomita.
__ADS_1
-
Silakan like dan berikan komentar mu.