
" Ken, kamu ngapain ke sini?" tanya Ujang yang melihat Niken membawa rantang, seperti biasa dia akan selalu membawa makanan ke tempat Dido.
" Mau ketemu Dido, Lah..!!!" ujar Niken penuh percaya diri.
" Memangnya kamu belum dapat surat pengunduran diri?" tanya Ujang.
" Maksud mu?" balik Niken bertanya, dia bingung dengan pertandingan yang di ajukan oleh Ujang.
" Kemarin Den Dido bilang sudah memecat mu, dan kau tidak perlu lagi datang ke kantor." jelas Ujang yang langsung masuk ke dalam mobil milik Pak Condro. Karena tugas Ujang mencuci mobil sudah selesai. Maka dia di tugaskan mengantar majikannya ke pasar.
" Ih tuh orang dia yang ngajak ngobrol, kenapa aku yang di tinggalin ya." geram Niken.
Tanpa memperdulikan omongan Ujang, Niken berjalan ke kantor Dido.
" Tok, tok, tok..." suara ketukan pintu di kantor Dido.
" Do, " panggil Niken yang kepalanya sudah masuk saat dia membuka pintunya.
" Ada urusan apa kamu kesini" tanya Pak Condro dengan suara bassnya.
__ADS_1
" Eh bapak, aku kira Dido. " kata Niken dengan suara yang manja-manja.
" Dido sedang ada urusan, ada apa kau kesini?" kembali Pak Condro bertanya.
" Mau kasih ini ke Dido Pak, " jawab Niken.
" Kau tidak usah repot-repot, Dido sudah sarapan." kata Pak Condro , " Berikan pada Sapri " perintahnya sambil mendorong rantang yang di taruh Niken di atas meja.
" Tapi pak, saya khusus membawa untuk Dido." kata Niken.
" Niken, kau sudah di pecat oleh Dido. Sebaiknya jangan kembali lagi ke sini?" ucap Pak Condro memberi penegasan pada sikap Niken.
" Apa, aku di pecat? Salah aku apa pak?" tanya Niken sambil berpura-pura mengeluarkan air mata buaya.
" Kesalahanmu hanya Dido yang tahu, aku juga tidak mengerti. Soal nya tadi Dido berpesan seperti itu." kata Pak Condro yang sebenarnya sudah mengetahui sikap Niken pada Dido. Namun dia tidak ingin membahasnya, pasti akan merugikan buat Dido.
" Apakah Dido tidak cerita ke bapaknya?" batin Niken yang melihat ke arah Pak Condro dengan tatapan sinis.
Lalu Niken keluar dari kantor dengan wajah yang kesal.
__ADS_1
" Awas kau Do, untung aku sudah merekam semuanya." batin Niken seraya tersenyum licik.
Niken mengambil gambar Dido saat dia sedang menggerayangi tubuh Dido. Ketika Dido mulai memejamkan kedua matanya, tangannya menekan tombol kamera di ponselnya. Durasinya memang tidak panjang, namun jelas ada gambar dirinya dan juga Dido. Dengan cara itu, dia akan memiliki Dido seutuhnya.
Niken menunggu kedatangan Dido, seperti nya pak Condro sedang berbohong. Karena sampai cahaya matahari tepat berada di atas kepalanya. Tak nampak kehadiran Dido. Sambil melihat arloji di tangan nya, Niken pun pulang ke rumah.
Dido sedang berada di rumahnya, dia masih merasa tidak enak badan. Sejak kepulangan dari kota, wajahnya tampak murung. Kesalahpahaman yang sudah di timbulkan Niken belum terselesaikan. Sedangkan dia belum dapat kabar dari Fania. Harapan satu-satunya adalah kakaknya. Fania pasti bisa membujuk Selomita agar dapat memaafkannya. Akhirnya Dido bangkit dari tidurnya, dia akan mencoba ke rumah Mak Inah. Jika memang Niken sudah ke rumah Mak Inah, dia bisa menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Motor nya melaju melewati jalan di pedesaan, menyusuri anak sungai yang arusnya tenang.
Saat di pertemuan jalan, Dido bertemu dengan Niken. Niken menghadangnya dengan berdiri tepat di depan motor Dido.
" Hey kau mau mati?" teriak Dido.
" Do, apa kamu uda lupa soal kejadian kemarin?" tanya Niken yang berjalan menghampiri Dido.
-
Like sebanyak-banyaknya ya guys, dan berikan komentar mu untuk karya author.
__ADS_1