
Sesampainya di kampus, Selomita langsung pamit pada Dido.
"Mas, aku sekolah dulu." Selomita mencium punggung tangan Dido.
"Kalau sudah mau pulang, kamu langsung telpon aku. Biar nanti aku jemput," ucap Dido.
"Iya," jawab Selomita.
Lalu Dido pergi meninggalkan Selomita, yang sudah berjalan ke dalam kampusnya.
Teman-teman Selomita tidak ada yang tahu, jika dirinya telah menikah dengan Dido. Karena acaranya di adakan khusus untuk keluarga besarnya. Jika Selomita sudah menyelesaikan kuliahnya, Dido berencana akan mengadakan pesta besar-besaran.
"Sel, kamu kok baru masuk?" tanya Alena yang menghampiri Selomita di kantin.
Biasanya mereka menunggu mata kuliah pertama di kantin.
"Iya, aku ngajuin cuti seminggu untuk pulang ke desa," jawab Selomita.
"Sel, kemarin aku melihat Hari di depan kampus," ucap Alena memberitahu Selomita.
"Hari, mau apa dia?" tanya Selomita dengan ekspresi wajah yang terkejut.
"Enggak tahu, mungkin nyariin kamu. Tapi aku gak samperin dia, takut dia malah nanya sama aku," ujar Alena.
__ADS_1
"Baguslah, sebaiknya jangan kau beritahu."
Selomita tidak membaca surat yang di berikan oleh Hari. Karena dia telah membuangnya sebelum membacanya. Jadi dia tidak tau isi surat yang telah di tulis oleh Hari.
"Ya sudah, nanti aku pesankan pada teman-teman jika bertemu Hari, agar jangan beritahu dia tentang keberadaan kamu," ujar Alena.
"Terima kasih, karena aku tidak ingin terjadi masalah dengan suamiku," ucap Selomita yang keceplosan.
"Apa! Suami?" tanya Alena.
"Eh, udah waktunya masuk kelas. Aku masuk dulu." Selomita langsung bangkit dan berjalan meninggalkan Alena.
Alena masih penasaran dengan penuturan Selomita. "Maksudnya calon suami, mungkin!"
Selama mengikuti mata kuliah, pikiran Selomita menjadi tak tenang saat mendengar kedatangan Hari di kampusnya.
Usai dosen menjelaskan, seluruh mahasiswa pun berhamburan keluar kelas.
"Selomita, bisa kamu ke sini?" panggil dosen yang bernama Aryani, dia adalah asisten dosen yang sedang mengganti kan Pak Budiman.
Selomita langsung menghampiri Aryani, yang berada di bangku.
"Iya, Bu!" jawab Selomita yang telah berdiri di depan Aryani.
__ADS_1
"Aku perhatikan, kamu tidak menyimak pelajaran yang aku berikan. Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Aryani seraya menatap intens ke arah Selomita.
"Oh iya, maaf." Selomita menjawab seraya menundukkan kepalanya, dia merasa bersalah karena tidak menyimak penjelasan dari Aryani.
"Apa ada masalah?" tanya Aryani mengulang. "Kamu sudah masuk semester terakhir, aku harap kau bisa menyelesaikan masalahmu. Karena seorang dokter profesional, tidak boleh melibatkan masalah pribadi ke dalam urusan pekerjaan." Aryani menjelaskan kepada Selomita.
"Baik, Bu! Terima kasih atas sarannya," jawab Selomita.
"Iya sudah, kamu boleh pergi. Sebaiknya kamu tanya teman mu soal materi tadi," sambung Aryani.
"Baik, Bu." Selomita langsung pergi meninggalkan Aryani.
Selomita langsung bergegas menuju kantin, dia menunggu kata kuliah yang kedua.
"Sel, kok wajah kamu murung gitu?" tanya Johan yang telah duduk di samping Selomita.
"Ah, masa!" jawab Selomita seraya tersenyum tipis.
"Kamu lagi ada masalah?" tanya Johan.
"Iya," jawab Selomita.
"Masalah apa? Barangkali aku bisa membantu mu," ucap Johan menawarkan diri.
__ADS_1
"Kata Alena, kemarin dia melihat Hari datang ke kampus ini," ucap Selomita menjelaskan.
"Apa? Kok dia nekat banget, sih!" Johan terkejut dengan jawaban Selomita.