
"Dido!" sahut Dika yang terkejut melihat Dido bergandengan dengan Selomita.
"Kalian?" tanya Dido ragu, sambil menunjuk jari telunjuk ke arah Anggita dan Dika.
"Kami sudah menikah, tapi itu terpaksa! Karena Anggita sudah hamil," ucap Dika dengan nada suara menyesal.
"Jadi kamu menyesal? Ini semua juga hasil perbuatan mu," kesal Anggita sambil menunjukkan jari telunjuk ke arah Dika.
"Sudah, sudah." Dido mencoba melerai. "Sekali lagi selamat, ya!" kata Dido seraya mengulurkan tangannya ke arah Dika.
"Hey, Sel!" sapa Dika. "Kamu sibuk apa sekarang?" tanya Dika dengan suara yang lembut dan ingin menjabat tangan Selomita.
"Hey, jangan ganggu pacarku!" bentak Dido seraya menepis tangan Dika.
"Aku sibuk kuliah," jawab Selomita sambil tersenyum.
"Kalian lagi ngapain di sini?" tanya Anggita menyela pembicaraan, seraya mengelus perutnya yang sudah membesar.
"Mau nonton," jawab Selomita.
"Aduh, perut ku kok sakit, ya!" lirih Anggita sambil memegang perutnya yang mulai mengeras.
"Berapa usia kehamilan mu?" tanya Selomita sambil memegang perut Anggita.
"Sembilan bulan." Anggita menjawab sambil meringis menahan sakit.
"Coba ku periksa," kata Selomita. "Dika, tolong kau carikan bangku di dalam!" perintah Selomita, agar Dika meminjamkan bangku ke dalam toko.
Lalu Dika masuk ke toko dan meminjam bangku. "Ini bangkunya," panik Dika.
__ADS_1
"Duduk Anggi, biar aku periksa." Selomita sembari meraba-raba perut Anggita.
"Apa kau mengerti, Sel?" tanya Dika seraya memperhatikan Selomita sedang meraba perut Anggita.
"Dia calon dokter kandungan dan kemarin baru saja pulang magang di NTT." Dido menjelaskan.
"Oh, kebetulan sekali. Bagaimana keadaannya?" tanya Dika yang terlihat cemas.
"Seperti nya sudah waktunya, sebaiknya kau bawa ke rumah sakit." Selomita menyarankan kepada Dika. "Sebaiknya cepat, karena sudah keluar air!" perintah Selomita yang melihat cairan di lantai.
"Ah, sakit Sel!" lirih Anggita sambil memegang pundak Selomita.
"Dika, Dido kau bawa Anggita," kata Selomita yang langsung bangun dari jongkoknya.
Dido dan Dika memapah Anggita, dan membawanya ke dalam mobil. Selomita membawa tas jinjing milik mereka. Dido dan Selomita pun membantu mereka menuju rumah sakit. Acara nonton di bioskop mungkin akan di batalkan lagi.
"Aw, sakit perutku!" pekik Anggita. "Rasanya mules." Suara Anggita meringis kesakitan.
Anggita menurut dengan perintah Selomita, dia merebahkan tubuhnya di bangku. Selomita pun duduk di sampingnya.
"Apakah rumah sakitnya masih jauh?" tanya Selomita.
"Seperti nya di depan ada rumah sakit, tapi sial macet," kata Dika yang panik melihat Anggita akan melahirkan di tambah ada kemacetan di hadapannya.
Kalau mereka memakai mobil ambulance mungkin para pengendara yang lain akan menyingkir dengan suara sirine. Sayang nya mereka memakai mobil pribadi, sehingga tidak ada yang tahu akan ada wanita yang mau melahirkan.
"Baiklah, buka celanamu. Biar aku tangani bayinya dulu. Karena tidak mungkin kamu berjalan keluar dari mobil," kata Selomita yang langsung sigap membuka celana Anggita.
"Dido, kau bisa turun cari bantuan ambulans?" tanya Selomita.
__ADS_1
"Bisa," jawab Dido.
"Bagus, kau cari ambulan terdekat. Aku tidak ingin kau melihat wanita yang bukan muhrim, melahirkan di dalam mobil," ujar Selomita.
"Secepatnya ya, Do!" titah Selomita
Dido langsung keluar mobil dan bergegas mencari ambulan di rumah sakit terdekat.
Selomita menjalankan tugasnya, sebagai seorang dokter kandungan. Selomita memang sudah pernah mengurus beberapa kasus melahirkan sewaktu di desa. Jadi untuk saat ini dia tidak panik lagi, karena sudah berpengalaman.
Selomita terus memberi aba-aba pada Anggita.
"Dika, kau membeli perlengkapan apa saja?" tanya Selomita.
"Kain, baju bayi dan celana," jawabnya.
"Cepat keluar kan kain, untuk menutupi tubuh Anggita!' perintah Selomita. Dika langsung mencari kain yang di taruh di belakang bagasi.
"Em... Sakit, Sel!" keluh Anggita.
"Sabar Nggi, aku akan beri aba-aba. Pada hitungan ke tiga kamu tarik nafas." Selomita sambil memeriksa jalan lahir. Dia ingin mengecek sudah pembukaan yang ke berapa. Tetapi sebelumnya dia mencuci tangan nya terlebih dahulu.
"Maaf ya, Nggi! Karena darurat, maka aku tidak menggunakan sarung tangan," kata Selomita
"Enggak apa-apa, yang penting anakku selamat," ucap Anggita seraya menahan sakit di perutnya.
Dika sudah memberikan kain, dan kini melajukan mobilnya perlahan maju ke depan.
Kemacetan yang sungguh parah di ibukota, pada saat jam istirahat makan siang.
__ADS_1
-
Silakan like dan komentar nya ya,